Selasa, 20 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Esai

Membangun Etos Kerja Pemuda

Oleh Dany Ali Syafi’i*

Selasa, 06 Nov 2018 01:05 | editor : Abdul Basri

Membangun Etos Kerja Pemuda

ADA dua kecenderungan dalam karakteristik etos kerja kaum muda saat ini. Pertama, etos kerja generasi muda–dalam arti yang lebih spesifik berarti komersial–mereka menganggap sebagai sesuatu yang compulsory, yang dikerjakan untuk tujuan hidup dan lebih banyak untuk kepentingan pribadi.

Kedua, sebaliknya, etos kerja mereka didedikasikan sebagai komitmen moral yang unimperative. Dikerjakan dengan kesadaran dan keikhlasan untuk kepentingan komunal. Dengan harapan, ada pihak lain yang ikut merasakan hasilnya.

Studi dan penelitian tentang kecenderungan di atas memang relatif jarang dilakukan. Kendatipun ada, jarang dipublikasikan hasilnya. Namun demikian, ada fenomena menunjukkan bahwa tren etos kerja kaum muda kini bergeser dan cenderung pada pola etos kerja compulsory dan secara kasatmata jelas untuk kepentingan hidup dan bersifat pribadi, dan kelompok kecil atau golongan maupun komunitasnya saja.

Dugaan kuat penulis, fenomena tersebut akibat kungkungan kurikulum di semua lini dan jenjang pendidikan dari tingkat menengah pertama–atas (SMP-SMA) sampai perguruan tinggi yang tidak luwes merespons perkembangan zaman. Pembinaan generasi muda masih saja berbau sentralistik dan sangat kental dengan executive planning yang dibungkus rapi dengan kemasan political will. Dengan demikian, semua harus tunduk terhadap kemauan rezim penguasa. Juga akibat tradisi politik yang –dari masa-ke masa– masih saja bersolidaritas vertikal ditambah faktor lain yang juga menyeret kebiasaan dan anggapan kaum muda ke arah etos kerja individualistis.

Padahal, para kelompok profesional (termasuk di dalamnya kaum muda) yang berstatus sosial dan pendidikan lebih tinggi seharusnya punya komitmen moral dan mempunyai kesadaran diri, mempunyai keputusan pribadi dalam etos kerja mereka. Artinya, mereka bekerja, berkarya, berkreasi atas kesadaran diri yang timbul bukan karena paksaan dan kungkungan elite politik. Komitmen moral inilah sebenarnya yang harus mereka miliki sedini mungkin.

Karena komitmen moral generasi muda menyangkut kesadaran, kebiasaan, bahkan kebutuhan yang harusnya membentuk kepribadian dan karakter kebangsaan. Kaum muda harus melandasi sikap, pola pikir, tingkah laku, selama terlibat dan berinteraksi di tengah pergulatan profesi masing-masing. Di sinilah etos kerja pemuda, kaum muda atau generasi muda sebagai pilar penting penopang masa depan bangsa ini. Dari etos kerja kaum muda ini juga masa depan bangsa bisa terbangun. Dengan demikian, harapan untuk kaum muda sebagai agent of change bukan hanya pepesan kosong. Pendek kata mereka harus menjadi bagian yang inspiratif.

Karena dalam profesi apa pun kelak, etos kerjanya tidak akan menjadi siksaan atau penjara terselubung bagi dirinya sendiri. Selama ia menyadari keterikatannya pada komitmen awal, karena telah menempatkan diri pada suatu dataran tertentu yang menimbulkan semacam kewajiban, sebagai suatu yang inheren dalam berkomitmen.

Logisnya, pada tahap awal, generasi muda tidak mungkin untuk menjadi profesi yang benar-benar profesional dan terikat dengan komitmen moral secara utuh seperti di atas. Jika ia masih berkubang di ”jalur kering” dan harus merogoh biaya operasional sebagaimana profesi guru dan dosen.

Karena itu, untuk membangun etos kerja mandiri, generasi muda yang berkomitmen moral tentu bisa dilakukan pada tahap awal dengan kebijakan penyegaran dan penyesuaian kurikulum dan silabus di sekolah dan perguruan tinggi yang selama ini terasa statis. Selanjutnya, bisa dilakukan pembinaan dengan menanggalkan model executive planning dan strategi sentralistik serta tradisi politik yang bersolidaritas vertikal (father knows the best).

Harapannya adalah bisa memacu kreativitas generasi muda sesuai kualifikasi kemampuannya. Sebagaimana Kurikulum 2013 di tingkat sekolah menengah yang –konon–kehadirannya tidak hanya memperkaya diskursus intelektualitas guru. Ia dirancang dalam upaya mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045 (100 tahun Indonesia merdeka). Sekaligus menyambut momentum populasi usia produktif yang diperkirakan jumlahnya sangat produktif  sebagai nilai tambah demografi dan tidak justru menjadi bencana demografi (Muhammad Nuh: 2013).

Dengan demikian, penanaman komitmen moral di tengah upaya perubahan sistem pendidikan tanpa memberikan kesan bahwa komitmen moral tersebut merupakan kewajiban, yang justru menambah siksaan dalam etos kerja kaum muda.

Dalam kekinian Indonesia, komitmen moral dalam etos kerja kaum muda adalah komitmen moral yang orientasinya pada pembangunan sikap mental dan integritas serta karakter kebangsaan yang sedang rapuh di segala aspek. Penanaman komitmen tersebut harus dimulai dari pertama, lembaga pendidikan/perguruan tinggi sebagai pusat riset teknologi, pusat pemeliharaan, dan pengembangan iptek untuk berorientasi pada kepentingan bangsa jauh ke masa depan.

Kedua, mendidik mahasiswa untuk mandiri, berjiwa pengabdian, dan berjiwa entrepreneurship. Ketiga, menggiatkan mahasiswa agar mindset mereka tertata sehingga tampak jelas corak dan kepribadian bangsa Indonesia. Terakhir, mengembangkan tata kehidupan kampus yang memadai; berkarakter, berintegritas tinggi sehingga kelak dapat membawa manfaat besar bagi kemajuan bangsa ini. (*)

*)Mahasiswa S-1 AntropologiFISIPUniversitas Airlangga, asal Suwaan, Modung, Bangkalan.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia