Selasa, 20 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Kolom

Kamal Takkan Mati

Oleh: Bahrul Ulum

Sabtu, 03 Nov 2018 12:14 | editor : Abdul Basri

Bahrul Ulum Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Bahrul Ulum Wartawan Jawa Pos Radar Madura

PRO-KONTRA dalam mengambil kebijakan itu wajar. Salah satunya kebijakan Presiden Joko Widodo mengubah status jalan Tol Suramadu menjadi jalan non-tol. Kebijakan itu menjadi perbincangan hangat seantero nusantara.

Lebih-lebih masyarakat Jawa Timur (Jatim). Khususnya warga Madura. Mulai dari abang becak, kuli bangunan, loper susu, hingga aktor atau lakon yang mengenakan celana kain, dipadukan dengan setelan jas dan dasi.

Semuanya berdiskusi tentang penggratisan tarif jembatan penghubung Pulau Jawa dengan Madura. Satu sisi, penggratisan tarif Suramadu bakal mempercepat peningkatan pertumbuhan ekonomi Madura. Di satu sisi mereka menilai perekonomian kawasan Kecamatan Kamal bakal merosot. Sebab, penumpang feri di Pelabuhan Kamal terus alami penurunan.

Jika kita kembali ke masa lalu, sebelum Suramadu beroperasi, penumpang feri di Pelabuhan Kamal selalu ramai. Lebih-lebih ketika momentum arus mudik dan balik. Juga momentum perayaan tahun baru.

Aktivitas bongkar muat feri di Pelabuhan Kamal memang tinggi. Bahkan, mengakibatkan antrean sepanjang 4 kilometer dari hingga Desa Gili Anyar. Apakah dengan sepinya pelabuhan dan Terminal Kamal membuat perekonomian merosot? Tentu saja tidak. Kamal memiliki bangunan megah dan penghuninya mencapai puluhan ribu.

Deretan beberapa gedung megah. Serta terdapat satu gedung menjulang ke langit hingga lantai 10. Itu adalah lembaga pendidikan dengan nama Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Jumlah mahasiwa di kampus terbesar di Madura itu mencapai 17.500.

Sekarang kita mulai berhitung. Harga seporsi nasi plus minum Rp 10 ribu. Sehari makan tiga kali. Jadi per hari mengeluarkan uang Rp 30 ribu untuk makan dan minum. Jika ditotal  urusan perut saja mahasiswa harus merogoh gocek Rp 900 ribu per bulan. Kemudian ditambah sewa kos Rp 250 ribu per bulan. Belum lagi bahan bakar kendaraan, uang pulsa, dan tetek bengek lainya.

Anggap saja hitung tipis-tipis uang saku mahasiwa Rp 1,5 juta per bulan. Sementara jumlah mahasiswa 17.500. Hasilnya mencapai Rp 26,25 miliar per bulan. Itu suma sebulan loh ya, belum setahun.

Sementara jumlah penduduk se-Kecamatan Kamal –sesuai data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Bangkalan hingga September 2018– mencapai 50.423. Perinciannya, dewasa di atas 17 tahun mencapai 37.271 dan usia di bawah 17 tahun mencapai 13.423 jiwa.

Jika biaya hidup golongan dewasa Rp 1 juta per bulan dikalikan 37.271, hasilnya Rp 37,27 miliar. Jika uang saku anak di bawah usia sweet seventeen Rp 250 ribu dikalikan 13.423, hasilnya Rp 3,35 miliar.

Jika ditotal dengan variabel Rp 26,25 ditambah Rp 37,27 miliar. Selanjutnya ditambah uang saku anak bau kencur di bawah usia 17 tahun senilai Rp 3,35 miliar. Hasilnya mencapai Rp 56,87 miliar.

 Dana puluhan miliar itu mereka gunakan untuk memenuhi kebutan hidup di kawasan Kecamatan Kamal. Dengan jumlah uang beradar (JUB) mencapai Rp 56,87 miliar, masih mau bilang perekonomian lesu?

Jika Pemkab Bangkalan sedikit cerdas membaca potensi, seharusnya pemangku kebijakan membuat mainan baru di kawasan Kamal. Seperti, membuat kios-kios atau semacam deretan kafe di kawasan UTM. Juga, bisa membuat kafe-kafe di kawasan Pelabuhan Kamal hingga Desa Tanjung Jati. Untuk kafe di kawasan kamal Posisinya harus berada di bibir pantai. Sehingga memiliki view Selat Madura.

Masyarakat bisa menyewa kafe atau deretan kios saban tahun. Kemudian, dermaga barat Pelabuhan Kamal bisa dibangun destinasi wisata bahari. Seperti Wahana Bahari Lamongan (WBL). Kemudian kapal-kapal feri itu bisa digunakan untuk wisatawan.

Jika kurang modal bisa menggandeng investor. Izinnya jangan dipersulit. Jika Wisata Bahari Kamal benar-benar terwujud, sudah pasti JUB di Kamal bisa meningkat berkali-kali dari Rp 56,87 milar. Serta mendatangkan berkah tersendiri bagi masyarakat.

Mulai dari pedagang, tukang parkir, petugas keamanan, loper susu, hingga penginapan. Dengan begitu, pendapatan masyarakat kian meningkat. Pemkab Bangkalan juga bisa menerima PAD besar dari kawasan Kamal.

Kita tunggu saja kesaktian Pemkab Bangkalan. Apakah pandai memanfaatkan kesempatan besar ini. Ingat, meski tarif Suramadu Rp 0, perekonomian Kecamatan Kamal tidak akan lesu. Kecamatan Kamal akan terus berkembang. Pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat.

Jika Pemkab Bangkalan cerdas dan serius memajukan Kamal, tidak ada suatu negara atau daerah yang tidak maju. Yang ada salah dalam mengelolanya. Pangapora raja. Mator sakalangkong.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia