Selasa, 11 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Features

Thoriq Aziz Jayana, Penulis Muda Produktif Asal Pamekasan

03 November 2018, 11: 46: 58 WIB | editor : Abdul Basri

SANTAI: Thoriq Aziz Jayana sedang membaca buku baru yang ditulis bersama Anis Billah di teras rumahnya di Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Kamis (1/11).

SANTAI: Thoriq Aziz Jayana sedang membaca buku baru yang ditulis bersama Anis Billah di teras rumahnya di Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Kamis (1/11). (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

PAMEKASAN - Radar Madura.id  menyambangi rumah Thoriq Aziz Jayana, Kamis (1/11). Saat ditemui dia sedang mengenakan sweter kombinasi kuning hitam. Anak kedua dari empat bersaudara itu keluar dengan pakaian sederhana.

Terlihat wajah kusam seperti baru selesai beristirahat. Setelah berjabat tangan, dia masuk lagi untuk mengambil bukunya yang baru diterbitkan. Kemudian tiga buku dengan cover merah itu diletakkan di atas meja.

Buku berjudul Tuhan, Aku Tak Pantas Masuk Surga itu ditulis bersama Anis Billah. Buku ini berisi tentang perilaku-perilaku sehari-hari yang membuat seserorang terjerumus pada perbuatan dosa besar. Mayoritas buku-buku yang ditulis mengandung motivasi. Buku-bukunya banyak nangkring di rak toko buku dan lapak jual beli online.

Penulis muda ini kini sedang menempuh pendidikan pascasarjana di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Pemuda 23 tahun asal Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, ini mengaku tidak punya cara khusus dalam menghasilkan sebuah karya.

Semua tulisan yang diterbitkan merupakan luapan pemikiran yang terserap dari apa yang dia baca. ”Awalnya saya tidak punya maksud untuk menulis. Apalagi sampai menerbitkan buku. Hanya, waktu SMA saya suka membaca buku,” tutur alumnus MAN 2 Pamekasan itu.

Kebiasaan itu membuahkan banyak tulisan.Catatan yang ditulis di kertas kemudian dikumpulkan dan disusun menjadi satu.Pada saat itulah, dia mulai berpikir untuk menerbitkan tulisannya berupa buka.

”Setelah disusun, kemudian saya mencoba menghubungi penerbit. Semua penerbit yang saya tawari menolak. Tapi, saya tetap berusaha mencari penerbit lain,” ujarnya.

Beberapa bulan kemudian, ada penerbit yang bersedia menerbitkan tulisannya.Desember 2015 buku pertamaditerbitkan saat dia kuliah semerter lima di STAINPamekasan. Buku pertama yang terbit pada 7 Desember 2015 berjudul Meneladani Semut dan Lebah.

Setahun kemudian menyusul buku Ketika Ibu Telah Tiada. Selama 2017 dia semakin produktif. Tiga buku diterbitkan dalam setahun. Masing-masing berjudul Setapak Akhir Zaman (10 Desember), Jangan-Jangan, Dia Jodohmu (18 Mei), dan Tuhan, Aku Titip Ibu (1 Oktober).

Ketika Ibu Telah Tiada dan Tuhan, Aku Titip Ibu dia persembahkan kepada ibunya, Sunarti, yang meninggal saat Thoriq semester lima. Tahun ini semangat menulisnya semakin membara. Februari lalu menelurkan buku berjudul Musibah atau Anugerah: Melihat Surga di saat Musibah. Sebulan kemudian disusul Adab dan Doa Sehari-hari untuk Muslim Sejati. Agustus terbit Give Me Second Chance. Dan terbaru Tuhan, Aku Tak Pantas Masuk Surga (5 November).

Menurutnya, menulis tidak perlu memperhatikan aturan kepenulisan. Jika memiliki keinginan menulis tidak harus mengetahui metode. Pengetahuan yang ada dalam pikiran dengan sendirinya akan mengalir.

Inti dalam menulis itu adalah membaca. Walaupun tidak tahu metode menulis tapi banyak membaca akan mengalir dengan sendirinya. Tulisan orang yang pernah dibaca secara tidak langsung akan terekam dalam pikiran. ”Kalau mau nulis, ya nulis saja. Yang tepenting adalah suka membaca. Saya belajar menulis otodidak,” terangnya.

Awal Thoriq menulis karena hobi. Ketika mengetahui arti pentingnya sebuah karya, dia baru punya niat menjadikan tulisan sebagai media dakwah. Dengan begitu, ketika menulis buku tidak hanya menyalurkan hobi, tapi sekaligus berharap mendapatkan pahala.

Beberapa buku yang sudah diterbitkan menginspirasi kalangan pemuda. Beberapa temannya juga tertarik menghasilkan sebuah karya. ”Kadang ada yang berhasil diterbitkan. Ada juga yang gagal karena naskahnya ditolak penerbit,” ungkapnya.

Tak jarang buku dari hasil pemikirannya dijadikan referensi mahasiswa. Saat ini Thoriq terus menulis. Tidak hanya buku, dia juga menulis jurnal. Hasil penelitiannya sudah diterima di beberapa penguruan tinggi. 

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia