Selasa, 11 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Santri Representasi Pendidikan Pesantren  

Oleh: Suwantoro*

03 November 2018, 00: 12: 11 WIB | editor : Abdul Basri

Santri Representasi Pendidikan Pesantren  

PESANTREN merupakan salah satu pendidikan Islam tradisional yang ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana bunyi tujuan pendidikan nasional. Sebagai bagian dari lembaga pendidikan, pondok pesantren memiliki karakteristik berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Hal ini bisa kita lihat dari sistem atau pola yang dibangun dalam memberikan pemahaman terhadap beberapa keilmuan dengan membentuk kultur yang  sangat kuat berlandaskan nilai agama, moral, dan sosial.

Dari sisi historis, pesantren merupakan bentuk lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Di usianya yang cukup lama, diakui atau tidak sudah banyak kiprah dan kontribusi besar yang telah diberikan kepada masyarakat. Salah satunya bisa kita lihat dari sisi kemampuan pesantren dalam mencetak kader-kader bangsa yang andal dan mampu dalam bidang agama sebagaimana lazimnya ataupun di bidang lain yang lebih fantastis seperti halnya dalam panggung kepemimpinan nasional.

Secara umum, orientasi utama dalam pendirian pesantren selain sebagai tempat menampung santri untuk menimba ilmu agama, pesantren juga dikenal sebagai sarana untuk melatih mental, kemandirian serta kedisiplinan yang terikat dalam budaya pesantren hingga terbentuk sebuah pola kebiasaan dalam diri santri yang akhirnya juga ikut mewarnai aspek hidupnya ketika kembali bermasyarakat.

Dari sinilah kemudian munculnya persepsi bahwa keberadaan santri secara umum adalah akibat dari penerapan pendidikan pondok pesantren. Santri merupakan tolok ukur keberhasilan pendidikan pesantren. Semakin ia mampu menunjukkan pola sikap dan pola fikir kesantriannya secara kontinuitas, selama itu pula proses pendidikan dalam pesantren dianggap sudah mencapai puncak keberhasilannya, begitu pula sebaliknya. Sejatinya santri adalah satu-satunya produk dari hasil proses pendidikan pondok pesantren.

 

Mengaji dan Mengabdi

Menjalani kehidupan dengan menyandang predikat santri merupakan sebuah pilihan. Ketika seseorang memutuskan untuk berproses dalam pondok pesantren dengan niat untuk menjadi santri, maka ia harus siap menerima beberapa konsekuensi. Santri harus siap mengaji dan mengabdi sebagai bentuk perwujudan eksistensi dirinya ketika berada di dalam pondok pesantren.

Mengaji merupakan aktivitas mengkaji ilmu agama sekaligus juga menjadi ciri khas dari model pendidikan yang melekat pada setiap pondok pesantren dengan titik tekannya pada sikap dan moralitas santri. Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Mastuhu (2013:85) bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam yang bertujuan untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pada pentingnya moral agama sebagai pedoman hidup masyarakat.

Mengabdi merupakan bagian dari aktivitas santri dengan mengerahkan seluruh tenaga dan waktunya untuk kepentingan pesantren tanpa meninggalkan poin pertama (mengaji). Bentuk pengabdian santri sangat beranekaragam disesuaikan dengan kemampuan santri itu sendiri. Seperti membantu pembangunan pesantren, memasak, mencuci sampai memelihara hewan ternak dan bahkan mengurus tanaman di sawah atau di perkebunan milik kiai.

Mengaji dan mengabdi merupakan aktivitas berbeda dan orientasinya tidak sama. Pada poin pertama (mengaji) ini berorientasi untuk memperkaya dan mengembangkan keilmuan santri. Sedangkan aktivitas mengabdi, berorientasi semata-mata hanya untuk mendapatkan rida sekaligus barokah sang kiai yang merupakan dambaan dari setiap santri dalam pondok pesantren.

Menjadi seorang santri adalah sebuah kebanggaan dan memiliki keuntungan tersendiri. Mereka dapat kesempatan untuk mencari ilmu sekaligus mencari barokah dengan cara mengaji dan mengabdi. Keduanya merupakan aktivitas yang hanya bisa dilakukan santri demi pengembangan keilmuan dan pencapaian barokah.

Menjadi Santri yang Kaffah

 Predikat santri beserta seluruh karakteristiknya tidak hanya berlaku pada saat ia menempuh hidup dalam pondok pesantren. Ia akan terus menjadi simbol kepribadian meskipun secara kelembagaan sudah diakui sebagai alumni.

Sebagai sebuah konsekuensi dari pemahaman tersebut, sekali seseorang menjadi santri, maka ia harus tetap menjadi santri (yang baik) selamanya. Sehingga ia pun menjadi santri seutuhnya tanpa memandang ruang dan waktu. Inilah yang menurut penulis disebut dengan santri yang kaffah.

Sebagai produk dari sistem pendidikan pondok pesantren, penting kiranya bagi seluruh santri untuk berpikir kembali melakukan perenungan sehingga ia pun menyadari bahwa eksistensi dirinya adalah sebagai indikator penilaian semua orang terhadap bagaimana gambaran pendidikan pondok pesantren.

Tak pantas bagi santri bertingkah laku yang tak mencerminkan nilai-nilai kesantriannya yang akibatnya hanya akan mencederai hakikat pendidikan pesantren. Santri harus selalu memberikan image positif untuk menjaga nama baik pondok pesantren sekaligus memberikan penguatan terhadap publik bahwa pendidikan pondok pesantren mampu melahirkan kader-kader militan dan berkualitas dari sisi keilmuan yang dilengkapi dengan kesalehan moral dan sosial. (*)

*)Alumnus Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin Laden Pamekasan, mengabdi sebagai dosen IAIN Madura.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia