Kamis, 13 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

Kritik Budaya Negatif Orang Madura

30 Oktober 2018, 13: 23: 22 WIB | editor : Abdul Basri

SANTAI: Sivitas Kotheka menggelar road show literasi bertajuk Tidak Menjadi Madura di Kancakona Kopi, Jalan Lingkar Barat, Kota Sumenep.

SANTAI: Sivitas Kotheka menggelar road show literasi bertajuk Tidak Menjadi Madura di Kancakona Kopi, Jalan Lingkar Barat, Kota Sumenep. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

SUMENEP – Sivitas Kotheka kembali menggelar road show literasi kemarin (29/10). Road show keempat itu dilaksanakan di Kancakona Kopi, Jalan Lingkar Barat, Kota Sumenep. Acara bertajuk Tidak Menjadi Madura tersebut dihadiri puluhan peserta dari berbagai profesi.

Road Show literasi dimoderatori Sugik Muhammad Sahar. Sedangkan Novie Chamelia dan Royyan Julian menjadi pemateri. Tiga sosok itu merupakan penggiat Sivitas Kotheka.

Novie Chamelia menjelaskan alasan mengapa tema Tidak Menjadi Madura diangkat oleh Sivitas Kotheka. Menurut dia, ada tradisi dan kebudayaan di Madura yang bertentangan dengan nilai-nilai etik.

Seperti budaya karapan sapi yang masih memperbolehkan unsur kekekrasan. ”Itu tidak sesuai dengan konsep animal liberation karena menyakiti binatang,” kata Novie.

Royyan Julian menambahkan, setiap binatang merasakan sakit. Karena itu, binatang juga punya hak untuk tidak diperlakukan secara kasar apalagi dengan kekerasan.

Royyan juga menyinggung pernikahan dini. Menurut dia, banyak faktor yang menjadi penyebab pernikahan dini. Di antaranya terkait legitimasi taneyan lanjang. Tradisi pernikahan dini lahir dari lingkungan taneyan lanjang. Selain itu, faktor ekonomi menjadi penyebab tradisi pernikahan dini.

Pernikahan dini, lanjut Royyan, menciptakan lingkaran setan. Sebab, orang yang menikah di usia dini otomatis dia tidak bisa mencicipi pendidikan tinggi. Mereka bisa saja belum siap mengarungi rumah tangga dengan segala problematikanya. ”Dampaknya, dia akan melahirkan anak-anak yang kurang matang,” tambahnya.

Meski mengkritik budaya Madura, imbuh Royyan, bukan berarti Sivitas Kotheka tidak mencintai budaya leluhur. Diskusi kemarin sebagai cara kritik kebudayaan. Dengan kritik, kebudayaan Madura diharapkan lebih baik.

”Itu cara kritik kami terhadap kebudayaan Madura. Kita selektif dalam berbudaya. Kritik itu agar lebih baik,” tukasnya. 

(mr/mam/hud/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia