Kamis, 13 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Resensi

Ide Segar Pemuda Sambut 100 Tahun Indonesia

29 Oktober 2018, 04: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Ide Segar Pemuda Sambut 100 Tahun Indonesia

PADA 2045 Indonesia tepat berumur 100 tahun. Di tahun tersebut, bangsa ini punya mimpi menjadi bangsa besar, mandiri, dan berdaulat. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan strategi mengembangkan bangsa di berbagai bidang. Buku ini merupakan salah satu ikhtiar terkait hal tersebut. Di dalamnya berisi pemikiran, ide serta gagasan alumni dan penerima beasiswa LPDP demi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Banyak bidang menjadi perhatian pemuda yang tergabung dalam Mata Garuda tersebut. Mulai ekonomi, pembangunan SDM, kesehatan, lingkungan, pertanian, pendidikan, hingga energi, dan maritim. Ide dan gagasan ini menarik karena muncul dari pemikiran-pemikiran baru yang segar dan sesuai dengan tantangan yang dihadapi bangsa ini dalam beberapa dekade mendatang.

Bidang ekonomi yang berpotensi besar menjadi kekuatan baru di era teknologi sekarang adalah ekonomi kreatif. Amalia Indah menguraikan langkah untuk mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia, baik bidang infrastruktur, pembiayaan, SDM, dan regulasi. Soal pembiayaan, terbatasnya akses pelaku industri kreatif terhadap layanan perbankan dan kesulitan penjaminan menjadi poin penting yang harus diatasi.

Magister Pascasarjana Ilmu Ekonomi UI tersebut mengungkapkan pentingnya sinergi. ”Perlu suatu diskusi terbuka yang dihadiri perwakilan perbankan, pelaku industri kreatif, dan pemerintah (Bekraf dan OJK) untuk menjembatani kepentingan masing-masing pihak” tulisnya (hlm. 11).

Tema pertanian tak bisa ditinggalkan jika berbicara potensi pembangunan Indonesia. Data BPS, lebih dari 30 persen penduduk Indonesia menggantungkan hidup dari pertanian. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja terbesar, yakni 42,5 persen. Tantangan sektor pertanian adalah meningkatkan komoditas pangan, penurunan kehilangan hasil pada fase pascapanen, dan pemenuhan kebutuhan konsumen. Cara menjawab tantangan tersebut adalah dengan pengembangan KTI (knowledge, technology, and innovation).

Namun, Agung Heru Yatmo menulis, pengembangan KTI di Indonesia kurang maksimal karena sistem pertanian masih mengandalkan pola-pola tradisional serta produktivitas dan kualitas produk masih rendah. Mengembangkan KTI butuh sinergi banyak pihak, dari lembaga riset, penyuluhan, serta penerima teknologi itu sendiri. Di sinilah, Magister Organic Agriculture, Wageningen University tersebut mengungkapkan ide solutif untuk menghubungkan pihak-pihak tersebut dengan Interaction Farming, yakni platform cerdas dan terpusat yang berfungsi sebagai wadah komunikasi aktif antar-pelaku sistem inovasi (lembaga riset perguruan tinggi, LSM, petani lokal) dan pemerintah dalam mengembangkan serta mengimplementasikan KTI (hlm. 195).

Pendidikan menjadi kunci peningkatan kualitas SDM Indonesia. Sakinah Aprilia Dewi memberi perhatian pada sistem pendidikan nasional yang masih kurang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam lokal sebagai sumber materi ajar. Padahal, Indonesia adalah negara dengan kekayaan alam luar biasa. Pemanfaatan sumber alam sebagai materi ajar akan membuat generasi penerus bangsa benar-benar memahami lingkungan alamnya, sehingga kelak mampu mengelola kekayaan alam Indonesia tersebut.

Magister Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang tersebut menggagas beberapa langkah. Di antaranya, menetapkan minimal 30 persen dari materi ajar untuk semua mata pelajaran mengeksplorasi SDA yang berasal dari wilayah sekolah, menggunakan waktu libur untuk lebih mengenal wilayah sekitar, dan melaporkan hasil belajar dari alam dengan sekreatif mungkin. ”Namun, semua pihak harus bersinergi agar gagasan tersebut bisa terlaksana dengan baik,” tegasnya (hlm. 271).

Berbagai potensi, tantangan, peluang Indonesia di berbagai bidang yang ada di buku ini memberi banyak masukan berharga bagi berbagai pihak dalam membangun bangsa ini ke depan. Di samping itu, membaca berbagai ide dan gagasan yang dituangkan anak-anak muda ini juga akan menyadarkan kita akan pentingnya peran aktif dan sinergi semua elemen bangsa untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas di tahun 2045. (*)

AL-MAHFUD

Bergiat di Paradigma Institute (Parist) Kudus.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia