Selasa, 11 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Esai
Language Theater Indonesia

The Rising Star dan Kebangkitan Teater Madura

OLEH AFFAN ADZIM*

29 Oktober 2018, 03: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

EKSPLORASI FOLKLOR: Pertunjukan T.A.T.A.N.D.A Language Theater Indonesia pada Pekan Teater Nasional di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu malam, 7 Oktober 2018.

EKSPLORASI FOLKLOR: Pertunjukan T.A.T.A.N.D.A Language Theater Indonesia pada Pekan Teater Nasional di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu malam, 7 Oktober 2018. (MAHENDRA CIPTA FOR RadarMadura.id)

SEJAK kemunculannya kali pertama, Language Theater Indonesia telah menyiratkan tanda-tanda bakal menjadi the rising star, raksasa teater dari kabupaten tertimur Pulau Madura. Mahendra Cipta, Homaidy Ch, Lukman Hakim AG, adalah beberapa nama yang menjadi tokoh penting di balik lahirnya komunitas ini.

 Language Theater Indonesia lahir pada penghujung 2009. Beberapa tahun sebelum Masyarakat Santri Pesisiran (MSP) dideklarasikan. Mengawali karir, mereka terlibat dalam pentas ”Se-tubuh Daging Tumbuh” (Mataram-Jawa) pada 2010 di Taman Budaya Surakarta. Kemudian, bermain dalam eksplorasi ”Sungkar” pada tahun berikutnya.

Setelah pertunjukan ”Kakuping” pada Parade Teater Madura yang diselenggarakan oleh Kolom Teater Pamekasan 2012, Language Theater kembali terlibat dalam ”Ritus Cola” di  Parade Teater Nusantara Universitas Trunojoyo Bangkalan lima tahun silam.

Pada rentang waktu 2014–2015 mereka juga berkesempatan tampil dalam pergelaran Ron-toron Jilid 1 dan 2 di Teater Institut, Surabaya.

Amin Bashiri yang bergabung kemudian telah menuliskan beberapa catatan tentang jalan panjang heroik perjuangan komunitas ini. Menurut aktor yang pernah menjabat sebagai pengurus Lesbumi PC NU Sumenep ini, Language Theater bagi dirinya menjadi ruang belajar yang membebaskan, tempat pelbagai persoalan didiskusikan dengan sungguh-sungguh dan serius, kemudian dihidangkan di atas pentas pertunjukan.

Language Theater banyak melakukan kritik atas gelombang pasang seni populer, banjir bandang modernisasi, ide global yang berpijak pada gagasan utama ”pembaratan” di semua lini kehidupan. Mereka juga menyentil soal ketidakadilan gender dalam hegemoni orde patriarki yang timpang, hingga diskursus soal kampung-kampung hibrid yang absurd.

Di luar pertunjukan, para aktor intens berkumpul melakukan pelbagai eksperimentasi, menggali ide-ide dasar yang orisinal.

Pementasan mereka di Surabaya ”Makamire; Membaca Naskah Akhudiat ’RE’” di Parade Teater Jawa Timur telah diapresiasi oleh banyak kalangan. Termasuk salah satunya Afrizal Malna. Para kritikus menilai kemunculan Language Theater dan komunitas teater lainnya di Madura diyakini akan memberikan  sumbangan penting bagi khazanah perkembangan teater nasional.

Terakhir kali penampakan mereka muncul dalam selebrasi pekan teater nasional yang dihelat di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu pekan. Tajuk pementasan mereka berjudul T.A.TA.N.D.A. Menurut Mahendra Cipta, pentolan sekaligus pendiri komunitas ini,  T.A.T.A.N.D.A  adalah upaya membaca makna, membaca isyarat semesta yang bersembunyi di balik laku dan gejala.

Sejatinya teater tidak berakhir di atas pentas. Atau berputar-putar di dunia astral. Teater harus menjadi unsur penting dalam kehidupan yang sebenarnya, sebagaimana ia dulu memainkan peran penting dalam persebaran agama di Eropa abad pertengahan.

Language Theater telah melakukannya. Mereka telah bertransformasi dari teater sebagai pertunjukan menjadi teater sebagai realitas. Dunia kehidupan nyata adalah panggung sejati bagi para aktornya. Sementara peran yang ia mainkan menjadi penanda dirinya sepanjang hayat. Selamat! (*)

*)Alumnus MA I Annuqayah, music director Teater K2 UIN Malang (1997), pendamping PSM Instika, mengajar di SMA 3 Sabajarin Guluk Guluk.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia