Kamis, 15 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Features

Berbincang dengan Seorang Empu Keris di Desa Aeng Tongtong

Penghasilan Minimal Rp 10 Juta Setiap Bulan

Senin, 29 Oct 2018 00:17 | editor : Abdul Basri

JPRM  TELATEN: Suliyanto membentuk ukiran keris kemarin. Dia merupakan salah seorang empu keris di Dusun Duko, Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Sumenep.

JPRM TELATEN: Suliyanto membentuk ukiran keris kemarin. Dia merupakan salah seorang empu keris di Dusun Duko, Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Sumenep. (ALI HAFIDZ S/RadarMadura.id)

SUMENEP - Cukup banyak warga Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Sumenep, yang menekuni kerajinan membuat keris. Salah satunya Suliyanto. Dari tangan dia tercipta keris dengan nilai ekonomi hingga ratusan juta rupiah.

Waktu menunjukkan pukul 07.15 Sabtu (27/10). Suliyanto sedang duduk di samping rumahnya. Dia menghadap ke barat, sedang membuat keris.

Berkali-kali Suliyanto memandang keris di tangannya. Suara besi yang dipukul-pukul terdengar jelas. Begitulah saban hari suami dari Masti’ah, 46, itu bergelut dengan besi untuk menghasilkan keris.

”Saya menggeluti pekerjaan membuat keris ini sejak kecil,” ucapnya memulai pembicaraan. ”Orang tua saya juga perajin keris. Saya bersyukur dengan pekerjaan ini saya tak pernah kekurangan,” sambung Suliyanto.

Hasil penjualan keris yang dia cipta dipakai untuk kebutuhan hidup. Selebihnya disimpan sebagai tabungan. Hasil dari membuat keris, Suliyanto bisa menyekolahkan anaknya. Bahkan dia bisa membeli tanah.

”Anak saya sekolah MAN di Sumenep. Alhamdulillah saya juga bisa membangun rumah sendiri,” katanya. Bahkan dia memiliki rumah di Blitar. ”Saya berkeinginan naik haji,” ucap ayah Tri Agus Purnomo, 17, itu.

Pembeli keris buatan Suliyanto ada yang dari Malaysia dan Singapura. Bahkan dulu keris karyanya dibeli orang dari Belanda. ”Untuk saat ini, keris yang saya hasilkan dijual ke Solo, Jakarta, Jogjakarta, dan Bali,” tuturnya.

Harga jual keris karya Suliyanto bervariasi tergantung motif. ”Keris yang ada motif emasnya dan berbentuk naga harganya Rp 125 ribu sampai Rp 150 ribu,” jelasnya.

Dia setiap hari membuat keris. Pernah keris yang dia buat laku Rp 150 juta. ”Itu keris yang istimewa, memakai emas asli 24 karat,” katanya.

”Setiap bulan saya harus berpenghasilan minimal Rp 10 juta. Karena kalau hanya Rp 7 juta, tidak cukup untuk membeli bahan pembuatan keris. Jadi setiap bulan harus terjual 100 keris,” urainya.  

(mr/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia