Kamis, 15 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Features

Jalan Menuju Rumah Ditutup, Enam Keluarga Terisolasi

Sabtu, 27 Oct 2018 11:02 | editor : Abdul Basri

TAK BERKUTIK: Sutan Takdir Ali Sahbana berada di akses jalan yang ditutup oleh Lapas Kelas II-A Pamekasan di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan,

TAK BERKUTIK: Sutan Takdir Ali Sahbana berada di akses jalan yang ditutup oleh Lapas Kelas II-A Pamekasan di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

PAMEKASAN - Terik membakar bumi Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, kemarin (26/10). Kendaraan berat lalu lalang di akses menuju Pelabuhan Kelas III Branta itu. Warung membuka jendela lebar-lebar.

Sopir truk tanpa baju menyeruput kopi hitam lengkap dengan batang rokok di sela jemarinya. Mereka tertawa terbahak. Namun, sekitar 50 meter dari jalan raya, terlihat pemuda kebingungan keluar dari akses jalan menuju tempat pedagang kaki lima (PKL).

Sebab, jalan yang biasa dilalui itu ditutup menggunakan kayu. Anak kecil pun tidak bisa lewat dari sela lubang kayu itu. Sutan Takdir Ali Sahbana adalah pemilik lapak yang terancam digusur lantaran berdiri di atas tanah negara.

Sutan Takdir masih terlihat tegar dan sabar. Dia mencari akses lain untuk bisa melintasi pagar yang dibuat sepekan lalu itu. Akhirnya, dia pun mampu melintasi jejeran kayu tersebut.

Pengusaha muda itu mengaku miris dengan tindakan yang dilakukan pihak Lapas Kelas II-A Pamekasan. Sebab, akses jalan yang biasa dilalui masyarakat tiba-tiba ditutup. Persoalannya, berdiri puluhan tempat usaha di atas tanah milik negara yang dikelola lapas.

Bahkan, ada dua rumah penduduk di atas tanah tersebut. Rumah tersebut berdiri sejak puluhan tahun silam. Tiap rumah dihuni tiga kepala keluarga (KK). ”Semuanya ada enam KK,” katanya Jumat (26/10).

Setelah akses jalan ditutup, penduduk yang bertempat tinggal di lokasi tersebut terisolasi. Mereka tidak bisa keluar menggunakan kendaraan bermotor. Sebab, hanya itu satu-satunya akses jalan yang bisa dilalui.

Aktivitas mereka terganggu. Bahkan, untuk mengantar anak ke sekolah, warga yang bertempat tinggal di lahan tersebut harus berjalan kaki. Kemudian, bisa dilanjutkan dengan naik bentor menuju sekolah.

Dengan demikian, Sutan Takdir mewakili masyarakat meminta kebijaksanaan dari pihak lapas. Kayu penutup jalan itu diminta dibuka. Mengingat, sekarang warga masih berembuk biaya sewa yang akan dibayar.

Beberapa waktu lalu, masyarakat dan pimpinan lapas menggelar pertemuan membahas sewa itu. Namun, belum ada kesepakatan lantaran harga yang dipatok pemilik lahan itu terlalu tinggi.

Pihak lapas meminta sewa senilai Rp 300 ribu per bulan. Sementara, warga hanya mampu membayar maksimal Rp 100 per bulan. Warga diberi waktu untuk berembuk agar menemukan jalan terbaik. ”Usaha kami kecil-kecilan, hasilnya tidak seberapa,” katanya.

Sutan mengatakan, seharusnya pihak lapas juga berterima kasih kepada masyarakat pengguna lahan. Sebab, sebelum ditempati usaha, lahan itu hanya muara sampah yang dapat menjadi pemicu penyebaran penyakit.

Kepala Lapas Kelas II-A Pamekasan M. Hanafi membenarkan penutupan akses jalan itu. Menurut dia, jalan terpaksa ditutup lantaran ada bangunan liar yang berada di atas tanah milik Kemenkum HAM yang dikelola lapas.

Masyarakat diminta membayar uang sewa lahan. Namun, belum ada kesepakatan harga. Pihak lapas memberi waktu hingga bulan depan. Jika tak kunjung ada kesepakatan, tindakan tegas akan dilakukan.

Tindakan itu akan dilakukan dengan cara penggusuran paksa. Sebab, tindakan tersebut masuk penyerobotan lahan yang sebenarnya bisa dipidanakan. ”Kami beri waktu untuk berembuk mencari solusinya,” tandas pria asli Pamekasan itu.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia