Kamis, 15 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Features

Karena Trauma, Enggan Masuk Rumah, Siang di Halaman, Malam di Tenda

Minggu, 14 Oct 2018 12:28 | editor : Abdul Basri

TRAUMA: Suami-istri Saad dan Sasrani beraktivitas di halaman samping rumahnya di Dusun Jam Busok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Sumenep.

TRAUMA: Suami-istri Saad dan Sasrani beraktivitas di halaman samping rumahnya di Dusun Jam Busok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Sumenep. (MUSTAJI/Radarmadura.id)

SUMENEP - Tidak mudah memulihkan bangunan yang rusak akibat gempa. Lebih tidak mudah lagi menghilangkan trauma para korban. Seperti yang dialami warga Desa Prambanan, Kecamatan Gayam.

Guncangan gempa berkekuatan magnitudo 6,4 yang melanda Jawa-Bali masih teringat jelas di benak para korban. Seperti para korban gempa di Desa Prambanan, Kecanatan Gayam, Sumenep. Kehidupan warga yang mayoritas petani itu belum kembali normal.

Sabtu (12/10), Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung ke rumah Saad, 60, warga Dusun Jam Busok, Desa Prambanan. Rumah Saad berjarak sekitar 13 kilometer dari kantor Kecamatan Gayam. Sekitar 300 meter dari posko gempa. Sekitar 100 meter dari posko gempa di lapangan Desa Prambanan. Dan hanya berjarak 50 meter dari Laut Jawa di utara rumah.

Rumah cat putih itu rusak seperti ratusan rumah lain. Tembok depan rumah retak. Plafon jebol sana-sini. Kaca jendela hancur. Pintu depan tak bisa digunakan akibat miring.

Sisa-sisa material bangunan di dalam rumah yang jatuh dari atap belum dibersihkan. Pakaian berserakan, pecahan kaca di lantai, dan dinding dalam rumah retak, juga masih terlihat.

Saat JPRM tiba, Saad berasama istrinya, Sasrani, 58, berada di sebelah selatan rumah. Mereka bernaung di bawah pohon pandan yang tumbuh subur. Sasrani sedang memasak air dan Saad sedang menguliti bambu.

Di dekat mereka terdapat sebuah dipan. Di atasnya ada tiga buah bantal dan sebuah kasur kuning lusuh. Saad mengenakan baju batik dan celana pendek cokelat. Sedangkan Sasrani memakai kaus lengan panjang merah muda dan mengenakan sarung.

Lalu kami duduk di dipan dekat dengan ”dapur darurat” yang dibuat Saad. Kedua warga ini masih trauma. Sasrani masih ingat dengan jelas bagaimana gempa menimpa. Bahkan sampai saat ini, dia belum berani masuk ke rumah. Saking takutnya.

Meskipun terlihat lebih kuat dan berani masuk ke rumah, Saad ternyata juga trauma. Sampai koran ini bertemu dengannya, dia belum mengganti baju yang dia kenakan sejak gempa mengguncang.

Pada malam insiden itu, pasutri ini sedang tidur di rumah. Karena kondisi malam yang gelap akibat listrik padam, sejak pukul 23.00 keduanya tidur. Saat gempa terjadi, keduanya terbangun. Teriakan Munjiono, ayah korban meninggal Nuril Camilia membuat keduanya semakin panik.

Setelah hari itu, kehidupan keduanya berubah. Selain tidak pernah masuk ke rumah, Sasrani juga selalu khawatir terjadi gempa susulan. Setiap malam, dia tidak pernah bisa tidur karena takut.

Siang hari mereka beraktivitas di luar rumah. Sedangkan malam hari dia berkumpul bersama ratusan korban lain yang juga ketakutan. ”Saya kalau ingat kejadian itu takut. Gemetar kaki saya. Apalagi kalau lihat rumah. Rasanya jadi ada gempa lagi, tanah ini rasanya bergoyang,” kata wanita itu sambil menitikkan air mata.

Kesulitan yang mereka alami saat ini lebih berat. Sudah tiga bulan Saad yang bekerja sebagai nelayan tidak bisa melaut. Hari-harinya kini dihabiskan dengan perasaan takut akibat gempa. ”Dulu biasanya saya cari ikan dengan memancing. Tapi, sering nggak dapat ikan, akhirnya saya tidak melaut lagi,” kata Saad sambil merapikan posisi duduknya.

Saad dan Sasrani hanya sebagian kecil korban gempa yang bernasib sama. Saat malam tiba, ratusan warga berkumpul di posko bantuan di lapangan desa. Hanya sebagian besar dari mereka tidak tidur.

Bapak-bapak menggelar tikar di depan tenda sambil minum kopi dan ngobrol dengan teman-temanya. Sementara para wanita berada di tenda. Sebagian duduk dan yang lain merebah. Beberapa terlihat duduk sambil terus mengibaskan jarik yang mereka bawa, melindungi anak mereka yang sedang tidur dari serangan nyamuk.

(mr/aji/luq/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia