Jumat, 19 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Sampang

Trauma Gempa Palu, 101 Pasien RSUD Sampang Berhamburan

Jumat, 12 Oct 2018 11:22 | editor : Abdul Basri

PANIK: Sejumlah pasien RSUD dr Mohammad Zyn Sampang berkumpul di area assembly point saat terjadi gempa dini hari.

PANIK: Sejumlah pasien RSUD dr Mohammad Zyn Sampang berkumpul di area assembly point saat terjadi gempa dini hari. (TITIN HAMIDAH FOR Radarmadura.id)

SAMPANG - Gempa bumi yang terjadi dini hari Kamis dini hari (11/10) membuat panik pasien rawat inap RSUD dr Mohammad Zyn Sampang. Sekitar 101 pasien berhamburan keluar dari ruangan. Teriakan dan doa menyertai mereka sambil berlari untuk menyelamatkan diri.

Saat terjadi gempa, pasien dan keluarga pasien ada yang sudah tidur. Pasien yang berhamburan keluar ruangan itu kebanyakan mereka yang belum istirahat dan merasakan guncangan bumi.

Sejumlah petugas piket dibantu satpam membantu evakuasi pasien yang memaksa keluar dari ruangan. Sebagian juga ditenangkan supaya tetap tidak beranjak. ”Tidak ada korban jiwa dan kerusakan akibat gempa,” kata Direktur RSUD dr Mohammad Zyn Titin Hamidah.

Satpam dan petugas piket mengarahkan pasien supaya berkumpul di area assembly point titik kumpul di halaman depan. Namun, sebagian banyak yang berada depan ruangannya. Tidak ada bangunan yang rusak akibat gempa tersebut.

”Pasien di lantai dua yang paling panik dan berhamburan,” ungkapnya. ”Ada infus pasien yang sampai lepas akibat mau melarikan diri ke luar ruangan itu,” paparnya.

Jumlah pasien yang dirawat inap 101 orang. Meliputi, Ruang Melati 19 pasien, Ruang Mawar 18 pasien, Ruang Anggrek 19 pasien, Dahlia 19 pasien, Tulip 10 pasien, Bougenville 14 pasien, dan Cempaka 2 pasien. ”Pasien bertahan di luar ruangan itu lebih kurang sampai dua jam,” pungkasnya.

”Saya tidak keluar ruangan karena menganggap itu kecil. Kalau yang lain lari keluar ruangan,” kata anggota DPRD Sampang Syamsul Arifin yang saat kejadian menjaga putrinya yang sedang dirawat di ruang Bougenville.

Hodar adalah satu dari ratusan pasien yang sedang dirawat. Saat itu dia sedang menjalani perawatan di lantai dua Ruang Dahlia III. ”Ranjang saya tiba-tiba bergoyang. Saya mendengar teriakan gempa. Saya panik dan meminta keluarga untuk membawa saya keluar,” kata Hodar, pasien epistaksis atau mimisan saat ditemui, Kamis (11/10).

Kala itu, pria 40 tahun asal Desa Pandiyangan, Kecamatan Robatal, Sampang, tersebut tidak memikirkan jarum infus di tangan kirinya. Juga kapas yang menyumbat hidungnya karena selalu keluar darah. Yang ada dalam pikirannya hanya agar bisa segera keluar dari ruangan.

Hodar mengaku trauma melihat kejadian di Palu yang menelan banyak korban. Karena itu, dia dibawa lari ke halaman rumah sakit menggunakan kursi roda. Padahal, saat itu tidak boleh berdiri dan duduk. Jika itu dilakukan akan keluar darah dari hidung dan mulutnya.

Kepala Ruang Dahlia Muhidin Karmujianto mengatakan, perawat yang jaga saat kejadian dua orang. Semua pasien tanpa dikoordinasi keluar ruangan dan lari menyelamatkan diri. ”Total pasien di Ruang Dahlia ini 19 orang. Rata-rata pasien penyakit dalam laki-laki,” ujarnya.

Hodar merupakan pasien yang terakhir kembali ke ruangan. Sebab, dia ketakutan. ”Alhamdulillah, pada pukul empat pasien di ruangan ini sudah kembali semua dan diberikan perawatan lagi.”

(mr/rus/luq/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia