Selasa, 11 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Features
Masalah Ekonomi dan Asmara Picu Gangguan Jiwa

Ini Hasil Penanganan Poli Jiwa RSUD dr H Slamet Martodirdjo Pamekasan

12 Oktober 2018, 11: 17: 19 WIB | editor : Abdul Basri

SANTAI: Seorang pasien (membelakangi kamera) sedang konsultasi ke dokter jiwa RSUD dr H Slamet Martodirdjo, Rabu (10/10).

SANTAI: Seorang pasien (membelakangi kamera) sedang konsultasi ke dokter jiwa RSUD dr H Slamet Martodirdjo, Rabu (10/10). (MOH. ALI MUHSIN/Radarmadura.id)

PAMEKASAN - Gangguan jiwa itu belum tentu gila. Poli jiwa di rumah sakit kini menjadi tujuan untuk mengatasi masalah kejiwaan. Saat ini masalah ekonomi dan asmara mendominasi jumlah pasien yang ditangani RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo.

Warga yang akan berobat ke poli jiwa tidak berbeda dengan pasien umum. Mereka terlebih dahulu harus mendaftar di bagian pelayanan. Apakah mengikuti program umum atau BPJS Kesehatan.

Pasien gangguan jiwa sedang masih bisa melakukan proses pendaftaran sendiri. Tanpa didampingi keluarga. Jika mengalami gangguan jiwa berat, pasien didampingi keluarga.

Setelah selesai mendaftar, sejumlah pasien yang akan berobat ke poli jiwa terlebih dahulu antre menunggu panggilan. Mereka duduk di kursi di depan poli jiwa. Poli ini berada di bagian belakang UGD RSUD dr H Slamet Martodirdjo Pamekasan.

Dilihat sepintas, tatapan mata pasien kosong. Tidak semangat. Namun, keluarganya tetap memberikan semangat. Satu per satu pasien dipanggil masuk secara begantian oleh dokter.

”Pasien yang mengalami gangguan jiwa itu kadang ngamuk-ngamuk. Apalagi kalau obatnya lambat diminum. Makanya, poli itu sengaja diletakkan agak ke balakang,” jelas Farid Anwar selaku direktur di rumah sakit itu.

Sementara M (inisial) datang ke poli jiwa karena mengalami kecemasan luar bisa. Hal itu sangat mengganggu keperibadiannya. Karena itu, dia rutin kontrol dan konsultasi. ”Kami diberi obat. Alhamdulillah, ketika datang ke poli jiwa saya bisa lebih tenang. Sebab, saya juga diberi motivasi,” ujar pria asal Pamekasan itu.

Setiap bulan tidak kurang 250 pasien datang berkonsultasi. Sejak Januari sudah ada ribuan pasien yang datang. Baik sebagai pasien lama atu pasien baru. Rata-rata karena faktor ekonomi.

Masalah ekonomi membuat pasien sering kali depresi atau stres. Bahkan, ada yang mencoba untuk bunuh diri. Faktornya karena terlilit utang dan tidak mampu dalam membiayai hidup keluarga. Ada juga remaja yang stres karena orang tuanya tidak mampu menguliahkan.

”Niatnya mau kuliah. Karena ekonomi orang tuanya tidak bisa, akhirnya depresi dan ada yang meninggal,” kata dokter jiwa Nur Faidah Utami, Rabu (10/10).

Selain masalah ekonomi, pasien gangguan jiwa karena faktor asmara. Banyak remaja konsultasi karena patah hati. Akibatnya, mereka terjangkit bipolar. Yaitu gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem. Berupa mania dan depresi. Biasanya ditandai dengan naik turunnya mood seseorang.

”Kalau sedang tenang, stabil. Kalau mania, bicara ngoceh-ngoceh dan bicara ngawur. Kadang juga sampek telanjang-telanjang,” terang dokter cantik berkacamata tersebut.

Selain masalah ekonomi dan asmara, pasien gangguan jiwa juga karena kecanduan narkoba, gangguan tidur, obsesif kompulsif, dan kecelakaan yang menyebabkan gegar otak. Cedera di otak berpengaruh pada gangguan jiwa.

Pasien lansia di atas 60 tahun atau pikun juga bisa mengalami gangguan jiwa. Sebab, fungsi otak menurun. Biasanya selalu mau ada di rumah, gelisah tidak bisa tidur, mondar-mandir, sering ngoceh, dan memiliki rasa curiga terus.

Mengobati mereka tidak mudah. Butuh waktu khusus dan lama. Tergantung pada kejiwaan pasien. Namun, setiap pasien diberi obat dan psikoterapi. Baik terapi perilaku, CBT serta bisa juga dengan reward dan punishment. Tergantung kasus per kasus.

”Kembali ke faktor individu. Mekanisme pertahanan dan kepribadiannya seperti apa. Kita hanya bisa men-support dan memberikan konseling kepada pasien,” terang perempuan yang juga bertugas di Lapas Narkotika Pamekasan.

Nur terus mencoba mengubah pola pikir pasien. Hal-hal negatif diubah ke hal yang positif supaya mereka kembali pada agama. Namun, upaya-upaya itu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasien dengan masalah ekonomi dicoba agar mereka ikhlas dan bersyukur.

”Orang tua yang mengalami gangguan jiwa biasanya anaknya juga mengalami hal serupa. Tapi tidak semua. Pola asuh dan lingkungan sangat berperan,” terang dokter yang tugas Senin dan Rabu itu.

(mr/sin/luq/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia