Jumat, 19 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Sumenep

Addiyeh, Perempuan Lansia yang Hidup Sebatangkara

Rabu, 10 Oct 2018 15:41 | editor : Abdul Basri

SEBATANG KARA: Addiyeh keluar dari gubuk tempat tinggalnya sehari-hari di Dusun Gampong, Desa Giring, Kecamatan Manding, Sumenep, Senin (8/10).

SEBATANG KARA: Addiyeh keluar dari gubuk tempat tinggalnya sehari-hari di Dusun Gampong, Desa Giring, Kecamatan Manding, Sumenep, Senin (8/10). (IMAM S. ARIZAL/Radarmadura.id)

Tidak semua orang suka dengan keramaian. Kesendirian dan hidup pas-pasan terkadang menjadi pilihan. Itu yang sedang dilakukan Addiyeh, perempuan yang sehari-hari hanya ditemani belarak, di Dusun Gampong, Desa Giring, Kecamatan Manding, Sumenep.

IMAM S. ARIZAL, Sumenep

GUBUK menghadap utara itu seperti tak berpenghuni. Tak tampak ada pintu masuk sama sekali. Di depannya terdapat pelepah daun kelapa yang masih utuh dengan belaraknya. Juga tak ada hunian lain di tempat tersebut. 

Di sebelah timur dan selatan, sawah-sawah terhampar luas. Di sebelah utara terdapat sebuah rumah, tapi cukup jauh. Sedangkan di sebelah barat, ada pohon besar, lahan pemakaman, dan ladang yang membentang. 

Radarmadura.id mengunjungi gubuk tersebut Senin (8/10). Ditemani Saeri, seorang aktivis kemanusiaan di Sumenep, koran ini tiba di gubuk kecil itu sekitar pukul 10.45. Matahari memanggang dan angin berembus kencang. 

Tiba di gubuk tersebut, tak ada suara terdengar, sepi. Setelah coba memanggil salam, si penghuni gubuk menyahut dari dalam. Sebelum keluar, dia bertanya siapa gerangan yang sedang berkunjung. 

Addiyeh, itulah si penghuni gubuk yang terletak di Dusun Gampong, Desa Giring, Kecamatan Manding, Sumenep, tersebut. Tak ada yang tahu pasti berapa usia Addiyeh saat ini. Jangankan usia, saat ditanya nama pun dia tidak menjawab. Selain tidak punya kartu tanda penduduk (KTP), ingatannya sudah melemah. 

Addiyeh juga sulit diajak komunikasi oleh tamu-tamu yang datang. Biasanya dia hanya berbicara sesuai keinginannya sendiri. Bahkan dia sering berbicara tentang anak-anaknya yang katanya tinggal di daerah yang cukup jauh darinya. Padahal, perempuan yang diperkirakan berusia 90-an tahun itu belum pernah menikah semasa hidupnya. 

Saeri yang siang itu membawa roti, kue, dan air mineral disuguhkan kepada Addiyeh. Tapi, dia tidak langsung menerimanya. Dia bertanya terlebih dahulu, air apa yang sedang dibawa. Dia pun tidak mau menerima makanan yang berwarna. Kendati warna tersebut sekecil meses sekalipun. 

Dia tidak mau memakan dengan pewarna. Tidak dijelaskan mengapa dia begitu takut memakan makanan yang menggunakan pewarna. ”Sudah ini yang ada merah-merahnya dibawa pulang saja. Saya tidak mau kalau pakai pewarna,” katanya. 

Siang itu Addiyeh belum makan. Sebab, sejak pagi belum ada yang mengantarkan makanan. Saat ini, di usianya yang sudah senja, dia hanya mengandalkan makanan pemberian orang lain. Baik tetangga jauh atau kerabatnya. 

”Kalau ada makanan saya makan. Kalau tidak ada, ya tidak makan,” jelasnya dengan wajah tanpa beban. 

Koran ini meminta izin untuk masuk ke gubuknya. Awalnya Addiyeh keberatan. Sebab, dia tidak sembarangan memberikan izin bagi orang asing untuk masuk. Dia beralasan di dalam gubuknya sangat sempit. 

Tapi akhirnya, dia memberikan izin untuk masuk. Pintu masuk menuju gubuk tersebut sangat sempit. Untuk orang dewasa dengan tubuh ukuran sedang, harus masuk dengan cara memiringkan badan. 

Di dalam gubuk itu terdapat peralatan dapur. Tapi dari penampakannya sudah lama tidak dipakai. Di gubuk tersebut juga tidak ada tempat tidur. Seisi gubuk sudah penuh dengan belarak dan pelepah daun kelapa. 

”Saya tidak punya tempat tidur. Kalau ngantuk langsung tidur saja di sini,” jelasnya sembari menunjukkan tempatnya tidur. 

Meski hidup sederhana, Addiyeh tidak mau diajak tinggal bersama orang lain. Dia lebih memilih tinggal di gubuknya sendiri. Alasannya, dia tidak mau merepotkan orang lain. Alam sekitar telah menyatu dengan dia. 

Di gubuk tersebut juga tidak ada kamar mandi. Ketika hendak mandi, dia pergi ke sungai yang terletak di sebelah timur. Rutinitas tersebut dilaluinya tanpa keluhan sedikit pun. 

Koran ini kemudian mencari keterangan dari Bu Hadi, pemilik toko peracangan yang tak jauh dari gubuk Adiiyeh. Menurut Bu Hadi, Addiyeh saat ini sudah tidak punya saudara lagi. Seluruh saudara kandungnya meninggal. 

”Keponakan dia punya. Keponakannya itu yang setiap saat mengirimkan makanan untuk Addiyeh,” tuturnya. ”Tapi, Addiyeh itu tidak pernah minta makan kalau tidak dikasih. Kalau dikasih baru dia makan,” tegasnya. 

Saat masih sehat, Addiyeh bekerja serabutan. Kadang menjual kayu. Ketika musim tembakau, dia bekerja kepada petani. Misalnya, merawat tanaman tembakau yang masih kecil dan lainnya. 

Yang unik dari Addiyeh, tutur Bu Hadi, dia tidak mau memakai lampu penerang dari listrik. Pernah dipasangi lampu, tapi dilempar sampai pecah. Akhirnya, saat ini tidak ada jaringan listrik ke tempat tersebut. 

Addiyeh menggunakan penerang berbahan minyak tanah. Yang membuat Bu Hadi heran, tidak pernah terjadi kebakaran di tempat tersebut. Padahal di gubuk Addiyeh penuh daun-daun belarak yang mudah terbakar. 

Bu Hadi menduga, Addiyeh memang dijaga oleh alam. Sebab, di gubuk tersebut sering ditemukan hewan-hewan melata. Seperti ular, kalajengking, dan sejenisnya. Tapi, tak pernah sekalipun Addiyeh digigit oleh binatang-binatang tersebut. 

”Itu rumahnya pernah dibersihkan. Seluruh isi di dalamnya dikeluarkan oleh saudara-saudaranya. Tapi, setelah itu dimasukkan lagi oleh Addiyeh,” tutur Bu Hadi.

(mr/*/hud/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia