Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Warga Bangkalan Berduka! KH. Ilyas Chotib Tutup Usia

Jaga Silaturahmi, Jangan Tunda-Tunda Waktu

Rabu, 10 Oct 2018 15:36 | editor : Abdul Basri

PANUTAN UMAT: Ribuan jamaah mengiringi pemakaman almarhum KH. Ilyas Chatib, Selasa (9/10).

PANUTAN UMAT: Ribuan jamaah mengiringi pemakaman almarhum KH. Ilyas Chatib, Selasa (9/10). (MOH. SUGIANTO/Radarmadura.id)

BANGKALAN – Masyarakat Bangkalan berduka. Ulama karismatik asal Desa Patereman, Kecamatan Modung,  tutup usia Senin (8/10). Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al-Islamy itu meninggal di rumah sakit Graha Amerta, Surabaya, pukul 23.15 di usia 63 tahun. Almarhum menjalani perawatan selama kurang lebih tiga hari di rumah sakit. 

Jenazah almarhum dimakamkan Selasa (9/10) di pemakaman keluarga sekitar pondok pesantren. Ribuan santri, alumni, dan masyarakat mengantarkan almarhum ke peristirahatan terkahir. Ulama dari berbagai daerah turut hadir dalam pemakaman tersebut. Di antaranya, KH Fuad Noerhasan dari Sidogiri, KH. Idris Abdul Hamid dari Pasuruan, dan KH. Zubair Muntashor Bangkalan. 

Juga hadir KH. Abdus Salam Mujib, pengasuh PP Al-Khoziny Buduran; kiai dari Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk; KH. Mohammad Faisol dari Pondok Pesantren Demangan Timur; KH. Nuruddin, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam; serta KH. Musleh Adnan dari Pamekasan; dan KH. Holili Masud dari Pramian, Sampang. Hadir pula mantan wakil bupati Bangkalan Ir Mondir A. Rofii dan anggota DPRD Jatim Mahfud serta Ketua DPC Ansor Bangkalan Hasani Zubair. 

Tak sedikit masyarakat dan santri menangis saat mengantarkan jenazah KH. Ilyas Chotib. Mereka merasa kehilangan sosok yang selama ini dikenal gigih dalam syiar agama itu. ”Tak menyangka beliau begitu cepat meninggalkan kami,” ucap mantan ketua Ikatan Alumni Miftahul Ulum Al-Islamy (IKMI) Abdus Salam, Selasa (9/10). 

Sebelum dimakamkan, jenazah disalatkan di masjid pondok pesantren. Namun sebelum itu, sejak pagi satu per satu pelayat menyalatkan sosok kiai yang juga besan KH. Dimmiyati Darul Ulum, Jombang, itu di musala pondok pesantren. 

Putra kedua almarhum yakni KH. Ayyub Mustofa Ilyas mengaku tidak menyangka ayahandanya begitu cepat dipanggil Sang Khalik. Dia mengaku tidak ada firasat apa pun. ”Berangkat dari sini ke rumah sakit tidak begitu parah jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya,” ucap dia. 

Penyakit yang diderita ayahandanya terbilang cukup lama. Namun, selama ini orang tuanya masih bisa bertahan. ”Selama 15 tahun abi sakit-sakitan. Diagnosisnya penyakit jantung dan paru,” tutur KH. Ayyub Mustofa Ilyas. 

KH. Ayyub Mustofa Ilyas bakal menggantikan ayahandanya sebagai pengasuh pondok pesantren. Banyak pelajaran dan teladan dari KH. Ilyas Chotib semasa hidupnya. Di antaranya, jangan menunda-nuda waktu soal kebaikan. ”Wasiat khusus tidak ada. Cuma, beliau sering menasihati di dalam beberapa kesempatan jangan pernah menunda-nunda waktu,” ucapnya. 

Suatu ketika, KH. Ilyas Chotib sakit. Saat itu diundang oleh salah seorang santri. ”Beliau tetap hadir dan tepat waktu. Selain itu, yang diwanti-wanti adalah silaturahmi. Jangan pernah putus silaturrahim,” kenangnya. 

KH. Ilyas Chatib meninggalkan delapan anak dan delapan cucu. Pendidikan yang dirintisnya semasa hidup adalah PAUD, TK, (SMP), SMA Al-Khatibiyah, SMK, dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Miftahul Ulum. 

(mr/*/daf/hud/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia