Jumat, 19 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Berkat Alquran Rumah Erni Korban Gempa dan Tsunami Tidak Roboh

Rabu, 10 Oct 2018 15:34 | editor : Abdul Basri

SELAMAT:  Erni Subarianita (tiga dari kanan) kemarin bercerita tentang musibah gempa dan tsunami di Palu, Sulteng.

SELAMAT:  Erni Subarianita (tiga dari kanan) kemarin bercerita tentang musibah gempa dan tsunami di Palu, Sulteng. (MOH. ALI MUHSIN/Radarmadura.id)

RUMAH Erni Subarianita di Jalan Pangeran Ronggosukowati, Kota Pamekasan, dipadati tamu Selasa (9/10). Dia baru saja datang dari Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), yang dilanda gempa dan tsunami. Tamu-tamu itu ditemuinya di ruang tamu di bagian belakang rumah. 

Tamu yang masih temannya itu banyak menanyakan musibah di Palu dan kondisi Erni Subarianita saat gempa dan tsunami terjadi. Sambil berlinang air mata, dia menceritakan bencana yang menurutnya seperti kiamat tersebut. 

Sore itu dia bersama anaknya berada di rumahnya di Jalan Dewi Sartika, Palu Selatan. Sementara suaminya berada di tempat kerja. Sebelum azan Magrib berkumandang, tiba-tiba bumi berguncang, rumah dan pohon banyak yang roboh.

Warga saat itu panik. Mereka berhamburan lari keluar dari rumah masing-masing. Mereka mencari tempat yang aman. Termasuk Erni Subarianita bersama anaknya. 

Tanah yang dipijaknya terus bergerak. Langit terasa runtuh. Gemuruh ombak dan tanah yang ambles di tempat lainnya dia dengar. Dia mengira sudah kiamat. 

Azan dan istigfar mereka baca. Orang nonmuslim juga membaca doa-doa sesuai keyakinan masing-masing. Semuanya sudah panik berteriak histeris. 

”Saya bersama warga lainnya saat itu lari mencari tempat yang agak tinggi. Jauhnya sekitar 500 meter dari rumah,” kata perempuan yang akrab disebut Erni tersebut. 

Saat berada di tempat pengungsian, dia mulai gelisah. Khawatir suaminya yang berada di tempat kerja menjadi korban bencana. Untuk berkomunikasi tidak bisa. Handphone miliknya berada di rumah. 

”Saya trauma. Malam itu saya diantar tetangga ke rumah untuk mengambil telepon mau menghubungi suami,” tuturnya. 

Kekhawatiran tersebut terbayar dengan senyum. Ternyata Erni Subarianita bertemu dengan suaminya di gang menuju rumah. Saat itu suaminya juga sedang mencari Erni. ”Suami juga mencari saya dan anak ke sana kemari. Alhamdulillah ternyata kami selamat dan bertemu di dekat rumah saat kita saling mencari,” ujarnya. 

Yang paling mengagetkan, lanjut Erni, saat itu dia melihat rumahnya masih dalam kondisi utuh. Padahal, rumah-rumah sekitar banyak yang roboh. ”Hanya barang-barang di dalam rumah saja yang berserakan.” terangnya. 

Kendati demikian, dia tidak menginap di rumah. Dia bersama suami menginap di pengungsian. Dia khawatir terjadi gempa susulan. Meskipun kawasan tersebut tidak dilanda tsunami. ”Saya menginap di pengusian beratapkan langit karena bantuan tenda belum merata,” ucapnya mengenang. 

Dia yakin rumahnya tidak roboh berkat Alquran. Sebab, rumah Erni menjadi tempat belajar anak-anak warga sekitar membaca Alquran. Di kawasan yang dia tempati sangat sulit menemukan tempat belajar Alquran. Jadi seperti di Madura. Sebab, di Palu penduduknya mayoritas nonmuslim. 

”Rumah saya ditempati anak-anak kecil yang belajar Alquran. Untuk ibu-ibu, saya sering mengajar ke rumah mereka,” katanya. 

Dia yakin Alquran bisa memberikan manfaat bagi yang membaca dan mengamalkannya. Umat Islam memang harus istiqamah membaca kitab sucinya itu. Walaupun tidak dengan jumlah yang banyak. ”Alhamdulillah berkat cinta Alquran dan rutin membaca Alma’tsurat tiap hari kami bisa selamat dari musibah itu,” ucap Erni. 

Dia mengajak umat muhasabah dan memperbaiki diri. Sebab, musibah yang terjadi tidak lepas dari perbuatan dosa yang diperbuat manusia. ”Di sana memang banyak perbuatan dosa. Masyarakat di sana suka pesta dan nyanyi-nyanyi,” ungkapnya. 

Hikmah yang juga bisa diambil dari musibah tersebut, manusia harus saling menghormati satu sama yang lain. Meskipun berbeda agama. Sebab jika ada musibah, pasti tetangga dekat yang membantu. 

”Saat itu kami saling membantu meski beda agama. Karena kami sudah saling kenal baik sebelumnya,” tutur dia. 

Setelah kondisi aman, dia bertekad pulang ke Madura bersama suami dan anaknya. Awalnya dia akan naik pesawat. Namun dibatalkan secara sepihak karena kondisi tidak memungkinkan. 

”Akhirnya, kami ikut kapal laut. Alhamdulillah tiba dengan selamat di Pamekasan,” ucap Erni mengakhiri perbicangan.

(mr/sin/hud/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia