Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Sistem Rujukan Berjenjang BPJSKes Dinilai Sulitkan Pasien

Rabu, 10 Oct 2018 15:25 | editor : Abdul Basri

Sumber: BPJS Kesehatan Bangkalan

Sumber: BPJS Kesehatan Bangkalan

BANGKALAN – Rujukan berjenjang yang diterapkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJSKes) menuai protes. Pasalnya, kebijakan baru tersebut sangat menyulitkan warga untuk mendapatkan fasilitas kesehatan (faskes). Untuk itu, Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan (Perdirjampel) Nomor 4 Tahun 2018 dituntut dicabut atau dikaji ulang. 

Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Bangkalan Imron Rosyadi, Selasa (9/10). Kepada Radarmadura.id dia mengutarakan, BPJSKes menerapkan aturan baru berupa sistem rujukan berjenjang. Itu merugikan warga untuk mendapatkan kemudahan dalam berobat. 

”Awalnya warga bisa mendapatkan faskes rumah sakit tipe B. Tapi, sekarang sudah tidak bisa. Harus ke rumah sakit tipe D dan C dulu. Baru ke rumah sakit tipe B,” jelas Imron. ”Jadi, bukannya mempermudah, malah mempersulit,” imbuh dia. 

Bahkan, sambung Imron, rujukan dari puskesmas tidak bisa langsung ke rumah sakit tipe B. RSUD Syamrabu Bangkalan merupakan rumah sakit tipe B. Sementara di rumah sakit tipe D terkadang fasilitasnya kurang lengkap. dengan begitu, warga langsung memilih rumah sakit tipe B seperti RSUD Syamrabu. 

Akan tetapi, dengan kebijakan baru itu, warga mau tidak mau harus melalui rumah sakit tipe D dulu. ”Peserta BPJSKes harus berjenjang dulu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,” jelasnya. 

Dia mendesak kebijakan sistem rujukan berjenjang tersebut dicabut atau dikaji ulang. Sebab, tidak hanya merugikan warga sebagai peserta BPJSKes, rumah sakit daerah juga bisa sepi. ”Kami harus mendapatkan keterangan dari BPJS Kesehatan. Banyak keluhan masyarakat soal ini,” tegas politikus Partai Gerindra itu. 

Imron melanjutkan, di Bangkalan peserta BPJSKes cukup banyak. Jumlahnya mencapai ribuan jiwa. Selengkapnya lihat grafis. 

Penjabat Kepala BPJS Kesehatan Bangkalan Gandung Sujatmiko mengatakan, rujukan berjenjang justru mempermudah peserta untuk mendapatkan faskes. Sebab, peserta bisa mengakses sesuai dengan kebutuhan medik. 

”Kalau ada yang lebih dekat, tidak perlu ke rumah sakit daerah. Yang penting, rumah sakit tipe D bisa memberikan pelayanan sesuai yang diinginkan,” katanya. 

Lagi pula, lanjut dia, peserta BPJSKes tidak harus ke rumah sakit tipe D dulu. Kalau ternyata rumah sakit tipe D faskesnya tidak sesuai yang diinginkan, tidak apa-apa langsung ke rumah sakit tipe B. ”Jadi, syaratnya rumah sakit tipe D tidak bisa memberikan pelayanan,” ujarnya. 

Gandung menyatakan, bila rumah sakit tipe D dan rumah sakit tipe B sama-sama bisa memberikan fasilitas kesehatan, peserta BPJSKes disarankan mengakses yang lebih dekat dengan rumah. ”Rujukan berjenjang ini lebih mempermudah,” klaimnya. 

Selain itu, imbuh dia, biasanya pasien di rumah sakit tipe B menumpuk. Akibatnya, pelayanan kurang maksimal. ”Peserta silakan mengakses faskes yang bisa dijangkau,” pungkas Gandung. 

(mr/daf/hud/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia