Jumat, 19 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Kiai Kharismatik Itu Tutup Usia

Selasa, 09 Oct 2018 17:58 | editor : Abdul Basri

BERPULANG: Prosesi pemakaman Kh. Ilyas Chatib kemarin.

BERPULANG: Prosesi pemakaman Kh. Ilyas Chatib kemarin. (Moh. Sugianto/Radarmadura.id)

Bangkalan-Masyarakat kabupaten bangkalan berduka. Salah satu ulama kharismatik asal Desa Patereman, Kecamatan Modung KH. Ilyas Chotib tutup usia senin kemarin (8/10). Pengasuh pondok pesantren Miftahul Ulum Al-Islamy itu meninggal dirumah sakit Graha Amerta, Surabaya pada pukul 23.15 dalam usia 63 tahun. Itu setelah menjalani perawatan selama kurang lebih 3 hari.

Jenazah dimakamkan kemarin (9/10) di pemakaman keluarga sekitar pondok pesantren. Ribuan santri, alumni dan masyarakat ikut mengantar ke peristirahatan terkahir. Sejumlah ulama dari berbagai daerah juga turut hadir dalam pemakaman tersebut. Diantaranya Kh. Fuad Noerhasan dari Sidogiri, Kh. Idris Abdul Hamid dari Pasuruan, Kh. Zubair Muntashor Bangkalan.

Selain itu juga hadir Kh. Abdus Salam Mujib pengasuh PP Al-Khoziny Buduran, Kh. Dari Annuqoyyah Guluk-Guluk, Kh. Mohammad Faisol dari pondok pesantren Demangan Timur dan Kh. Nuruddin pengasuh Pondok pesantren Al-Hikam Bangkalan, serta Kh. Musleh Adnan Pamekasan dan Kh Holili Mas'ud Pramian Sampang. Tampak pula mantan wakil bupati Bangkalan Ir Mondzir Rofi'i dan DPRD Provinsi Jatim Mahfud serta ketua DPC Ansor Bangkalan Hasani Zubair. 

Pantauan Jawa Pos Radar Madura ) JPRM) dilokasi, tak sedikit masyarakat dan santri menangis saat mengantarkan jenazah. Mereka merasa kehilangan dengan sosok yang selama ini dikenal gigih dalam syiar agama.”Saya tak menyangka beliau begitu cepat meninggalkan kita semua,”ucap mantan ketua Ikatan Alumni Miftahul Ulum Al-Islamy (IKMI) Abdus Salam kemarin.

Sebelum dimakamkan, jenazah disholatkan di masjid pondok pesantren paling ujung timur kabupaten bangkalan tersebut. Namun sebelum itu, sejak pagi satu persatu pelayat menyolatkan sosok kiai yang juga besan Kh Dimmiyati Darul Ulum Jombang itu di musholla pondok pesantren. 

Sementara itu putra kedua almarhum, yakni  KH Ayyub Mustofa Ilyas juga mengaku tidak menyangka ayahandanya begitu cepat dipanggil sang khalik. Diapun juga mengaku tidak ada firasat apapun. "Berangkat dari sini ke rumah sakit tidak begitu parah, jika dibanding dengan sebelum-sebelumnya saat masuk rumah sakit," ucapnya saat ditemui koran ini kemarin.

Dia mengatakan, penyakit yang diderita oleh ayahandanya terbilang cukup lama. Namun selama ini orang tuanya masih bisa bertahan. "15 tahun abi sakit-sakitan. Diagnosisnya penyakit jantung dan paru," ungkapnya.

Pria yang bakal menggantikan ayahandanya sebagai pengasuh pondok pesantren itu juga mengungkapkan banyak pelajaran dan teladan dari orang tuanya semasa hidupnya. Diantaranya jangan menunda-nuda waktu soal kebaikan. ”Wasiat khusus tidak ada. Cuma beliau sering menasehati didalam beberapa kesempatan jangan pernah menunda-nunda waktu,”ungkapnya.

Lalu dia menceritakan suatu ketika, ayahandanya sedang sakit. Saat itu diundang oleh salah satu santri. ”Beliau tetap hadir dan tepat waktu. Selain itu yang diwanti-wanti adalah silaturrahmi. Jangan pernah putus silaturrahim,” kenangnya.

Kh. Ilyas Chatib meninggalkan 8 orang anak dan 8 orang cucu. Pendidikan yang dirintisnya semasa hidupnya adalah pendidikan PAUD, TK, (SMP), SMA Al-Khatibiyah, SMK, serta perguruan tinggi yang diberi nama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Miftahul Ulum. 

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia