Senin, 17 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Sampang

Tuding Penyidik Polres Sampang Tak Profesional Dilaporkan ke Propram P

07 Oktober 2018, 16: 38: 04 WIB | editor : Abdul Basri

LAPORKAN: Pengacara korban penganiayaan menunjukkan dokumen untuk melaporkan penyidik Unit III Polres Sampang ke Propam Polda Jawa Timur, Jumat (5/10).

LAPORKAN: Pengacara korban penganiayaan menunjukkan dokumen untuk melaporkan penyidik Unit III Polres Sampang ke Propam Polda Jawa Timur, Jumat (5/10). (PRENGKI WIRANANDA/Radarmadura.id)

SAMPANG – Kinerja penyidik Unit III Polres Sampang dalam sorotan. Kinerja mereka dinilai tidak profesional. Laporan kemudian dilayangkan ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jawa Timur.

Laporan disampaikan Lembaga Bantuan Hukum Pusara pada Kamis (4/10). Ketua LBH Pusara Marsuto Alfianto mengatakan, pelaporan tersebut bermula dari ketidakprofesionalan tim penyidik Polres Sampang dalam menangani laporan kasus penganiayaan.

Kasus tersebut terjadi pada 19 Juli 2018 di jalan raya Dusun Lengser, Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong. Sunadi waktu itu ingin menyeberang ke rumahnya di pinggir jalan sisi utara. Kemudian, sepeda motor yang dikemudikan Samid, 45, dan istrinya itu datang dan hampir menabrak Sunadi.

Terjadilah cekcok mulut. Lalu Samid mengeluarkan celurit dan membacok Sunadi. Bacokan itu mengenai kepala hingga terluka. Samid kemudian diputus bersalah dengan hukuman 1 tahun 6 bulan. Belakangan, istri Samid melaporkan balik Sunadi atas tuduhan yang sama, penganiayaan.

Menurut dia, penyelidikan dan penyidikan penyidik unit III tidak profesional berdasarkan Perkap 14/2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana. ”Oleh istri pelaku dilaporkan juga atas kasus penganiayaan. Pelaporan itu ditangani oleh penyidik Polres Sampang,” katanya.

Sunadi, 19, warga Dusun Lengser, Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong, ditetapkan sebagai tersangka dengan tuntutan pasal 351 ayat 1 KUHP. Bahkan, Sunadi akan ditahan oleh Polres Sampang. Padahal, ancaman hukumannya di bawah lima tahun. ”Saya rasa itu hanya untuk menakut-nakuti klien saya ini,” terangnya.

Marsuto mengungkapkan, setelah itu ada oknum penyidik Unit III Polres Sampang yang mengaku sebagai Kanit mendatangi korban. Oknum tersebut meminta uang Rp 20 juta jika Sunadi tidak ingin ditahan. Lalu, diberi Rp 9 juta dan ditambah lagi sampai mencapai Rp 11 juta.

”Penyidik ini sudah tidak profesional karena meminta sejumlah uang. Ini yang sangat fatal menurut saya. Makanya saya laporkan ke propam polda,” ujarnya.

Sebelumnya, pihaknya meminta penyidik menghentikan supaya kasus penganiayaan yang dilaporkan oleh istri Samid. Akan tetapi, sampai saat ini tidak ada tanggapan. ”Karena kami menganggap bukan tindak pidana,” paparnya.

Menurut Marsuto, berdasar pasal 49 KUHP dalam keadaan terpaksa bisa membela diri dan membela orang lain. Sebab, saat itu Sunadi melawan dengan tangan kosong. Sementara pelaku menggunakan celurit. ”Kami harap kasus ini segera diproses propam polda, sehingga penyidik unit III Polres Sampang semakin profesional,” harap Marsuto.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengatakan, pihaknya akan mengecek kebenaran yang dilaporkan ke propam tersebut. Jika memang benar, pihaknya akan menindak tegas anggota yang berbuat demikian. ”Jika terbukti, kami akan berikan punishment,” tegasnya. 

(mr/rus/luq/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia