Jumat, 19 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Sumenep

Wow! Produksi Garam Lebihi Target Hingga 250 Ribu Ton Petani Sumringah

Minggu, 07 Oct 2018 16:09 | editor : Abdul Basri

KERJA KERAS: Sinawar memanen garam d

KERJA KERAS: Sinawar memanen garam d (ALI HAFIDZ S/Radarmadura.id)

SUMENEP – Kemarau panjang tahun ini membuat produksi garam PT Garam (Persero) meningkat jauh di atas target. Bahkan, jika musim kemarau sampai November, produksi diperkirakan lebih dua kali dari target produksi garam tahun ini. 

Musim ini PT Garam (Persero) menargetkan produksi 350 ribu ton. Hingga awal Oktober ini target tersebut sudah jauh terlampaui. ”Produksi garam tahun ini melimpah. Dari target kami yang hanya 350 ribu ton, September lalu sudah terlampaui. Saat ini produksi garam sudah lebih 250 ribu ton dari target,” jelas Direktur Utama (Dirut) PT Garam (Persero) Budi Sasongko, Sabtu (6/10). 

Budi menjelaskan, hingga awal Oktober produksi garamnya sudah mencapai 600 ribu ton atau lebih banyak 250 ribu ton dari target. Dia memperkirakan, jika sampai November nanti masih kemarau, produksi garam bisa mencapai 750 ribu ton atau lebih banyak 400 ribu ton dari target produksi tahun ini. 

Meski begitu, Budi mengaku masih akan tetap membeli garam rakyat. Menurut dia, semakin banyak produksi garam, kebutuhan garam di Indonesia makin bisa teratasi. ”Kami memiliki pabrik pengolahan yang siap menampung. Jangan khawatir, garam rakyat tetap akan kami beli berapa pun banyaknya,” katanya. 

Sinawar, warga Dusun Kauman, Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, berharap harga tetap berpihak kepada petani. Dia mengatakan, awal musim tahun ini harga garam Rp 2,5 juta atau Rp 2.500 per kilogram. ”Sekarang murah harganya,” katanya ketika ditemui di lahan pegaraman Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Sabtu (6/10). 

Saat ini harga garam kw-1 Rp 1.400 ribu per kilogram di gudang dan Rp 1.200 di tingkat petani. Garam kw-2 Rp 1.200 di gudang dan Rp 1.000 di petani. ”Kw-3 harganya Rp 1 juta per ton di gudang. Kalau petani Rp 800 ribu” kata kakek tujuh cucu itu. 

Sinawar merupakan pekerja PT Garam (Persero). Dia diberi ongkos dari hasil garam tersebut. Bila hasil garam mencapai 100 sak, petani mendapat 20 sak. Garam itu yang kemudian dijual. ”Kalau gajian harian tidak cukup,” ucapnya.

(mr/aji/luq/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia