Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Api Tak Kunjung Padam Masuk Nominasi Anugerah Wisata

Minggu, 07 Oct 2018 16:05 | editor : Abdul Basri

PANAS: Warga sedang memasak di area Api Tak Kunjung Padam kemarin.

PANAS: Warga sedang memasak di area Api Tak Kunjung Padam kemarin. (ANIS BILLAH/Radarmadura.id)

TLANAKAN – Pembangunan wisata alam Api Tak Kunjung Padam (ATKP) belum ada perkembangan signifikan, baik dari segi pengelolaan maupun fasilitas. Keberadaan wisata di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan itu terlihat kurang terawat.

Kasi Ketenteraman dan Ketertiban (Trantib) Kecamatan Tlanakan Taufik Surowikromo mengatakan, ATKP merupakan wisata paling banyak diminati wisatawan luar daerah. Sebab, ATKP termasuk wisata langka di Jawa Timur. Karena itu, perlu perhatian pemerintah agar dikembangkan.

”ATKP sulit berkembang jika tidak dibantu pemerintah. Pada masa bupati sebelumnya, pernah ada wacana pemerintah akan membangun. Tapi, sampai saat ini tidak ada tidak lanjut,” katanya kemarin (6/10).

Selama ini pemerintah beralasan terkendala lahan milik warga yang ada di sekitar ATKP. Menurut dia, pemerintah harus bisa bernegosiasi secara baik dengan pemilik lahan. Dengan begitu, diharapkan warga sekitar bisa memahami.

Taufik siap membantu pemerintah memberikan pemahaman kepada pemilik lahan.  Apalagi, ATKP masuk dalam nominasi Anugerah Wisata Jawa Timur (AWJ) 2018. ”Lahan yang muncul api itu sudah bukan milik pribadi. Sudah dihibahkan kepada yayasan. Tapi, fasilitas di sekitarnya itu perlu ditata agar lebih menarik,” jelas pria yang mengaku punya lahan di sekitar ATKP.

Kabid Pariwisata Disparbud Pamkesan Halifaturrahman membenarkan ATKP masuk nominasi AWJ 2018. Dewan juri sudah melakukan verifikasi lapangan. Mereka melihat langsung keberadaan destinasi wisata api alam tersebut.

Pria yang akrab dipanggil Mamang itu menyampaikan, pihaknya sudah merencanakan pengembangan ATKP. Yakni, dengan menata pengelolaan terlebih dahulu. ”Kami sudah membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis) di sekitar api alam. Mereka diharapkan menjadi jembatan komunikasi dengan pemerintah,” terangnya.

Mamang mengakui, lahan di sekitar ATKP menjadi masalah utama pengembangan wisata api alam. Kendati demikian, pihaknya terus melakukan komunikasi dengan pemilik lahan. ”Membutuhkan waktu untuk negosiasi,” pungkasnya.

(mr/*/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia