Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Sampang

Moh. Hariyanto,Seniman Asal Sampang Yang Wakili Indonesia di ajang ADF

Minggu, 07 Oct 2018 15:58 | editor : Abdul Basri

MEMBANGGAKAN: Moh. Hariyanto saat mengajar tari di sanggar Sawung Dance Studio di Surabaya beberapa waktu lalu.

MEMBANGGAKAN: Moh. Hariyanto saat mengajar tari di sanggar Sawung Dance Studio di Surabaya beberapa waktu lalu. (MOH. HARIYANTO FOR Radarmadura.id)

Gigih Menekuni Seni Tari sejak 2016 Hingga Bangun Sanggar Sendiri

Prestasi gemilang tidak lepas dari perjuangan yang cukup panjang. Seperti yang diraih oleh Moh. Hariyanto. Putra Sampang ini menjadi satu-satunya orang yang ditunjuk mewakili Indonesia di ajang American Dance Festival (ADF). Semua berkat kegigihannya belajar hingga menguasai seni tari.

DARUL HAKIM, Sampang

PROSES tidak mengkhianati hasil. Moh. Hariyanto, pria kelahiran Desa Tamberu Barat, Kecamatan Sokobanah, Sampang, menjadi perwakilan Indonesia di ajang bergengsi tahun ini. Hari, begitu dia dipanggil, mengalahkan ratusan seniman yang berkarya di bawah naungan Yayasan Kelola Indonesia.

Dia mendapatkan kesempatan sekolah, membuat karya baru, dan mementaskan karyanya di Amerika Serikat Mei lalu. ”Saya tinggal di Amerika Serikat selama enam minggu,” tuturnya, Sabtu (6/10).

Dia ke Amerika Serikat (AS) karena residensi dari Asian Cultural Council (ACC). Hari mendapat rekomendasi dari Yayasan Kelola Indonesia yang merupakan wadah bagi seniman seluruh Indonesia untuk membuat karya. Baik karya inovatif, tari, teater, dan sebagainya. ”Yang mendanai dan men-support Yayasan Kelola Indonesia,” ucapnya.

Pria yang berulang tahun tiap 16 Oktober itu mengaku, untuk mendapat rekomendasi ke ACC sangat sulit. Prosesnya panjang dan dilihat dari prestasi yang diraih sebelumnya. Sebenarnya ada dua tempat yang mewadahi seniman. Di Indonesia ada Yayasan Kelola Indonesia. Sedangkan di Asia yakni ACC.

”Saya dikirim ke AS untuk mengikuti ADF. Itu merupakan ajang koreografi dunia,” ujar pria yang dikaruniai satu buah hati itu. ADF merupakan ajang besar. ”Untuk menuju ke AS, sebelumnya saya terlibat di Europalia. Saya memang terlibat di festival besar di Eropa,” jelasnya.

Sejak itu Hari mulai disorot dan dilihat jejaknya. Dia direkomendasikan ke ADF. Hari mengaku, aktivitas kesehariannya ialah mengajar tari di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Dia mengajar sejak 2014.

”Di STKW saya mengajar tari dan teater. Tarian yang diajari lebih kepada tarian membentuk tubuh. Mencetak tubuh seorang penari supaya lebih bagus. Lebih kepada bengkel tubuh,” bebernya.

Pada 2012, Hari membuat sanggar yang diberi nama Sawung Dance Studio. Anggotanya 20 orang. Sanggar yang dimilikinya itu bukan hanya sekadar sanggar tari. Juga sebagai wadah untuk mencetak penari dan kreografer profesional di Jawa Timur, khususnya Surabaya. ”Wadah ini untuk melakukan proses kreatif melahirkan karya,” tegasnya.

Alumnus Unesa itu menggeluti teater sejak 2014. Sedangkan tari dia tekuni sejak 2006. Hari bukan hanya dikirim ke AS. Tapi juga ke Belgia, Cina, Malaysia, dan Singapura. Mewakili Indonesia merupakan penghargaan besar.

Dia satu-satunya orang yang tahun ini terpilih mengikuti residensi ADF. ”Banyak sekali yang ingin ke AS. Tapi sangat susah untuk dipilih mewakili Indonesia. Alhamdulillah saya satu-satunya orang yang terpilih,” jelasnya.

”Semoga ini menjadi inspirasi bagi seniman lain. Khususnya seniman di Sampang agar bisa bersaing di kancah internasional,” harapnya. 

(mr/*/hud/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia