Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Sumenep

Ratusan Korban Tsunami Warga Sumenep

Sabtu, 06 Oct 2018 11:20 | editor : Abdul Basri

PULANG KARENA MUSIBAH: Dari kiri, Moh. Syafii, Syaiful Bahri, Hasani, Dian Hasira, dan Saatiya ketiba berada di Rumah Perlindungan Sosial (RPS) Sumenep kemarin. Hari ini dijadwalkan pulau ke Pulau Kangean.

PULANG KARENA MUSIBAH: Dari kiri, Moh. Syafii, Syaiful Bahri, Hasani, Dian Hasira, dan Saatiya ketiba berada di Rumah Perlindungan Sosial (RPS) Sumenep kemarin. Hari ini dijadwalkan pulau ke Pulau Kangean. (radarmadura.id)

SUMENEP – Persebaran orang Madura seperti garam. Di mana ada makanan, di situ ada garam. Seperti itu juga dengan orang Madura. Di berbagai belahan dunia hampir dipastikan ada orang Madura dengan berbagai pekerjaan dan profesi masing-masing.

Tidak sedikit warga Sumenep yang juga menjadi korban bencana Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat petang (28/9). Lima korban selamat kini tiba di Sumenep. Mereka berasal dari Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean.

Kemarin pagi (5/10) Jawa Pos Radar Madura menemui korban gempa dan tsunami di Rumah Perlindungan Sosial (RPS). Fasilitas milik Dinsos Sumenep ini berada di Jalan Raung Nomor 54, Panglegur. Sekitar pukul 07.30, JPRM ditemui lima korban gempa dan tsunami.

Mereka dalah Hasani, 32; Saatiyah (istri Hasani), 24; Dian Sahira (anak Hasani-Saatiyah), 4; Moh. Syafii (anak buah Hasani), 17; dan Syaiful Bahri (saudara Saatiyah), 19. Kelima orang itu sama-sama berasal dari Desa Angon-Angon, Kecamatan Arjasa.

”Kami semua satu keluarga yang selamat dari gempa dan tsunami di Kota Palu,” kata Hasani.

Dia sudah hampir 13 tahun membuka usaha di Kota Palu. Tepatnya di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Talise, pertigaan kampung nelayan, Kecamatan Palu Timur. ”Saat kejadian yang menakutkan itu anak saya ada di luar rumah. Sementara saya sedang mandi mau salat Magrib,” tuturnya.

Sesaat kemudian suasana sudah mengguncang. Laki-laki bertubuh kurus itu menarik istri dan menggendong anaknya untuk berlari ke gunung. Semua berlari. Jarak dari rumah yang ditempati ke gunung sekitar satu kilometer. ”Tiga hari tiga malam kami ada di gunung. Kalau sama adik ipar ketemu di gunung,” tambahnya.

Harta di rumah yang terbuat dari papan semua ditinggal. Baik sepeda motor dan barang dagangan. Semua barang-barang itu diperkirakan lebih dari Rp 200 juta. Semua tetangga di tanah rantau itu rata-rata banyak orang Madura. Mereka berjualan skotlet, stiker, masker, minuman, kaus tangan, dan kaca mata.

Dia mengaku melihat sendiri bagaimana air laut itu datang dan menerjang. Juga gempa yang menimpa. Guncangan pertama tidak terlalu keras. Pada gempa yang kedua lebih keras lagi. Jarak dari rumah ke laut sekitar 200 meter.

Rumah itu milik sendiri. Namun tanah yang ditempati ngontrak. Setahun Rp 15 juta. Suasana dan perasaan saat di pengungsian lebih menakutkan karena ada kabar kalau akan terjadi gempa lebih dahsyat. ”Kalau di pesisir biasanya setiap hari jadi tempat mahasiswa bersantai dari sore sampai malam,” katanya.

Dari tempat pengungsian semua keluarganya ikut pesawat Hercules ke Makassar. Dari Makassar terbang lagi ke Bandara Juanda. Kamis pagi  (4/10) mendarat di Juanda. Dari Juanda ikut travel ke Sumenep.

Kepala Dinsos Sumenep R. Aminullah mengakui kedatangan korban gempa dan tsunami asal Arjasa. Lima warga itu akan dipulangkan hari ini (6/10) ke Kangean. ” Pemerintah yang menanggung biayanya,” katanya.

Mantan kepala bappeda itu mengungkapkan, saat ini masih ada ratusan korban gempa dan tsunami asal Sumenep dalam perjalanan. Mayoritas berasal dari kepulauan. Informasi tersebut diterima dari camat Arjasa. Sementara ada 150 korban, kemungkinan bisa bertambah.

”Bila pemprov tidak bisa memulangkan warga Sumenep yang selamat dari tragedi gempa dan tsunami, kami yang akan menjemputnya,” katanya. Pihaknya saat ini sudah mempersiapkan tenda. Sebab, bila mereka datang, kapasitas ruang RPS ini tidak cukup.

Pihaknya sudah bekerja sama dengan dinas kesehatan, BPBD, dan pihak rumah sakit untuk menangani ratusan korban bencana itu. Dia berharap, dengan bantuan pemerintah nanti tidak menambah beban mereka untuk kembali ke rumah asal.

Sementara itu, puluhan aktvis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan Komisariat STAINATA Sampang melakukan aksi penggalangan dana kemarin (5/10). Aksi tersebut dilakukan di simpang empat Jalan Jaksa Agung Suprapto, Sampang.

Asmaun, seorang pengendara mengapresiasi penggalangan dana itu. Aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian sosial dan mempunyai tujuan mulia. ”Meskipun yang saya sumbang tidak banyak, semoga bisa membantu meringankan penderitaan saudara kita yang menjadi korban bencana itu,” ucap warga asal Kecamatan Torjun itu. 

Pria 45 tahun itu juga berharap Pemkab Sampang ikut membantu meringankan penderitaan masyarakat Palu dan Donggala dengan menyalurkan bantuan. Sebab, menggalang dana untuk warga yang tertimpa musibah akan mendapatkan pahala dan mengurangi dosa yang pernah diperbuat atau dilakukan.

Ketua Umum HMI Komisariat STAINATA Sampang Syamsul Hadi menyampaikan penggalangan dana itu akan dilaksanakan hingga hari ini. Selain di Jalan Jaksa Agung Suprapto, mahasiswa menyebar ke Jalan Diponegoro dan kantor-kantor pemerintah.

”Selain menggalang dana, kami juga menggelar tahlil bersama di sekretariat untuk mendoakan arwah korban yang meninggal dunia. Semoga tidak terjadi lagi bencana yang serupa di Indonesia.”

(mr/*/nal/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia