Rabu, 12 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Pak Haji Sediakan Bilik Asmara Esek-Esek

Ngaku Bangun Warung Atas Rekomendasi Bupati

05 Oktober 2018, 09: 15: 59 WIB | editor : Abdul Basri

EKSEKUSI: Satpol PP dibantu TNI dan Polri membongkar bilik esek-esek di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Sampang, Kamis (4/10).

EKSEKUSI: Satpol PP dibantu TNI dan Polri membongkar bilik esek-esek di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Sampang, Kamis (4/10). (RUSYDI ZAIN/Radarmadura.id)

SAMPANG – Penyediaan bilik asmara terkesan dibiarkan di Kabupaten Sampang. Terungkap warung milik H Sanidi, 47, di Dusun Sumber Otok, Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Sampang terdapat bilik asmara lengkap dengan perempuan nakal. Pak Haji itu mengakui jika dirinya mengakomodasi perempuan nakal ke kota-kota.

”Daripada masuk ke pelosok desa dan merusak, maka saya sediakan tempat di sini. Dan tempat yang kami sediakan ini di belakang. Menutupi aib,” terang pria yang akrab dipanggi Haji Junaidi itu.

Menurut dia, wanita di tempat dua orang. Mereka berasal dari luar Madura. ”Warung dan tempat itu sudah enam tahun saya dirikan. Tapi, saya menempati rumah ini sejak 2011 atas rekomendasi dari bupati Sampang,” terangnya.

Empat bilik tempat esek-esek itu dibongkar, Kamis (4/10). Tempat tersebut sempat lolos dari operasi tim gabungan satpol PP, TNI, dan Polri pada Jumat malam (28/9). Penyebabnya, lokasi yang ditempati itu merupakan lahan reklamasi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Setelah melakukan koordinasi dengan pemprov, keluarlah perintah untuk melakukan pembongkaran terhadap tempat prostitusi. Atas dasar itu, tim gabungan satpol PP, TNI, dan Polri langsung melakukan eksekusi.

Pembongkaran bilik asmara itu membutuhkan waktu lebih kurang satu setengah jam. Bilik  itu terbuat dari kayu papan dan gedek. Di dalamnya dilengkapi dengan kasur, tisu, hand and body, dan air minum.

Saat penggerebekan petugas tidak mendapati wanita penghibur yang biasa mangkal. Tim gabungan hanya melakukan pembongkaran tanpa mengamankan pemilik maupun penyedia dan pengguna jasa layanan.

Empat bilik itu dibangun di belakang warung sekaligus tempat tinggal Haji Junaidi. Dua bilik berdempetan menghadap ke barat dilengkapi kamar mandi di sebelah selatan. Dua bilik yang lain, lima meter di sisi selatan.

Dua bilik yang menghadap ke selatan itu satu kamar untuk tempat karaoke. Di dalamnya dilengkapi meja dan karpet merah lesehan. Satu kamar lagi merupakan kamar kosong yang diduga sebagai tempat mangkal perempuan.

Kabid Penegakan Perda dan Trantibum Satpol PP Sampang Chairijah mengatakan, pembongkaran hanya dilakukan pada dua bilik. Dua bilik yang tersisa diberi waktu 10 hari untuk dibongkar sendiri oleh pemiliknya. Eksekusi ini merupakan tindak lanjut laporan kiai dan masyarakat.

Tempat ini sudah lima kali terjaring operasi. Wanitanya juga sudah pernah kami amankan, dibina, dan dikembalikan ke kota asal. Mereka berasal dari Tuban, Trenggalek, Probolinggo, dan Jember. Pembongkaran ini merupakan akumulasi dari surat peringatan pertama dan kedua sejak 2017. ”Lokasi ini tidak ada perubahan,” terangnya.

Keberadaan bangunan tersebut melanggar dua perda. Yaitu, Perda 7/2015 tentang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat serta Perda 9/2016 tentang Pendirian Pembangunan. ”Kami hanya melakukan pembongkaran. Pemiliknya tidak kami amankan,” jelas Chairijah.

Haji Junaidi tidak mempermasalahkan pembongkaran tim gabungan itu. Dia juga mengaku bersalah dan melanggar. Namun, dia meminta supaya proses pembongkaran mengedepankan nilai kemanusiaan. ”Saya siap menerima dengan rela hati karena ini kesalahan saya,” ujarnya.

Dia mengaku hanya sebagai penerima perempuan yang akan bekerja di tempatnya. Sebab, mereka dianggap sebagai tamu. Pertimbangannya, daripada berkeliaran di luar dan tidak terakomodasi. ”Saya tidak menjual minuman dan perempuan. Saya hanya menerima semua tamu yang datang ke sini,” katanya.

(mr/rus/luq/fat/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia