Rabu, 12 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Features

Mobil Dinas Di Pamekasan Bakal Dihias Corak Batik

03 Oktober 2018, 09: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TEKUN: Sunni, 45, perajin, melukis batik di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan.

TEKUN: Sunni, 45, perajin, melukis batik di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan. (PRENGKI WIRANANDA/Radarmadura.id)

MOMENTUM Hari Batik Nasional ditindaklanjuti Pemkab Pamekasan. Masyarakat dan pemerintah bangga terhadap produk yang tembus pasar internasional itu. Bupati Badrut Tamam akan mewajibkan mobil dinas (mobdin) di-branding batik.

Sejak awal, pasangan Baddrut Tamam-Raja’e berkomitmen mengembangkan batik. Bahkan, baju khas pasangan muda tersebut merupakan batik tulis hasil karya warga Pamekasan. Komitmen itu akan dilanjutkan. Salah satunya, membantu masyarakat dari sisi promosi hingga permodalan. Pemerintah bakal mengembangkan industri batik secara maksimal. ”Masih kami atur teknisnya,” katanya.

Anggota Komisi II DPRD Pamekasan Harun Suyitno adalah salah seorang yang mendukung langkah tersebut. Menurut Harun, batik sangat populer di Pamekasan. Bahkan, beberapa tahun lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepincut degan batik tulis hasil karya warga Kota Gerbang Salam.

Karena itu, pemerintah harus mendorong industri tersebut. Jika selama ini pemerintah kurang responsif, dengan kepemimpinan baru itu, harus ada perubahan lebih nyata. Program pembinaan dan promosi harus maksimal agar batik semakin berkembang. ”Batik membuka peluang ekonomi yang sangat besar,” katanya.

Politikus PKS itu menyampaikan, Pamekasan memiliki sentra batik di Desa Klampar, Kecamatan Proppo. Pemerintah juga bisa mengembangkan menjadi destinasi wisata. Antar organisasi perangkat daerah (OPD) bisa bersinergi mengembangkan industri rumahan yang go international itu.

Pria yang juga anggota Banggar DPRD Pamekasan itu menyampaikan, wakil rakyat bakal mendukung penuh pengembangan batik. Tinggal eksekutif yang harus kerja ekstra berinovasi dan berkreasi dalam mengembangkan industri batik. ”Jangan sampai seperti yang dulu-dulu, tidak ada langkah konkret yang dirasakan masyarakat,” tandasnya.

Abd. Salam, 25, perajin batik, asal Desa Klampar, mengatakan, peminat batik tulis mulai sepi. Akibatnya, produksi menurun lantaran perajin khawatir tidak laku. Bahkan, ada yang hanya mengandalkan pesanan.

Harga batik tulis mulai Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah. Bergantung pada kualitas. ”Kalau yang pembuatannya sampai bulanan, harganya jutaan,” katanya Selasa (2/10).

Beberapa waktu terakhir, harga batik mulai kendur. Ada penurunan harga yang cukup signifikan. Banyak batik cap luar daerah masuk Pamekasan. Harganya jauh lebih murah daripada batik tulis.

Masyarakat lebih memilih batik cap meski kualitasnya tidak sebagus batik tulis. Penurunan harga terjadi. Batik tulis yang biasa dijual paling murah Rp 60 ribu hanya laku Rp 50 ribu. ”Pemerintah harus mencari solusi yang terbaik,” katanya.

Salam menyampaikan, promosi pemerintah terkesan kurang maksimal. Bantuan permodalan yang didengungkan juga tidak sampai pada perajin. Masyarakat mengandalkan modal pribadi tanpa bantuan pemerintah.

Pinjaman bunga murah juga hanya kabar. Tidak sampai pada perajin. ”Saya dengar ada program bantuan, tapi tidak tahu realisasinya bagaimana,” katanya.

Salam berharap, pemerintah serius mengembangkan industri batik. Batik tidak hanya diminati warga Indonesia. Masyarakat luar negeri juga banyak yang menyukai batik. Apabila pemerintah bersinergi dengan perajin, industri tersebut bisa mendorong perkembangan daerah. ”Kalau di Sumenep terkenal dengan Kota Keris, Pamekasan bisa jadi kota batik,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan Bambang Edy Suprapto mengatakan, promosi batik dilakukan secara optimal hingga luar daerah. Mengenai pembeli yang sedikit, menurut Bambang, tidak hanya terjadi di Pamekasan. Di daerah lain juga sepi. Sebab, situasi ekonomi nasional memang lagi lesu.

Banyaknya batik luar daerah, kata dia, juga dijual oleh warga Pamekasan. Dia yakin orang luar daerah tidak mungkin menjual batik ke Pamekasan. ”Ini memang harus dibasmi. Meskipun baik dan murah jangan beli,” tandasnya. 

(mr/pen/luq/fat/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia