Rabu, 12 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Features

Menakjubkan! Batik Assalam Sumenep Hadirkan Nuansa Alam

03 Oktober 2018, 09: 15: 59 WIB | editor : Abdul Basri

LESTARI: Siswa sekolah dasar belajar membatik di Galeri Tresna Art Bangkalan selasa (2/10).

LESTARI: Siswa sekolah dasar belajar membatik di Galeri Tresna Art Bangkalan selasa (2/10). (A. YUSRON FARISANDY/Radarmadura.id)

Batik Madura menawarkan khas berbeda dengan daerah lain. Keberagaman corakpun berbeda diantara empat kabupaten di Madura. Salah satunya produk unggulan hasil karya seorang pemuda di Sumenep. Batik Assalam contohnya, corak dan motif kerajinan adalah hasil konsep lukisan alam yang masih diproduksi secara terbatas. Inilah laporan Radarmadura.id pada peringatan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober.

PEMBATIK konvensional cukup banyak di Sumenep. Mereka menyebar di berbagai kecamatan. Tetapi, pembatik yang menggunakan konsep lukisan alam bisa dihitung jari. Salah satunya, Homaidy Ch, yang melahirkan batik Assalam dengan motif alam sekitar.

Kru Radarmadura.id mendatangi padepokan Batik Assalam di Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, selasa (2/10). Jarak tempuhnya cukup jauh dan berada di atas bukit. Butuh waktu sekitar 40 menit dengan kendaraan bermotor dari jantung Kota Sumekar.

EKSOTIK: Batik Assalam yang diproduksi di Kebun Assalam, Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, hadir dengan nuansa alam sekitar.

EKSOTIK: Batik Assalam yang diproduksi di Kebun Assalam, Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, hadir dengan nuansa alam sekitar. (IMAM S. ARIZAL/Radarmadura.id)

Orang yang melintas di area tersebut tidak akan menyangka bahwa di bukit yang jauh dari perkampungan warga itu ada padepokan batik. Apalagi di sekeliling lokasi hanya terdapat kebun jambu mete. Alam sekitar juga cukup gersang. ”Awalnya di sini cukup angker,” kata Homaidy.

Bahkan dulu, tambahnya, sempat tersohor di masyarakat bahwa ke timur dari padepokan yang dia tempati sekarang dikenal angker. Setiap saat ada penampakan perempuan berpakaian merah dan berambut pirang yang dilihat warga. Terutama di waktu petang atau malam hari. ”Orang-orang pada takut mau lewat di situ,” jelasnya sembari menunjukkan lokasi tempat dikabarkan ada penampakan.

Karena itulah, dia pernah membuat batik bertema setan mengintip setan. Tidak dijelaskan apa maksud setan mengintip setan tersebut. Saat ditanya lebih dalam, Homaidy hanya ngakak.

Kebun Assalam merupakan aset milik Pondok Pesantren Annuqayah. Kebun ini dibeli 30 tahun lalu. Nama Assalam diberikan oleh KH Abdul Basith AS.

Puluhan tahun kebun tersebut tidak ada yang mengelola. Hingga 2014, Homaidy menawarkan diri untuk tinggal di tempat tersebut. Awalnya para kiai Annuqayah sempat tidak percaya dengan keinginan Homaidy itu.

”Tapi, saya sampaikan kepada Kiai Miming (M. Zammil Muttaqin, Red) dan Kiai Nunung (M. Ainul Yaqin, Red) bahwa saya serius,” jelasnya. ”Keputusan untuk menempati kebun ini saya putuskan setelah salat Duha,” tegasnya.

Alam sekitar menjadi inspirasi Homaidy untuk membatik. Dia mengambil tema-tema lingkungan. Mulai tema tembakau Prancak yang memang masyhur. Hingga hewan-hewan buas di Kebun Assalam. ”Ada batik dengan tema ular naga. Itu karena di sini memang banyak ular,” papar suami Mus’idah tersebut.

Homaidy dibantu delapan karyawan ketika membatik. Dalam sebulan bisa dihasilkan 30 lembar. Hasil batik tersebut dipasarkan di kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. ”Batik yang dibuat di sini konsepnya kontemporer. Jadi, yang banyak beli justru masyarakat luar Madura,” urainya.

Harga batik Assalam bervariasi. Ukuran standar antara Rp 175 ribu hingga Rp 500 ribu. Untuk kualitas atas bisa mencapai Rp 1,5 juta, bergantung pada kesulitan motif dan lama pembuatan.

Bagi masyarakat sekitar, harga batik tersebut dinilai mahal. Karena itu, batik-batik Assalam lebih banyak dipromosikan ke luar daerah. ”Untuk warga sekitar justru saya kasih secara gratis. Sebab, mereka gak berani beli, harganya dinilai mahal,” tambahnya.

Pertama Batik Patenteng

OWNER Batik Tresna Art Supik Amin tetap mempertahankan produksi batik tulis. Meski warna lebih cerah dan harga murah, ada hal lain yang perlu diperhatikan dengan menjamurnya batik printing. ”Sekarang ada juga printing yang dicelup pada malan dan diwarnai ulang untuk mengelabui pembeli,” ungkapnya kemarin (2/10).

Dia berharap pengusaha mengutamakan batik tulis. Dengan begitu, perajin batik tulis tetap produktif berkarya untuk membantu perekonomian mereka. ”Kehadiran printing ini menjadi tantangan bagi eksistensi batik tulis. Motif batik printing itu dari batik tulis. Produksinya bisa lebih cepat,” terangnya.

Proses regenerasi juga perlu. Karena itu, pihaknya melakukan pembinaan kepada peserta didik. Mulai siswa SD, SMP, hingga SMA. Juga peserta didik berkebutuhan khusus dari sekolah luar biasa (SLB). Pelajar biasa datang ke Galeri Tresna Art setiap Sabtu dan Minggu. ”Sudah lama biar pembatik tidak hanya tinggal yang tua,” ujarnya.

Sampai saat ini, tidak ada patokan harga dalam penjualan batik tulis. Jenis batik tulis gentongan Tanjungbumi ada yang tembus di atas Rp 10 juta. Bergantung pada pembuatan. Batik gentongan bisa selesai paling cepat enam bulan. Bisa setahun lebih. ”Raja Brunei dan raja Malaysia pernah membeli batik di sini (Tresna Art, Red),” terangnya.

Nuris Sobah, 12, siswa SD di Bangkalan, senang bisa belajar membatik. Dari hasil pembinaan itu, dia pernah menjuarai lomba membatik tingkat kabupaten. ”Prosesnya lumayan sulit. Tapi, sudah mulai bisa,” tutur siswi 12 tahun itu.

Kepala Disperinaker Bangkalan Aminah Rachmawati mengatakan, industri batik terus berkembang. Salah satunya batik Tanjungbumi. Dulu batik masih berbasis home industry. Belum diproduksi besar-besaran. Saat ini banyak pengusaha batik yang membina para perajin. ”Perajin sudah banyak berinovasi,” ucapnya.

Dia mengaku terus mendorong perajin batik untuk tetap produktif. Daya jual batik tulis asli Bangkalan tetap bersaing di pasaran dengan produk-produk lain. Termasuk dengan hadirnya batik printing. ”Kami tidak bisa melarang untuk bisa menutup usaha batik printing. Tapi, kami tekankan untuk lebih memprioritaskan penjualan batik tulis,” tegasnya.

Pemerhati batik Fajar Iriyadi menerangkan, batik pertama di Bangkalan yaitu batik Patenteng di Kecamatan Modung. Sekitar abad ke-17 batik tulis tersebut sudah ada di Kota Salak. Saat ini tinggal sekitar tujuh perajin. Batik ini dikenal dengan motif laut. ”Paling banyak perajin di Tanjungbumi. Mulai ada sekitar abad ke-18,” paparnya.

Dulu batik bukan untuk baju. Bukan untuk laki-laki. Batik dibuat dalam bentuk sarung perempuan, samper, selendang, dan gendongan. ”Pada perkembangannya, batik dipakai untuk bahan baju, dipakai laki-laki, dan semacamnya,” kata pria yang juga desainer batik itu.

(mr/mam/bad/luq/fat/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia