Rabu, 12 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Sumenep

Pengembangan Wisata Terkendala Kualitas SDM

03 Oktober 2018, 02: 50: 20 WIB | editor : Abdul Basri

BERPOTENSI: Pengunjung berfoto di lokasi wisata Pulau Gili Labak, Sumenep, beberapa waktu lalu.

BERPOTENSI: Pengunjung berfoto di lokasi wisata Pulau Gili Labak, Sumenep, beberapa waktu lalu. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/radarmadura.id)

SUMENEP – Kabupaten Sumenep memiliki potensi wisata luar biasa. Hal tersebut mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Sayangnya, kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kota Keris dinilai belum memadai.

Salah satu destinasi wisata yang dikembangkan adalah Gili Labak. Pulau mungil yang masuk wilayah Kecamatan Talango itu memiliki pemandangan indah. Dari sana bisa melihat matahari terbit dan tenggelam. Pasir putih serta terumbu karang yang indah juga menjadi daya tarik dari pulau yang dihuni oleh 37 kepala keluarga (KK) itu.

Bahkan, potensi Pulau Gili Labak mendapat pengakuan dari Ketua Nelayan Samudera Bakti Desa Bangsring, Banyuwangi, Ikhwan Arief. Dia mengakui bahwa potensi wisata Gili Labak mengalahkan wisata Pantai Bangsring yang dikelolanya.

”Kalau potensi sebenarnya Gili Labak ini mengalahkan wisata yang kami kelola. Yang paling mencolok dari potensi di Gili Labak ini sebenarnya adalah terumbu karangnya. Di sini terumbu karang sangat rapat dan kondisinya masih sangat bagus. Di samping itu, potensi yang lain seperti pasir yang benar-benar berwarna putih dengan tekstur bervariasi,” ucapnya.

Pria berdarah Sumenep itu sangat menyayangkan lambatnya perkembangan wisata di Sumenep. Menurut dia, salah satu penyebab lambannya pengembangan wisata di Kota Sumekar adalah rendahnya kualitas SDM masyarakat.

”Mindset masyarakat di sini belum bisa diajak untuk pengembangan. Harusnya pemerintah lebih sering hadir dalam hal ini. Sebab, meskipun pihak swasta bisa mengembangkan, tapi pemerintah harus jadi garda terdepan untuk mengubah mindset masyarakat,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan pengelola Wisata Taman Sari di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, Mahsun. Menurut dia, selain SDM, kendala pengembangan wisata di Sumenep adalah masalah manajemen.

”Begini, sebagus apa pun potensinya, sebanyak apa pun dana yang dikeluarkan untuk pengembangan wisata, kalau manajemennya tidak bagus, lokasi wisata tidak akan berkembang,” jelasnya.

Dikonfirmasi mengenai hal itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep Imam Buchari mengaku bahwa pihaknya sudah berusaha meningkatkan kualitas SDM pelaku wisata di Sumenep.

”Kami memiliki program peningkatan SDM. Namanya peningkatan SDM pelaku wisata. Di sana ada pembentukan pokdarwis dan pemberian sosialisasi terhadap para pelaku wisata di Sumenep,” ucapnya.

Dalam kesempatan ini, Imam tidak menyalahkan pendapat Arief dan Mahsun. Bahkan dia mengaku memiliki kendala dalam pengembangan potensi wisata di Sumenep. Salah satunya adalah banyaknya wisata yang dikelola oleh swasta dan desa.

”Sampai saat ini, hanya ada tiga lokasi wisata yang dikelola Pemkab Sumenep. Yaitu, Pantai Salopeng, Pantai Lombang, dan Museum Keraton Sumenep,” pungkasnya.

(mr/aji/han/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia