Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Razia Tempat Prostitusi, Sisakan Satu Warung Remang-Remang

Senin, 01 Oct 2018 12:00 | editor : Abdul Basri

TIDAK MENYELURUH: Petugas Satpol PP Sampang melakukan penggerebekan dan penyegelan warung remang-remang di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, beberapa waktu lalu.

TIDAK MENYELURUH: Petugas Satpol PP Sampang melakukan penggerebekan dan penyegelan warung remang-remang di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, beberapa waktu lalu. (RUSYDI ZAIN/radarmadura.id)

SAMPANG – Warung remang-remang di wilayah Desa Taddan, Kecamatan Camplong yang diduga menjadi tempat prostitusi masih ada. Saat melakukan razia beberapa hari lalu, satu warung tidak digerebek petugas Satpol PP Sampang.

Kabid Penegakan Perda dan Penertiban Umum Satpol PP Sampang Chairijah mengatakan, warung yang tidak dirazia itu berada di lahan yang merupakan tanggung jawab Pemprov Jatim. Yaitu, lahan reklamasi.

”Banyak laporan dari ulama dan tokoh masyarakat terkait warung yang satu itu. Jadi memang sangat meresahkan,” ujarnya. ”Kalau lokasinya tidak di lahan reklamasi, sudah kami sikat,” sambung dia.

Satpol PP Sampang akan datang ke Pemprov Jatim untuk melakukan koordinasi. ”Jika pemprov memberikan izin kami melakukan razia, kami akan langsung bertindak,” kata Chairijah Minggu (30/9).

Satpol PP lebih pada melakukan pembinaan kepada pemilik warung yang diduga melayani bisnis prostitusi. Jika setelah dilakukan pembinaan tidak berubah, barulah satpol PP mengambil tindakan.

Chairijah meminta seluruh elemen masyarakat ikut menjaga lingkungan sehingga tidak ada prostitusi. ”Kalau pada saat kami melakukan penindakan ada perempuan dan sedang bertransaksi, kami amankan pemilik warung,” tegasnya.

Namun sayang, pernyataan Chairijah itu tidak sesuai dengan kenyataan saat melakukan razia beberapa hari lalu. Waktu itu, satpol PP tidak menangkap pemilik warung yang diduga membuka dan melayani praktik prostitusi.

Untuk diketahui, warung yang tidak tersentuh satpol PP lokasinya sekitar 500 meter dari warung yang disegel beberapa waktu lalu. Padahal, warung itu diduga menyediakan banyak wanita untuk para lelaki hidung belang.

Wanita tersebut diduga didatangkan oleh pemilik warung dari luar Madura. Modusnya, dijadikan sebagai pelayan kopi. Setelah menyajikan secangkir kopi pada tamu yang baru datang, wanita tersebut menawarkan masuk kamar dengan tarif terbilang terjangkau. Hanya sekitar Rp 100 ribu.

Ketua Komisi I DPRD Sampang Aulia Rahman mengatakan, penegakan perda harus terus ditingkatkan. Penegakan perda tidak boleh tebang pilih. ”Penegak perda harus tegas dan jangan tebang pilih,” katanya.

Dia menyatakan, reklamasi dan prostitusi melanggar perda. Maka dari itu, jangan sampai pemerintah membiarkan. ”Kami dukung pembersihan tempat prostitusi,” pungkasnya.

Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto mendukung langkah satpol PP. ”Prostitusi tidak boleh ada dan harus diberantas,” tegasnya.

(mr/rus/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia