Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Features

Frengki Yudis Prasetyo, Pemuda yang Memiliki Segudang Prestasi

Pernah Dilarang, Anggap Silat Tak Penting

Sabtu, 29 Sep 2018 10:54 | editor : Abdul Basri

MEMBANGGAKAN: Frengki Yudis Prasetyo menunjukkan medali dan piala yang diraihnya dari berbagai lomba pencak silat.

MEMBANGGAKAN: Frengki Yudis Prasetyo menunjukkan medali dan piala yang diraihnya dari berbagai lomba pencak silat. (ALI HAFIDZ S./radarmadura.id)

SUMENEP - Prestasi itu sangat membanggakan. Frengki Yudis Prasetyo membuktikannya. Hobi olahraga pencak silat mengantarkan anak desa itu monoreh prestasi. Sekaligus dapat beasiswa.

 Nama lengkapnya Frengki Yudis Prasetyo. Pemuda 25 tahun itu baru pulang dari Kota Bandung. Di kota kembang itu Frengki melanjutkan studi di Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Pada 10 Oktober nanti, dia akan diwisuda. Setelah menempuh pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi (penjaskesrek).

Jumat (28/9) Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mendatangi rumah Frengki. Nama dusun, desa, dan kecamatannya sama. Saronggi. Dari jantung Kota Sumenep butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di rumah yang menghadap ke timur itu. Mengendarai motor dengan kecepatan sedang.

”Silakan duduk, Mas,” ucap Frengki memperilakan JPRM.

Sofa merah terbuat dari kayu jati menyapa di ruang tamu. Suasana di dalam rumah itu banyak foto terpajang. Mulai foto sejak masih sekolah hingga saat kuliah. Juga ada foto bersama dengan teman-temannya di Bandung.

Di lemarinya terletak dengan rapi sejumlah medali. Ada perak, perunggu, emas, dan sejumlah piala. Semua itu hasil perjuangan Frengki dalam ajang lomba olahraga pencak silat.

Dia memulai pendidikan dasar di SDN 1 Saronggi. Lulus 2005. Lanjut ke SMPN 1 Saronggi hingga lulus pada 2008. Setelah itu, ke SMAN 1 Bluto. Lulus 2011. ”Sampai kuliah S-1 di STKIP PGRI Sumenep. Lulus tahun 2015,” ucapnya.

Ketika kuliah di Kampus Taneyan Lanjang itu, dia mengambil jurusan yang sesuai dengan hobinya. Yakni, jurusan penjaskesrek. Menyukai olahraga pencak silat sejak duduk di bangku SMPN. ”Awalnya ikut-ikutan saja. Nama olahraga silatnya Nur Harias” katanya.

Frengki sering menyabet prestasi mulai 2008. Saat itu duduk di bangku SMPN 1 Saronggi. Awal masuk SMAN 1 Bluto, dia tidak bisa mengikuti masa orientasi siswa (MOS). Sebab, saat itu dia ikut pertandingan di Kota Malang. ”Saat itu saya diizinkan oleh sekolah mengikuti lomba se-Jawa Timur tingkat perguruan di Universitas Negeri Malang (UM). Alhamdulillah saya dapat juara satu,” kenang putra pasangan Sudarsono, 56, dan Asyani, 45, itu.

Sebelum berangkat, Frengki tidak diberi izin oleh orang tua. Mereka, kata Frengki, menganggap olahraga silat tidak penting. Tapi setelah berusaha dan bersunggguh-sungguh akhirnya diizinkan juga. Orang tunya luluh dan percaya. Dia pun berangkat untuk bertanding.

Tidah hanya itu. Mulai sejak itu, banyak prestasi yang diraih. Tidak hanya tingkat kabupaten. Dia juga berhasil menyabet prestasi tingkat provinsi hingga nasional. Pernah mewakili Jawa Timur pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2010. Saat itu kelas dua SMA.

”Alhamdulillah saya juara pertama,” katanya. ”Kalah juga pernah. Saat itu bertanding dengan pesilat Kalimantan Timur,” kenangnya ketika menceritakan riwayat pertandingan yang pernah dia jalani.

Setelah itu, Frengki mengikuti Pekan Olahraga dan Seni Nasional Mahasiswa (Porsenasma) 2014 di STKIP PGRI Semarang. Lagi-lagi dia berhasil membawa pulang gelar juara pertama dan dapat medali emas. ”Mempersiapkan butuh waktu tiga bulan,” katanya.

Prestasi yang diraih itu mendukung perjalanannya dalam menuntut ilmu. Sebab, dengan berbagai penghargaan tersebut, dia sering mendapat beasiswa. Saat ini dapat beasiswa lembaga pengelola dana pendidikan (LPDP) di Bandung. ”Alhamdulillah sebentar lagi saya wisuda dan akan kembali ke Sumenep,” tuturnya.

(mr/*/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia