Senin, 10 Dec 2018
radarmadura
 
icon featured
Politik Pemerintahan

Ratusan Caleg Rebut Delapan Kursi

Modal Finansial Dinilai Masih Berpengaruh

Jumat, 28 Sep 2018 14:16 | editor : Abdul Basri

Ratusan Caleg Rebut Delapan Kursi

BANGKALAN – Calon anggota DPR RI yang maju dari daerah pemilihan (dapil) Madura hingga 112 orang. Mereka berkompetisi menuju senayan melalui 16 partai politik (parpol). Padahal, jatah untuk dapil XI hanya delapan kursi.

Data caleg tersebut berdasarkan daftar calon tetap (DCT) yang ditetapkan KPU RI Nomor 1129/PL.01.4-kpt/06/KPU/IX/2018. Dengan hanya delapan kursi tersebut membuat persaingan semakin ketat. Terlebih, yang mendaftar sebagai caleg tidak hanya orang Madura. Akan tetapi, calon wakil rakyat yang tidak berdomisili di Pulau Garam.

Dari 16 parpol yang ikut kontestasi Pemilu 2019 dapil XI, hanya tiga yang tidak mencapai batas maksimal jumlah caleg. Di antaranya, Partai Hanura, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), dan Partai Garuda. Hanura hanya empat caleg. Partai Garuda tiga caleg. Paling sedikit di PKPI yang hanya satu caleg.

Ketua KPU Jatim Eko Sasmito mengutarakan, tidak ada larangan bagi siapa pun yang mau maju dari daerah mana saja, asalkan orang Indonesia. ”Termasuk, dapil Madura. Misalnya, ada caleg bukan orang Madura. Boleh-boleh saja nyaleg di Madura,” kata dia saat dihubungi Kamis (27/9).

Bahkan dia mengungkapkan, banyak calon anggota DPRD Jawa Timur berasal dari luar Jatim. ”Nggak apa-apa. Itu hak caleg dan parpolnya mau memilih dapil,” tuturnya.

Eko menyampaikan, parpol yang tidak mencapai batas maksimal jumlah caleg itu tidak masalah. Asalkan, ketersediaan perempuan di tiap dapil mencapai 30 persen. ”Maksimal delapan orang. Misal kurang dari delapan tidak apa-apa,” terangnya.

Pengamat Politik Surokim Abdussalam tidak menampik jika banyak caleg luar Madura memilih maju dari dapil XI. Itu karena lebih memungkinkan untuk terpilih ketimbang di daerah lain. Sebab, pemilih Madura masih tidak lepas dari budaya transaksional. ”Makanya, tidak heran jika banyak caleg berbondong-bondong maju dari dapil Madura,” kata dia.

Menurut Surokim, caleg yang punya modal logistik finansial itu cukup menentukan untuk terpilih. Sebab, pemilih Madura selalu menganggap setiap pergelaran pesta demokrasi seperti Pemilu 2019,  harus ada imbalan ekonomi yang nyata. ”Ketika itu sudah dipenuhi, suara bisa didapatkan,” ucapnya.

Sebab, kata dia, faktor ketokohan atau figur, latar belakang pendidikan, jaringan, dan modal sosial itu tidak seberapa menentukan untuk di Madura. Ketika orang Madura tidak memiliki kepentingan langsung terhadap calon itu, justru yang terjadi menjadi pemilih yang pragmatis.

”Karena itu, calon harus siap-siap bermodal besar dua kali lipat kalau maju dari Madura. Faktanya memang begitu,” bebernya.

Selain faktor kebutuhan logistik, tokoh-tokoh lokal juga sangat berperan. Tinggal seberapa banyak para calon punya akses. Sebab, nantinya yang bekerja ekstra itu adalah tokoh lokal yang berpengaruh. ”Tokoh lokal itu bisa memainkan perolehan suara. Tapi, itu tidak cuma-cuma. Ya harus pakai modal,” jelasnya.

Surokim menambahkan, kebiasaan semacam ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Dari pemilihan ke pemilihan. Cara untuk mengurangi dan menghasilkan calon wakil rakyat yang berkualitas, semua pihak harus bekerja sama untuk memberikan pengawasan. ”Tapi itu juga agak sulit. Yang bisa dilakukan, pendidikan politik itu penting,” pungkasnya.

(mr/daf/luq/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia