Senin, 10 Dec 2018
radarmadura
 
icon featured
Hukum & Kriminal

Petugas Gabungan Tutup Warung Remang-Remang

Jumat, 28 Sep 2018 14:12 | editor : Abdul Basri

MERESAHKAN: Tim gabungan satpol PP, polisi, dan TNI mengangkut barang dari warung yang diduga dijadikan tempat bertransaksi pekat di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Sampang.

MERESAHKAN: Tim gabungan satpol PP, polisi, dan TNI mengangkut barang dari warung yang diduga dijadikan tempat bertransaksi pekat di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Sampang. (RUSYDI ZAIN/radarmadura.id)

SAMPANG – Pemkab Sampang geram terhadap aktivitas yang meresahkan masyarakat. Tadi malam petugas gabungan yang terdiri dari satuan polisi pamong praja (satpol PP) didampingi polisi dan TNI serta sejumlah pejabat tingkat kecamatan menutup warung remang-remang. Warung yang diduga tempat transaksi prostitusi tersebut berada di Desa Taddan, Kecamatan Camplong.

Operasi gabungan pada pukul 18.30 itu tidak berhasil mengamankan orang yang diduga sering mangkal di tempat itu. Petugas hanya mengosongkan warung karena akan disegel dan ditutup. Sebenarnya, ada dua warung yang kerap disebut jadi tempat bisnis esek-esek di Kecamatan Camplong. Namun, hanya satu lokasi yang ditutup dan disegel.

Sementara, satu warung sekitar 500 meter ke arah timur dari tempat itu tetap dibiarkan. ”Kami bersama polisi dan TNI melakukan penutupan dan penyegelan terhadap warung remang-remang yang selama ini meresahkan masyarakat karena banyak laporan dijadikan tempat transaksi prostitusi,” terang Kabid Penegakan Perda dan Trantibum Satpol PP Sampang Chairijah.

Laporan dan keluhan serta desakan masyarakat masuk sejak tiga bulan lalu. Keberadaan warung tersebut memang sudah meresahkan. ”Sementara hanya satu yang kami tutup, karena satu warung yang tersisa berada di atas tanah provinsi. Kami akan berkoordinasi terlebih dahulu untuk melangkah ke warung satunya,” ujarnya.

Tanah yang ditempati bangunan warung kopi tersebut merupakan tanah kas desa. Saat ini dikembalikan lagi kepada desa karena setelah dicek tidak ada pemasukan dari tanah yang ditempati usaha warung kopi tersebut. ”Segel ini akan kami buka setelah ada pengajuan dari camat,” tegas Chairijah.

Sementara H Tholib selaku pemilik warung kecewa atas tindakan yang dilakukan pemerintah. Sebab, tidak ada pemberitahuan sebelumnya. ”Kami tidak menyediakan wanita. Tapi ketika warung ini buka, ada saja wanita yang singgah ke sini. Itu pun paling lama tiga jam, lalu pergi,” jelas warga Desa Taddan itu.

Warung tersebut merupakan tempat usaha istrinya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dia sangat kebingungan untuk mengepulkan asap dapur jika warung tersebut ditutup. ”Warung ini sudah kami dirikan selama lima tahun di sini,” katanya.

Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto meminta satpol PP bertindak cepat dalam menangani prostitusi. Pihaknya berharap satpol PP ada di barisan terdepan. ”Tidak ada kata kompromi untuk usaha prostitusi itu. Sikat aja. Harus ditutup tempat itu,” katanya.

Pihaknya berharap supaya Sampang tidak dicoreng dengan keberadaan dua tempat maksiat itu. Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda serta seluruh masyarakat harus bisa bersama menutup tempat tersebut. ”Penyakit masyarakat ini harus dikeluarkan dari Sampang. Jika memang ada indikasi yang mengarah ke prostitusi harus segera ditindaklanjuti. Segera beri penindakan,” ujarnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga menegaskan supaya bisnis tersebut diproses secara hukum. Dengan demikian, mampu memberikan terapi kepada yang lain untuk tidak melakukan bisnis serupa. ”Mari bersama-sama menjaga Kota Sampang ini dari hal yang dapat merusak citra dan wibawa Sampang di kacamata publik,” pungkasnya.

(mr/rus/luq/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia