Senin, 10 Dec 2018
radarmadura
 
icon-featured
Politik Pemerintahan

Pemimpin Baru, Harapan Baru

Bersama Membangun Pamekasan Hebat

Selasa, 25 Sep 2018 07:15 | editor : Abdul Basri

PEMIMPIN BARU: Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakil Bupati Raja’e.

PEMIMPIN BARU: Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakil Bupati Raja’e. (radarmadura.id)

SURABAYA – Takdir mempertemukan Baddrut Tamam dan Raja’e menjadi bupati dan wakil bupati Pamekasan 2018–2023. Dua pemuda visioner itu resmi dilantik menjadi pemimpin Bumi Ratu Pamelingan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo di Gedung Negara Grahadi Senin (24/9).

Sebelum menjadi bupati, Ra Baddrut dua periode menjadi anggota DPRD Jatim dari Fraksi PKB. Yakni, periode 2009–2014 dan periode 2014–2019. Sementara Raja’e sebelumnya menjabat kepala Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar.

Ketika masih menjabat sebagai ketua Fraksi PKB DPRD Jawa Timur, ruang kerja Ra Baddrut tampak sederhana. Berukuran sekitar 3x6 meter persegi. Kursi kerja dan beberapa kursi tamu tertata rapi. Beberapa buku tebal berjejer di pojok ruangan.

Sementara di dinding terpajang sebuah lukisan wajah dirinya dan sketsa wajah Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau populer disapa Gus Dur. ”Sejak dulu saya selalu menyukai Gus Dur. Beliau adalah tokoh penting bukan saja untuk warga nahdliyin, bukan hanya bagi kalangan agamais, namun juga menginspirasi segala jenis elemen masyarakat. Beliau adalah inspirator bagi banyak kelompok sosial, dari mulai kelompok kiri sampai kanan,” katanya.

Selain mendapat inspirasi dari Gus Dur, Ra Baddrut juga mengakui mendapat banyak pelajaran langsung dari ayahnya. Setiap kali bertemu, terutama ketika masih berjauhan dengan rumah, ayahnya selalu mengingatkan untuk belajar yang benar, tidak boleh membuat orang lain merasa kesusahan.

”Mon sabakto-bakto ba’en daddi pamimpin se epele oreng. Jareya, ompamaena padha bik oreng lake’ asongotan. Oreng lake’ asongot reya gantheng. Tape, pamimpin se epele reya padha bik songot pasangan ataba songot palsu,” ujar Ra Baddrut, menirukan seperti yang pernah diucapkan ayahnya.

Dijelaskan, jabatan atau posisi yang diperoleh dari hasil pemilihan itu memang terhormat, sama seperti seorang pria berkumis yang gagah. Tapi, kumis itu palsu. Artinya, suatu saat, kumis pasti lepas dari lelaki itu dan saat itulah dia tidak kelihatan ganteng dan gagah lagi.

Dengan demikian, jangan jadikan jabatan dan posisi itu berjarak dengan rakyat. Sebaliknya, jadikan jabatan sebagai wasilah pengabdian. Itulah kalimat yang dipegang Ra Baddrut setiap kali belajar maupun bekerja, baik di rumah atau di kantor, baik di sekolah atau di pesantren, dari dulu hingga sekarang.

”Jika dulu aktivitas saya sebagai aktivis adalah menuntut apa saja yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki masyarakat itu merupakan wasilah kami sebagai pelajar, sebagai mahasiswa. Sekarang saya berharap juga akan senantiasa berada di jalur yang sama, membela mereka yang terpinggirkan, membantu mereka dari kursi jabatan bupati Pamekasan ini,” jelasnya.

Bagi Bupati Baddrut, dirinya hanya ingin konsisten melaksanakan trilogi perjuangan yang beliau yakini. Yakni, sataretanan (memperkuat dimensi persaudaraan sesama warga), ta’ notop parembagan (tidak menutup pintu dialog/musyawarah atau selalu mendengarkan masukan warga), dan menjadikan jabatan sebagai wasilah perjuangan.

Cara itu ditempuh karena Ra Baddrut ingin menjadikan jabatannya sebagai jalan untuk mengajak semua elemen masyarakat Pamekasan membangun kotanya dengan kerelaan dan kemampuan masing-masing. Baginya, pembangunan tidak mungkin dilaksanakan hanya oleh satu atau dua orang. Semua harus dilaksanakan bersama-sama.

Bupati Baddrut berjanji akan merangkul semua elemen masyarakat untuk berbaur bersama membangun Pamekasan. ”Siapa pun yang terpilih dalam pilkada kemarin, sudahlah itu memang takdir Allah Yang Mahakuasa. Setelah pilkada, kita semua harus tetap sataretanan (seduluran). Mari lupakan segala perbedaan, mari kita ciptakan Pamekasan yang kondusif dan sejahtera” ujarnya.

Pada salah satu dinding ruang kerjanya, berderet beberapa foto orang-orang yang pakaiannya sama sekali berbeda dengan dirinya. Ra Baddrut menceritakan sosok yang berada di dalam foto tersebut. ”Itu warga Madura. Yang menunggang becak itu namanya Marsudi. Sebelahnya Ahmad Baihaki, pedagang asongan. Yang menyabit rumput itu Pak Juhari. Di sebelahnya lagi ada Pak Rizki, seorang nelayan. Sementara yang sedang merapikan garam itu Pak Sulistio, salah satu petani garam di Pamekasan,” jelas Ra Baddrut.

Ra Baddrut menjelaskan satu per satu bahwa orang-orang itu adalah orang biasa. Orang yang kerap dipinggirkan. Orang yang sehari-harinya tidak berurusan dengan kertas dan bolpoin. Mereka, dalam bahasa Ra Baddrut, adalah orang jelata yang setiap harinya tidak selalu makan nasi. Nyaris semua anak mereka tidak sekolah formal.

”Saya kadang sedih jika ingat mereka, ingat apa yang mereka lakukan sehari-hari. Saya tak habis pikir bagaimana situasi itu datang kepada mereka. Foto-foto itu sengaja saya pajang di ruangan sejak pertama terpilih sebagai anggota DPRD untuk mengingatkan saya tentang kewajiban saya sebagai pejabat,” kata Ra Baddrut.

”Saya tidak mungkin melupakan mereka. Saya akan gunakan wasilah ini untuk mereka, hanya untuk mereka. Mereka harus dibela dan diperjuangkan,” pungkasnya.

(mr/*/pen/luq/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia