Rabu, 12 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Esai
Catatan dari Kampung Buku Jogja 2018

Ada Apa dengan Madura (AADM)?

oleh Ina Herdiyana*

16 September 2018, 20: 32: 59 WIB | editor : Abdul Basri

PENULIS MADURA: Dari kiri, Muna Masyari, Taufikurrahman, M. Wail Irsyad, dan Shohifur Ridho dalam talk show Kampung Buku Jogja.

PENULIS MADURA: Dari kiri, Muna Masyari, Taufikurrahman, M. Wail Irsyad, dan Shohifur Ridho dalam talk show Kampung Buku Jogja. (SAIFA ABDILLAH FOR radarmadura.id)

Ada apa dengan Madura (AADM)? Mengapa harus Madura? Pertanyaan itu bisa saja muncul ketika seseorang membaca informasi atau menghadiri Kampung Buku Jogja #4. Sebab, Madura ambil bagian di antara rentetan acara 10 September–13 September di Gedung Pusat Kebudayaan Kosnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM itu.

KAMPUNG Buku Jogja merupakan agenda tahunan satuan penerbit indie di Jogjakarta. ”Kampung” memiliki makna tersendiri. Ia menjadi sesuatu yang dirindukan orang-orang perantauan. Ketika jenuh berada di perantauan, pulang adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh. Bahkan, kampung mengandung beberapa hal. Misalnya, kebersahajaan, kesederhanaan, dan keindahan alam sekitar yang tentu tak dimiliki kota. Atas dasar itulah, acara tersebut diberi tajuk Kampung Buku Jogja.

Kampung Buku Jogja mencoba untuk menghadirkan buku-buku layak dibaca, tentu dengan kualitas bagus. Pada perhelatan Kampung Buku Jogja #4 tahun ini, ada hal menarik yang dilakukan panitia dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumya. Tahun ini Madura dijadikan sebagai tamu kehormatan. Hal itu mengingatkan saya pada Frankfurt Book Fair yang digelar di Jerman yang menghadirkan Indonesia sebagai tamu kehormatan.

RUMAH INDONESIA: M. Faizi (kiri) bersama RB Abdul Gaffar (kanan) menjadi pembicara talk show Madura dalam Rumah Indonesia dipandu Edi Mulyono di Gedung PKKH UGM, Selasa (11/9).

RUMAH INDONESIA: M. Faizi (kiri) bersama RB Abdul Gaffar (kanan) menjadi pembicara talk show Madura dalam Rumah Indonesia dipandu Edi Mulyono di Gedung PKKH UGM, Selasa (11/9). (SAIFA ABDILLAH FOR radarmadura.id)

Siapa yang tidak kenal Madura? Dalam sudut pandang geografis, masyarakat dan budaya yang melingkarinya, kesukuannya yang mengikat, atau mitos yang dipercayainya, cara hidup yang berjalan di antara spiritualitas dan modernitas, serta prinsipnya yang kukuh. Semua itu membuat orang Madura dikenal di berbagai penjuru.

Ango’ poteya tolang katembang pote mata. Lebih baik mati daripada hidup menanggung malu. Itulah prinsip orang Madura. Pemberani, memiliki semangat berapi-api, dan rela berkorban demi harga diri. Namun, kadang kala prinsip itu menimbulkan stereotipe negatif yang berbuntut ancaman bagi orang luar Madura. Orang-orang luar Madura bisa saja beranggapan bahwa orang Madura pendendam dan keras.

Di luar pandangan itu, orang Madura terbilang unik dan menggelitik. Banyak yang berkata, Madura satu langkah di depan orang Cina. Mungkin benar. Orang Cina menjual emas, sedangkan di depan toko emas, orang Madura menjual kocor atau sate. Itu bagian dari lelucon yang banyak dijumpai di sekitar kita dan di kota-kota besar.

Misalnya, di Pasar Wonokromo, Pasar Loak, dan Kampung Ilmu di Surabaya serta di Pasar Baringharjo, Jogjakarta. Bahkan, di Makkah, orang Madura banyak berjualan makanan khas nusantara seperti onde-onde, te-ote, urapan, dan tahu isi.

Itulah kompleksitas Madura dalam beberapa stereotipe yang dikenal orang secara umum. Dalam bidang literasi, Madura mampu bersaing dengan daerah lain. Dalam bidang birokrasi pemerintahan kita mengenal Mahfud M.D. Dalam bidang sastra kita mengenal Abdul Hadi W.M. yang pada 1960–1970 karyanya malang melintang di majalah sastra Horison. Ada juga Muhammad Fudoli Zaini yang tinggal di Kairo, Mesir. Tulisan-tulisannya mengalir ke majalah Horison yang sangat terkenal pada zamannya. Kita juga mempunyai budayawan D. Zawawi Imron yang terkenal dengan Celurit Emas-nya. Bahkan, gubernur Jatim yang sangat fenomenal, Raden Panji Mohammad Noer, merupakan orang yang lahir di Pulau Madura.

Di Kampung Buku Jogja #4 ini, Madura dari berbagai hal mencoba untuk didiskusikan. Mulai identitas, kultur, hingga persoalan remeh-temeh yang semua menyangkut kemaduraan. Adalah hal menarik apa yang disampaikan Abdul Gafar Karim dalam talk show pertama bertajuk ”Madura dalam Rumah Indonesia”. Dia membedakan kultur-kultur di Madura. Misalnya, di Madura bagian barat adalah para pekerja keras. Sedangkan Madura di bagian Timur, kultur yang berkembang dekat dengan pengembangan ide dan seputar dunia intelektual.

Akan tetapi, hal itu bukan untuk membedakan mana yang baik dan yang tidak baik. Justru, hal itu menjadi pemantik untuk ditelaah dan digali lebih jauh lagi bagaimana menjadi Madura sampai pada taraf tertentu. Seperti dikatakan Abdul Gafar, ”menjadi lebih daripada mendefinisikan Madura itu sendiri”.

Sesi berikutnya adalah orasi budaya bertajuk ”Madura dalam Rumah Indonesia” oleh Prof. Dr. Malik Madani, M.A. Dia mencontohkan sajak Ahmad Syauqi yang merupakan sastrawan Arab Modern.

”Sejelek-jelek isi alam adalah orang-orang yang bodoh, bebal, berengsek, tidak punya prestasi apa-apa. Yang apabila prestasinya diungguli lalu kalah, mereka menyebut kakek saya dulu lebih hebat, nenek moyang saya dulu lebih canggih dari dia dan sebagainya.

Sebaliknya, sebaik-baik manusia ialah seseorang yang memiliki kemuliaan, nama besar, kebanggaan, dan kejayaan di masa lalu. Dia tegakkan, dia bangun untuk dirinya sebuah kemegahan kejayaan.

Dari puisi Syauqi, dapat dianalisis bahwa prototipe yang membangga-banggakan, mengagung-agungkan, menggema-gemakan nenek moyangnya jumlahnya banyak, sehingga Syauqi dalam puisinya menggunakan makna jamak. Sebaliknya, ketika Syauqi menyebut sebaik-baik manusia, ia menyebut tunggal. Berarti, orang-orang yang rendah diri hanya sedikit.

Latar belakang stereotipe negatif masyarakat Madura disebabkan rendahnya pendidikan. Terbukti, dulu ketika masa kecil Malik Madani, percekcokan yang berakhir dengan pertumpahan darah sudah biasa terjadi. Carok merupakan hal yang lumrah.

Dengan berkembangnya zaman, saat ini pendidikan telah berhasil memberantas hal-hal negatif dari sebagian masyarakat Madura. Kini Madura telah mengukuhkan keberadaannya sebagai salah satu masyarakat kebesaran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam berbagai bidang. Telah banyak putra-putri Indonesia yang berkecimpung di bidang sipil maupun TNI.

Selanjutnya, panitia menghadirkan tiga pembicara muda dari berbagai disiplin ilmu. Yakni,  M. Wail Irsyad dari bidang keaktoran; Taufiqurrahman, penulis yang mewakili generasi muda saat ini; dan Muna Masyari, cerpenis asal Pamekasan.

Dari talk show bertajuk ”Musyawarah Literasi Muda Madura”, penyampaian Taufiqurrahman sangat menarik. Bahkan, menjadi kritik wacana terhadap realitas dan pergerakan dunia literasi Madura saat ini. Ia membaca bahwa penulis Madura saat ini berada dalam jebakan sentimen primordialisme. Taufiqurrahman, mahasiswa filsafat UGM, itu menguraikan melalui teori-teori filsafat yang didalaminya.

Taufiq mencontohkan kuatnya penulis Madura berdiaspora dan lengket dengan kemaduraannya. Baginya, hal itu membanggakan sekaligus mengkhawatirkan dengan pertanyaan yang tumbuh dalam benaknya ”jangan-jangan, oleh karena sentimen primordial itu, para penulis Madura belum melangkah ke mana-mana dan merasa nyaman dalam tempurung kemaduraannya”. Benarkah begitu?

Taufiqurrahman mengambil peristiwa dalam dunia sastra dan penerbitan buku-buku sastra  orang Madura generasi saat ini. Mereka berkumpul atas nama sentimen primordial kemaduraan, membuat penerbit, menerbitkan bukunya di penerbit yang dibuatnya sendiri. Bahkan dalam proses penerbitan, baik editing, maupun kuratorialnya dilakukan oleh teman-temannya sendiri. Tapi, Taufiq memaklumi hal itu sejauh dilakukan dengan cara profesional.

Jika yang dicontohkan Taufiq itu benar, penulis Madura saat ini memang perlu melihat kembali peristiwa literasi yang terjadi dan dialaminya. Kritik yang disampaikan Taufik menjadi sangat penting untuk ditelaah agar di masa yang akan datang, secara perlahan meninggalkan tradisi akut yang menjebak penulis-penulis Madura saat ini. Seperti yang digaungkan dan diteriakkannya dalam esai pengantar diskusi tersebut, ”penulis madura keluarlah dari tempurungnya”.

Rangkaian acara terakhir dari KBJ adalah talk show ”M. Fudoli Zaini: Sastrawan Sufistik Indonesia”. Panitia menghadirkan Kuswaidi Syafi’ie dan Khairus Salim HS. sebagai pembicara. Menurut Kuswaidi Syafi’ie, cerpen-cerpen Fudoli sekan-akan hidup karena ada nuansa puitik dan berbentuk dialog. Fudoli tidak terpengaruh cerpen-cerpen sebelumnya. Tetapi, ia terpengaruh oleh puisi dan sekian banyak idiom yang dibaca.

Sementara Khairus Salim menyatakan, cerpen Fudoli kebanyakan bertema kematian/kehilangan. Fudoli mengeksplorasi rasa kehilangan itu. Kemudian, ditransformasikan menjadi kerinduan untuk bertemu Tuhan. Di situlah letak sufistik cerpen Fudoli. Deskripsinya sangat kuat. Fudoli juga termasuk pengarang yang gampang membunuh tokoh-tokohnya. Banyak cerpen Fudoli yang di akhir cerita tokohnya mati.

Diskusi Kampung Buku Jogja juga dilengkapi parade pembacaan puisi oleh pegiat sastra dari beberapa daerah. Maniro AF., Dirga Ruhu Diyantara, dan Mat Toyu (admin Arsip Puisi dan Arsip Prosa), Salama Elmie (Komunitas Rudal Jogja), Khairur R. Bunang dan Sengat Ibrahim (Lesehan Sastra Kutub), Rosi Praditya (Komunitas Stinggil), dan Faizi Raziqi (Tore Maos, Sumenep).

Yang tak kalah menarik, bahkan menjadi inti acara itu, adalah pameran buku karya penulis Madura dari berbagai daerah. Mulai karya sastra berupa cerpen, puisi, maupun esai. Penelitian yang membahas Madura dan hal ihwal Madura juga ada di sana –turut mewarnai etalase di depan pintu masuk Gedung PKKH UGM.

Selasa (11/9) pukul 14.00, suasana atrium Gedung PKKH begitu riuh. Panitia dengan odheng sibuk terhadap tugas masing-masing. Pengunjung yang terdiri atas tua-muda mulai berdatangan dan memadati setiap stan penuh buku. Salah satunya buku kumpulan cerpen berbahasa Madura Tora terbitan Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Ada yang memilah-milah buku yang hendak dibeli. Ada yang mengabadikan momen dengan kamera gadgetnya di area khusus foto yang disediakan panitia. Ada pula yang menikmati nase’ jagung dan gangan maronggi di sisi kanan panggung. Di tempat itu juga terdapat beberapa deret meja lengkap dengan kursinya. Cocok untuk duduk santai, berdiskusi, dan minum kopi.

Beberapa pengunjung ada yang melihat-lihat etalase cantik berisi buku-buku karya penulis Madura. Di bagian dinding di ruang yang lain terpajang sejumlah foto dan lukisan jejak penulis masa lampau. Yang apabila mengunjunginya, seperti di film Dunia Sophie, seakan-akan diajak menjelajahi mesin waktu yang penuh jejak pengetahuan sebelum kita lahir ke dunia.

Selain buku dan kuliner, panitia menyediakan berbagai suvenir khas Madura. Antara lain, sarung, odheng, kaus, dan lain-lain. 

*)Editor bahasa Jawa Pos Radar Madura.

(mr/*/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia