Jumat, 19 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Kolom

Tantangan Guru Era Digital

oleh Amir*

Senin, 23 Jul 2018 11:06 | editor : Abdul Basri

Tantangan Guru Era Digital

KEBERHASILAN pendidikan siswa tidak lepas dari kemampuan guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi dan pesatnya era digital menuntut kompetensi guru selalu update menjawab tantangan perkembangan teknologi. Hal itu sesuai dengan amanat UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Tantangan guru dalam pembelajaran era digital membutuhkan orientasi baru dalam pendidikan. Pendidikan yang menekankan pada kreativitas, inisiatif, dan inovatif. Di sisi lain masih banyak guru 80-an, sementara muridnya sudah memakai produk digital kontemporer. Akibatnya, sedikit banyak para murid mempunyai pandangan berbeda dengan guru.

Pertumbuhan dan perkembangan era digital ini melahirkan pandangan baru pada semua bidang kehidupan manusia, baik sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Sehingga menuntut guru sebagai agent of change terhadap siswa mempunyai peran penting agar tidak ada murid yang terisolasi dalam informasi. Menjadi guru era 80-an berbeda dengan era digital. Karisma guru tidak lagi menjadi prioritas utama, akan tetapi harus dipadukan dengan kemampuan nyata saat ini.

Karena itu, pendidikan merupakan salah satu tonggak utama dalam perkembangan sebuah bangsa. Melalui pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan lulusan yang mampu berdaya saing. Salah satu elemen penting dalam pendidikan adalah ketersediaan tenaga guru yang kompeten dan profesionalitas dalam mentransfer ilmu pengetahuan.

 

Kompetensi Guru

PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28 disebutkan, ”pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompentensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rokhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi guru merupakan kemampuan guru untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilannya dalam melaksanakan kewajiban pembelajaran secara profesional dan bertanggung jawab.

Menurut UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat (10), kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Berdasarkan Permendiknas 16/2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama. Yaitu, kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Keempat bidang kompetensi di atas tidak berdiri sendiri-sendiri. Melainkan saling berhubungan dan saling memengaruhi dan mempunyai hubungan hierarkis.

 

Sertifikasi Guru

Sertifikasi guru merupakan upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan (Depdiknas, 2008:1).

Menurut Puguh, peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru SMK dapat dilakukan dengan beberapa cara. Antara lain, studi lanjut program strata 2, kursus dan pelatihan, pemanfaatan jurnal, seminar, kerja sama antara lembaga profesi, dan lain lain.

Pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pemerintah berkewajiban memenuhi hak setiap warga negara dalam memperoleh layanan pendidikan guna meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan UUD 1945. Demikian juga warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus (pasal 5 ayat 2, 3, dan 4).

Guru Era Digital

Pendidik atau guru di setiap zaman memiliki tantangan berbeda. Perbedaan era, perbedaan zaman, maka berbeda pula tata cara mengatasi persoalan. Era digital telah mengubah cara pandang manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari arus kemajuan teknologi ini.

Setiap individu dihadapkan pada dua pilihan. Menempatkan dirinya sebagai pemain atau pelaku dalam arus perubahan globalisasi ini. Atau dia menjadi korban dan terseret derasnya arus globalisasi.

Seiring dengan kemajuan ini, guru harus menghadapi tantangan masyarakat perubahan teknologi. Di era teknologi ini, guru sangat dituntut meningkatkan kompetensinya sebagai pengajar dan pendidik.

Kemajuan yang superpesat dan supercanggih membuat guru harus selalu berinovasi. Jika tidak, maka zaman akan menggilasnya. Perlu disadari, kemajuan digital didesa tidak seperti dikota. Akan tetapi, tuntutan kemajuan zaman berlaku untuk semua orang dan semua daerah.

Jika cara guru tidak berubah dalam menyampaikan pembelajaran yang monoton, tentu juga guru akan ditinggalkan muridnya apalagi sebagian besar banyak guru yang tidak lahir di era digital. Sehingga bisa dikatakan tidak bagitu mengetahui dan tidak menguasai perkembangan teknologi. 

*)Pimpinan lembaga pendidikan Magistra Utama.

 

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia