Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

UMM Lestarikan Tata Bahasa Indonesia

Rabu, 18 Jul 2018 18:55 | editor : Abdul Basri

SERIUS: Peserta mengikuti dialog pakar dengan tema Pragmatik dalam Dinamika Sosiokultural di Era Revolusi Industri di Aula BAU UMM, Selasa (17/7).

SERIUS: Peserta mengikuti dialog pakar dengan tema Pragmatik dalam Dinamika Sosiokultural di Era Revolusi Industri di Aula BAU UMM, Selasa (17/7). (HUMAS UMM FOR Radar Madura/JawaPos.com)

MALANG – Bahasa yang selalu berkembang menjadikan salah satu rumpun ilmu ini tidak pernah selesai untuk dipelajari. Bagi Prof. Rustono, salah seorang Begawan Linguistik Indonesia, mempelajari bahasa tidak ada batasnya.

”Belajar tentang bahasa tidak pernah cukup dalam satu jenjang pendidikan,” kata pria kelahiran Brebes itu.

Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu menyebutkan bahwa siapa pun yang bekerja atau belajar dalam lingkup bahasa harus memahami secara cermat bahasa tersebut. ”Menjadi pelaku dalam disiplin bahasa tidak hanya melulu membutuhkan pemahaman dari sisi konteks, namun juga harus dipahami dalam kaidah tata bahasa,” ujar mantan Ketua Prodi PPs Unnes ini.

Dalam paparannya pada agenda dialog pakar dengan tema Pragmatik dalam Dinamika Sosiokultural di Era Revolusi Industri di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Selasa (17/7), Pembantu Rektor Bidang Akademik Unnes ini memberikan salah satu contoh kesalahan penggunaan istilah yang sering digunakan mulai dari acara tingkat nasional hingga masjid di desa-desa. Istilah tersebut ada pada teks doa yang berbunyi ”Ampunilah dosa-dosa kami”.

”Ada satu ungkapan yang kesalahannya mulai tingkat nasional hingga wilayah desa yakni pada ungkapan ’ampunilah dosa-dosa kami’,” kata pria yang akrab disapa Prof Rus ini.

Menurut dia, pada ungkapan tersebut berarti yang diampuni oleh Tuhan adalah kita sebagai individu atau manusia atas dosa-dosa yang telah diperbuat, bukan dosa-dosa kita.

”Jika kita telaah kembali, ungkapan yang benar adalah ’ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah aku perbuat’,” terangnya.

Selain membahas beberapa istilah yang kurang tepat, penulis buku Pokok-Pokok Pragmatik ini juga mengajak seluruh akademisi untuk benar-benar menyadari penggunaan bahasa yang benar. Dia pun menegaskan bahwa menggunakan bahasa sesuai dengan tata bahasa tidak akan menjadikan komunikasi terasa kaku. Hal ini justru akan menghindari kesalahpahaman.

”Bahasa itu ilmu yang sangat sulit dipelajari. Maka, merupakan hal yang sangat luar biasa jika kita bisa menaklukkan bahasa itu sendiri,” sambungnya.

Kehadiran salah satu pakar Bahasa Indonesia di bidang Pendidikan Bahasa Indonesia, Pragmatik, Sintaksis, dan Morfologi ini diapresiasi setinggi-tingginya oleh Rektor UMM Fauzan. Dia pun berpesan agar para peserta yang hadir dapat mengambil banyak ilmu dari acara ini.

”Anda semua yang hadir di sini sangat-sangat perlu bersyukur. Sangat jarang sekali pakar seperti Prof Rus ini hadir membagikan ilmunya,” kata Fauzan.

(mr/*/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia