Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Pengaruh Bahasa terhadap Budaya Bangsa

Oleh Khairul Umam*

Minggu, 15 Jul 2018 19:54 | editor : Abdul Basri

Pengaruh Bahasa terhadap Budaya Bangsa

AHAD siang (24/6) saya hadir di acara diskusi Masyarakat Santri Pesisiran (MSP) dan Gusdurian Sumenep di Balai Desa Gersik Putih. Tema yang diangkat tentang teks dan pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat.

Saat meluncur melewati jalan utama Gersik–Gapura saya merasa agak senang karena jalan utama yang sudah rusak parah dan tak diperbaiki—hingga menuai reaksi masyarakat sekitar dengan melakukan upcara kemerdekaan di tengah jalan—sudah lumayan nyaman. Hanya beberapa bagian yang masih dibiarkan berlubang dan ditibun dengan batu karst yang dihaluskan. Namun di sisi lain, tiba-tiba saja saya tersentak dan mulai menaruh curiga.

Saya lambatkan sepeda motor sambil lalu berkendara dengan mata melihat ke samping kiri-kanan. Di pertigaan menuju Burtong, pemandangan terlihat sedikit aneh. Agak jauh ke barat, terlihat beberapa alat berat teronggok rapi dan galian yang mulai meluas.

Setahu saya lahan-lahan itu dulunya adalah lahan pertanian milik masyarakat. Setidaknya ia adalah bagian dari tana sangkol yang pernah ada. Hati saya semakin waswas dan kegembiraan menghilang dengan cepat. Tiba-tiba saya teringat beberapa pembangunan tambak di beberapa tempat di pesisir Sumenep.

Setelah kroscek ke beberapa teman dan warga, benarlah. Tanah-tanah itu sudah beralih tangan—meski katanya ke PT Garam. Masih menurut berita warga, tanah-tanah itu akan dibangun tambak garam dengan proyek pembangunan mencapai dua miliar lebih. Luasnya tidak tanggung-tanggung. Ia akan dibangun memanjang hingga ke Karang Budi.

Masih menurut kabar setempat, tanah-tanah itu ditukar dengan tambak garam milik PT Garam di sebelah timurnya. Saya bertanya dalam hati, mengapa PT Garam menukar lahan dengan lahan mentah yang masih membutuhkan biaya melimpah untuk mengolahnya?

Tidak mungkin mereka tiba-tiba menukarnya. Pasti ada sesuatu yang secara bisnis lebih menjanjikan. Bahkan, menurut beberapa warga, negosiasi tukar guling lahan itu sudah berjalan lama dengan cara berbeda-beda. Ah, saya jadi teringat tambak yang belakangan dibangun di pantai Gersik Putih. Tiba-tiba saya curiga tentang perbaikan jalan itu. Ah, jangan-jangan...

Memahami Makna Tana Sangkol

Dalam istilah Madura kita mengenal kata sangkol. Istilah itu tidak asing khususnya bagi generasi 70, 80, dan 90-an. Entah generasi 2000-an. Sekilas kata itu tidak begitu berarti kecuali hanya istilah yang sama dengan kata warisan. Apa pun yang diwariskan itu adalah sangkol, dalam istilah ilmu warits disebut tirkat. Apakah itu dianggap cukup. Eits, tunggu dulu. Ada banyak hal yang harus diketahui sebelum pandangan demikian benar-benar dikukuhkan.

Menurut kaum strukturalis, bahasa suatu bangsa adalah cerminan kebudayaan bangsa tersebut. Ia adalah entitas yang hidup dan memengaruhi alam bawah sadar penggunanya. Jadi, bahasa itu tidak bebas nilai. Selalu ada misi yang dikandungnya. Ketua LIPI Endang Turmudi mengatakan, dalam bahasa terkandung segala pengetahuan. Kehilangan bahasa, baik suatu suku apalagi bangsa sama saja dengan kehilangan kebudayaan dan kedaulatannya.

Pada umumnya, sangkol itu berupa barang yang tahan lama. Bisa jadi ia adalah tanah, rumah, jimat, keris, dan beberapa barang lainnya. Yang lumrah, di Madura, sangkol berupa tanah, baik pekarangan, kebun atau sawah. Sangkol bisa diartikan sesuatu yang harus dipikul dan dijaga penerimanya. Jadi, ia adalah barang titipan atau hak pakai, bukan hak milik seperti termaktub dalam kata warisan.

Kewajiban seorang pengelola hanya mengolah, merawat, dan mengambil hasil dari jerih-payahnya. Dia tidak berhak merusak, apalagi menjual. Dengan demikian, kata sangkol dianggap sesuatu yang sakral, apalagi ketika bersinggungan dengan tanah.

Bagi orang Madura, nenek moyang yang telah lama meninggal tidaklah benar-benar tiada. Ia hidup dan masih bersama anak cucunya. Setiap roh dipercaya pulang setiap Kamis malam sehingga di beberapa tempat, menjelang azan Magrib, nyonson adalah ritual dilakukan untuk menyambut mereka. Roh nenek moyang diyakini terus memantau dan mendoakan anak cucunya. Mereka mengamati keturunan mereka bisa melanjutkan sesuatu yang telah mereka mulai dan merawat yang ditinggalkan. Peninggalan itu kemudian melahirkan kata sangkol.

Tidak heran ketika peninggalan yang diturunkan kepada anak cucunya dianggap bertuah dan bertulah. Apalagi ketika sangkolan yang diberikan berupa sebidang tanah. Kekayaan yang tidak akan pernah habis. Ibarat menitipkan barang kepada orang, ketika barang tersebut dijaga dengan baik, sebagai pemilik kita akan mengapresiasi. Jika terjadi sebaliknya, tentu murkalah diri kita.

Fenomena penjualan tana sangkol yang luar biasa, khususnya di Sumenep, adalah efek dari dua hal penting yang saat ini sedang menjajah kita. Pertama, terjadinya kekerasan bahasa yang oleh Spivak disebut kekerasan epistemik. Mayoritas generasi Madura sudah tidak paham, bahkan enggan, menggunakan bahasa ibunya (Madura). Mereka lebih suka menggunakan bahasa nasional, bahkan bahasa internasional sebagai bahasa ibu, sehingga ketidakpahaman itu akan memantik keadaan labil. Saat itulah pengaruh budaya luar dengan mudah bisa memengaruhinya.

Ketika mereka sudah tidak paham terhadap budaya sendiri dengan menganggap sangkol (titipan) sama dengan warisan (pemberian), maka efek kedua, kapitalisme-pragmatis, dengan mudah mereka terima. Dengan mudah mereka menjual sangkol dengan alasan uang dan kekayaan. Mereka menganggap tana sangkol yang didapat adalah hak milik. Nenek moyang yang telah meninggal sama sekali tidak ada, sehingga tidak percaya tuah dan tulah.

Jika hal ini dibiarkan, jangan salahkan orang lain jika sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang Madura hanya tinggal nama. 

*)Sekretaris MWC NU Gapura dan guru di MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia