Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Esai
Pembacaan atas Buku Puisi Sangkolan (2-Habis)

Kecemasan, Perubahan, dan Keniscayaan

oleh Hidayat Raharja*

Minggu, 08 Jul 2018 14:38 | editor : Abdul Basri

Kecemasan, Perubahan, dan Keniscayaan

PERUBAHAN di kawasan Madura, niscaya. Bentang Jembatan Suramadu merupakan salah satu wujud pembangunan yang menyambung impian antara Surabaya yang metropolis dan Madura yang gagap di antara kultur religius dan kapitalis.

Dalam sebuah diskusi seusai pementasan Bip-Bop saat Ulang Tahun Ke-25 Sanggar Kembara dia berkisah tentang perjalanan di atas Jembatan Suramadu. Perjalanan haru ketika masuk dari pintu tol arah Surabaya dan keluar dari pintu tol jembatan di arah Madura. Pandangan yang modern, rapi, dan gagah beralih ke kawasan lapak kaki lima yang beratap tenda biru. Haru.

Kontras pembangunan yang tak sebanding. Surabaya jauh lebih menonjol. Apakah Madura hanya sekadar objek? Hal yang sangat rumit dan kompleks untuk dijawab. Tugas puisi mengabarkan dengan bahasa puitik yang ambigu dan memberikan banyak pintu penafsiran. Kita tidak bisa gegabah mencari biang kesalahan. Tetapi, secara samar dan pasti kita telah kehilangan aroma, sari dari beberapa tradisi yang pernah tumbuh dan berkembang di sekitar kita. Nilai-nilai moral bergeser ke nilai-nilai ekonomis. Saat seni tradisi hanya jadi seremoni dalam rangka memperingati hari besar keagamaan atau perayaan kenegaraan. Ritus bergeser menjadi sebuah perayaan yang ingar, tapi kering nilai, sebagaimana tercium aroma dalam larik puisi berikut:

...Di tubuhmu/ Ritus saronen seperti kehilangan mantra/ Tak ada sanggul cinta/ Tak ada selendang rindu di kepala/ Lantaran kolam-kolam bidadari terlampau beku/ Seperti Joko Tarub mengutuk tubuhmu/ Menjadi tumbal Suramadu.../ (Madura Berganti Nama, 25).

Diksi Madura banyak bermunculan dalam puisi Sugik entah sebagai cinta, atau sebagai simbol kekhawatiran yang tak tertahan. Budaya lokal mulai terkikis dengan aneka perilaku hedonis. Ancaman narkoba merasuk sampai ke kampung-kampung kecil di pedalaman. Anak muda kehilangan kendali dan mulai berjarak dengan nilai-nilai kearifan lokal. Kegagahan nenek moyang mereka menyeberangi lautan gelora dengan sesobek layar tak meyakinkan mereka untuk menjadi nelayan. Negeri maritim dengan teknologi kelautan yang andal di masa silam, kandas tak berkembang. Tiga puluh lima jenis perahu Madura dengan berbagai bentuk dan keunggulannya jadi dokumen sejarah yang tak sempat dimuseumkan. Syukur, Sulaiman mendokumentasikan dalam buku Perahu Madura (Dirjen Kebudayaan Depdikbud RI, 1981).

Sayang, tidak ada inisiatif dari pemerintah di daerah Madura untuk menerbitkan ulang serta membuat replika untuk dimuseumkan. Sebuah kekayaan intelektual bidang maritim yang dimiliki nenek moyang bangsa Madura (Indonesia). Jika ditelusuri lebih jauh, akan bertautan dengan ilmu perbintangan yang menjadi penunjuk arah pelayaran. Kekayaan dan kegagahan kemaritiman yang surut dapat tersirat dalam sajak berikut:

..Ia pernah juga menyaksikan gagahnya nenek moyang/ Dengan tongkat-tongkat sederhana taklukkan gelombang/ Tak pernah gentar apalagi menyerah tanpa perlawanan. (Madura dan Denyut yang Hilang, 29).

Nenek moyang yang cerdas, pintar, pantang menyerah. Spirit kemaritiman yang perlu disulut kembali untuk menyalakan kedikdayaan di era pasca posmo. Kekayaan intelekual yang pantas untuk disajikan dalam kurikulum sekolah menengah kejuruan program kelautan.

Kedua, persoalan-persoalan ekologis ketika bombardir ekonomi kreatif dari sektor pariwisata. Berbagai tempat di kawasan Madura. Perubahan ekosistem pesisir menjadi salah satu sorotan puisi Sugik. Pesisir yang telah direklamasi jadi pertokoan atau hunian. Juga, perubahan artifisial dijadikan sebagai destinasi wisata. Kita telah kehilangan bakau penahan laju angin laut. Kita kehilangan bakau kawasan habitat sarang udang dan kepiting berlindung dan bereproduksi. Kita kehilangan hutan bakau vegetasi yang menahan pantai dari abrasi gelombang laut.

Kawasan pesisir di Madura jadi lahan tambang pasir, beberapa kawasan hutan bakau berubah hunian dan pertokoan, juga destinasi wisata yang abai terhadap keseimbangan ekologis. Pesisir selatan dari Sumenep sampai Sampang kawasan bakau makin menyusut. Reklamasi yang tampak megah dengan aneka rumah makan, dan pertokoan juga gedung Poltera yang mentereng telah menyabotase hutan bakau yang ditanam sejak 70-an.

Tidak ada yang terlambat. Tetapi, hutan yang sudah terbentuk sejak puluhan tahun telah diratakan. Reboisasi oleh beberapa pihak yang masih peduli patut dihargai dan butuh perhatian bersama. Namun, pengelolaan tata lingkungan yang brutal tanpa analisis dampak lingkungan. Kerusakan itu terus merambah ke berbagai wilayah bersamaan dengan penanaman kembali bibit bakau oleh pelestari lingkungan pesisir. Namun, masih banyak tidak perduli, kalau kerusakan bakau, berubahnya kawasan pesisir telah memengaruhi reproduksi dan produktivitas biota laut. Penurunan produk diakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Berikut kawasan pesisir yang direkam Sugik:

..Bapak-bapak sibuk menanam tower di pinggir jalan/ Sementara ibu-ibu sibuk merebus mi instan/ Dengan jumlah mata kompor sekali sentuhan/ Sedangkan kau: para nelayan sudah pamit hendak/ berpulang/ Katanya lapar dan tak kebagian ikan untuk kali kesekian/ Ah, Talang Siring yang agak mirimg/ Adakah senja di pantaimu, sekadar kidung pelepas getir.../ (Talang Siring, 59-60)

Kapitalisasi ekonomi telah mengubah alam sebagai sumber produksi yang dieksploitasi melampaui batas regenerasinya. Eksploitasi perairan Madura sedemikian rupa mulai dari eksplorasi minyak dan gas bumi sampai penggunaan bom bondet untuk menangkap ikan. Bahan peledak yang melantakkan terumbu karang serta memutus regenerasi biota laut. Laut jadi kurus, tak terurus.

Sektor pertanian, dulu Madura dikenal sebagai produsen jagung sebagai bahan makanan pokok. Tapi, politik kesejahteraan yang didoktrinkan Orde Baru, konsumsi jagung berubah menjadi beras. Konon, makan beras dicap lebih makmur. Di Era Reformasi, lahan pertanian beralih tangan kepada investor berubah jadi tambak udang, sehingga petani kehilangan lapangan kehidupan mereka mengais rezeki. Urbanisasi ke kota besar, menjadi TKI ke negeri jiran dan Arab Saudi. Mereka jadi korban segala keterbatasan. Budaya tani berangsur surut dalam hidupnya. Kelak hanya akan menjadi kisah yang tertampung dalam lumbung sejarah. Kekhawatiran yang ditangkap Sugik dalam potongan sajak berikut:

...Kelak akan kuziarahi lumbung-lumbung ingatan/ Tentang cangkul dan bulir hujan/ Tanpa nama tanpa taburan bunga// ( Madura di Linting  Tembakau, 31)

Kampung-kampung bangun, mereoresentasikan diri sebagai sesuatu yang modern, maju dengan meninggalkan pijakan kultural yang telah terbangun di masa sebelumnya. Desa-desa telah dikepung pemilik modal untuk dieksploitasi sebagai sumber ekonomi. Gunung-gunung diruntuhkan untuk menguruk pesisir pantai sebagai lahan permukiman dan perekonomian. Perubahan yang meniscayakan dan mengajak penghuninya siaga, sebagaimana pada larik berikut:

...Kampung dikepung/ Gubung digulung/ Sumsum dipasung/ Adakah yang mampu menyempurnakan/ Sabit jadi purnama, ah/ (Sangkolan, 52).

Menikmati puisi-puisi Sugik Muhammad Sahar dalam Sangkolan menemui banyak harapan dalam perkembangan perpuisian di masa yang akan datang. Meski secara puitika masih dipenuhi dengan diksi lokalitas yang lazim digunakan. Tetapi, secara pemanfaatan, bukan lagi untuk menonjolkan eksotika budaya lokal, melainkan menggugat keberadaannya di tengah pertarungan budaya kapital yang mengandalkan untuk merekayasa maupun memutilasi budaya yang dijunjung dan diagungkan. 

*)Penikmat puisi, guru biologi di SMA Negeri 1 Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia