Senin, 10 Dec 2018
radarmadura
 
icon featured
Esai
Pembacaan atas buku puisi Sangkolan (1)

Kecemasan, Perubahan, dan Keniscayaan

oleh Hidayat Raharja*

Minggu, 01 Jul 2018 20:38 | editor : Abdul Basri

Kecemasan, Perubahan, dan Keniscayaan

PERUBAHAN dalam kehidupan pasti dan akan menemukan bentuk yang lebih kondusif. Kehidupan sosial senantiasa berhubungan secara ekologis, interaksi antar komponen di dalamnya akan menemukan bentuk yang paling adaptif. Karena sesungguhnya perubahan adalah sebuah proses tumbuh dan berkembang secara dinamis.

Perubahan-perubahan di lingkungan sekitar merupakan stimulan yang memengaruhi seseorang untuk menuliskan, mencatatnya sebagai peristiwa yang bermakna bagi lain orang. Sebagai sebuah dokumen yang menghimpun data, dan dimanfaatkan di lain waktu. Realitas yang keluar masuk dalam tubuh dan pemikiran kreator.

Puisi sebagai dokumen menyimpan aneka macam data yang tak bisa dilepaskan dari perubahan sosial dalam lingkup hidup penyair sebagai dokumentator. Seberapa penting dokumen tersebut termanfaatkan dan menuai makna dalam realitasnya. Suatu konteks yang sangat dipengaruhi petualangan dan perlawanan penyair secara kultural dan literal. Karenanya, puisi dan karya sastra lainnya sebagai karya intelektual butuh data dan referensi untuk mempresentasikannya.

Puisi sebagai karya intelektual merupakan kerja yang tekun, ulet, dan rapi, sehingga data-data serta pengalaman yang dikontemplasikan memberikan tubuh baru yang berbeda ataupun yang menampakkan multidimensi dengan berbagai sudut pandang sebagai pilihan titik poin pembaca untuk memahami dan memberikan respons. Sebab, tidak ada bahasa puisi yang kosong. Ia menyediakan banyak kemungkinan pembaca untuk mencerna. Perkara nutrisi puisi tersebut kurang bergizi, merupakan persoalan lain. Tugas penyair mengelola bahasa yang datang berkunjung atau yang diundang untuk kemudian ditata sedemikian rupa sehingga bisa membangun tubuh puisi. Tubuh yang dipenuhi tafsir dan berbagai persoalan yang terekam.

Hal yang sangat menarik di saat puisi sebagai bangunan tubuh dibangun dari teks-teks yang kaya dengan lokalitas dan kearifan-kearifan yang tumbuh di tengah gelombang dahsyat informasi serta retasnya sekat-sekat geografis dan kultural. Sebuah kecamuk yang menerkam dan selalu menimbulkan luka dan nyeri, sampai menemukan penyembuhan dan wujudnya yang baru. Lokalitas yang berinteraksi dengan budaya global, memunculkan varian-varian hasil hibrid yang lebih adaptif. Seonggok tubuh yang menyimpan silang genetik bahasa dan budaya yang terjadi secara natural dan evolutif. Varian yang mengandung aneka sifat yang telah dirangkaikan sehingga menyerupai induk semang dan silangannya yang berbeda.

Maraknya isu dan agenda pariwisata di berbagai tempat di Madura, memfokuskan kepada eskalasi perekonomian, dan kekayaan budaya kerap kali menjadi objek yang tak sempat melakukan regenerasi secara natural. Perubahan yang tanpa disadari telah mengubah budaya eksotik menjadi budaya ikonik yang bernilai ekonomis. Di samping meningkatnya beban ekologis dengan rusaknya terumbu karang, hutan bakau dan reklamasi pesisir, sangat wajar kalau kemudian puisi-puisi yang lahir dari Sugik tidak lagi mengumandangkan eksotika, tetapi lebih kepada problem kultural yang mencemaskan. Kekhawatiran yang mempertanyakan kembali ke-Madura-an di tengah propaganda pariwisata natural yang mengabaikan aspek sosial dan ekologis.

Ketika membaca buku Sangkolan karya Sugik Muhammad Sahar (Kuncup, 2018) yang berisi 42 puisi ini seumpama memasuki suatu ladang teks yang ditanami dengan bangunan-bangunan peradaban kultural yang tumbuh di tengah pesatnya bangunan-bangunan asing yang berdiri, baik sebagai bangunan permanen maupun turistik. Sekumpulan puisi yang sangat menarik dengan berbagai problem yang menyertainya.

Problematika puitika dan kultural. Secara puitika puisi-puisi Sangkolan menggunakan diksi yang amat akrab dengan lingkungan ekososial. Bukit garam, bajak, sapi karapan, Potrê Konêng, Jokotole, Sumenep, Wiraraja, misalnya. Sebuah pilihan yang menegaskan lokalitas ke-Madura-an. Diksi yang tumbuh membawa persoalan yang tumbuh di dalamnya. Persoalan yang berkembang juga makna yang mengembang.

Mengintip bangunan teks dengan kekentalan lokalitas merupakan upaya Sugik untuk memegang dan menjadikannya sebagai identitas person juga tekstual. Pilihan luhur dengan berpijak kepada lokalitas di tengah kecamuk globalitas kehidupan yang digelontor lewat arus informasi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat akseleratif.

...Pamekasan, di tepi lancormu kuselipkan/ nyanyian gerbang salam/ Sedalam isapan linting tembakau/ Sebelum para petani pergi dengan dada kerontang/ Sebab hanya kita yang paham/ Garis tubuh dan batas cakrawala sebelum datang si tuan/ Jalang/ ..../Bangkalan. Kutenun batik lesapmu/ Hingga balut putih tulang, melarungkan sulur-sulur impian/ Mari bergegas, singsingkan lengan baju/ Menyambut derap sepatu pelancong dan para tetamu/ (Api Perawan Madura Tak Pernah Padam,2-3).

Diksi yang berkembang dari eksotika menuju persoalan-persoalan kritis di tengah perubahan tatanan kehidupan dan ekologis. Diksi yang gelisah cemas menyambut setiap tetamu yang datang yang bergeser dari rasa hormat dan menghargai tamu ke sikap waspada dan hati-hati. Kegelisahan, membangkitkan kembali Wiraraja, Kê’ Lêsap, nama tokoh yang sangat familier dengan kewibawaan dan keberanian untuk menegakkan martabat dan harga diri. Sehingga simbol arê’ lancor sebagai simbol perlawanan keberanian perlu diasah kembali menyemangati hidup dan pertumbuhan Madura di waktu yang akan datang.

Ini yang saya maksud persoalan-persoalan puitis yang membawa diksi kepada ikon persoalan-persoalan yang mengepung kehidupan. Kata yang akrab dengan kehidupan masyarakat tetapi mengalami pergerakan makna secara adaptif. Pergeseran yang cukup menarik ketika sebagian penyair yang meninggalkan ikon-ikon arkais dan memungut persoalan-persoalan besar yang berada di luar jangkauan geografis. Masih menarikkah simbol-simbol tradisi lokal yang sudah klise untuk diangkat ke tengah kecamuk simbol pasca posmo? Inilah keberanian Sugik untuk mengolah menjadi makna baru yang gelisah dan mencemaskan.

Kecintaan dan kesungguhan serta keyakinan merupakan perangkat yang akan mempermudah sampai kepada tujuan yang ingin dicapai. Pergulatan-pergulatan intens dengan persoalan-persoalan realitas yang kompleks akan memperkaya khazanah batin. Dunia batin yang menjadi nyawa puisi sehingga bisa berkomunikasi dan sampai kepada pembacanya. Perjalanan kontinu untuk tetap konsisten dan cinta kepada jalan yang ditempuh. Jalan cinta.

Seperti apa cinta yang diejawantah Sugik dalam puisi? Seumpama karapan, tanduk logam, bukit garam. Diksi yang kental dengan kultur lokal yang keras dan pantang menyerah. Sekeras alam lingkungan Madura kerontang, dan mengandung kapur. Struktur geografis yang menyebabkan para penghuninya menjadi urban temporal saat tanah garapan tak memberi harapan. Atau menjadi urban yang kemudian menetap dan membentuk komunitas.

Cinta yang sederhana untuk tetap memegang tradisi meski digerus lingkungan yang kian frontal. Kecemasan-kecemasan yang ditegaskan dalam judul puisi Jika Kau Bertanya. Di saat ke-Madura-an itu dipertanyakan dengan singkat dan tegas, Sugik menjawabnya dalam larik berikut:

Aku/ Anak-anak karapan/Di jiwa, tanduk logam/ Membajak bukit garam/ Bagi dada kerontang (Jika Kau Bertanya, halaman 16).

*)Penikmat puisi, guru biologi di SMA Negeri 1 Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia