Rabu, 12 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Pamanggi
SUARA SANTRI

Pesantren Ladang Memburu Barokah

oleh Suwantoro*

30 Juni 2018, 21: 17: 56 WIB | editor : Abdul Basri

Pesantren Ladang Memburu Barokah

SIAPA sih yang tidak ingin barokah? Kapan dan di mana pun pertanyaan itu muncul, jawabannya pasti tidak ada yang tak ingin barokah. Apalagi pertanyaan tersebut ditanyakan kepada santri yang sedang menimba ilmu di pondok pesantren. Pasti mereka dengan tegas menjawab, ”Saya ingin barokah”.

Bagi santri yang paham barokah akan menganggap kedudukan barokah berada di posisi pertama dibandingkan ilmu pengetahuan. Kenapa tidak? Karena banyak orang yang berilmu tinggi ketika tidak mendapatkan barokah, semua akan tampak biasa-biasa saja. Bahkan tidak jadi apa-apa. Begitu sebaliknya, meskipun ilmunya dianggap tidak seberapa ketika ia mendapatkan barokah, maka ia akan menjadi orang hebat tatkala sudah berada di tengah masyarakat.

Secara logika mungkin semua terasa tidak masuk akal. Bahkan dari saking tidak mampunyaI akal pikiran mengkaji barokah, yang terjadi tidak semua orang percaya akan barokah. Apalagi mereka yang semasa hidup tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren.

Banyak kata yang dirangkai menjadi kalimat untuk mendefinisikan hakikat barokah. Salah satunya, ziyadatul khair. Definisi ini sampai sekarang masih tetap dijadikan rujukan semua orang ketika diminta memberikan penjelasan tentang barokah. Yang artinya adalah bertambahnya kebaikan.

Dari definisi itulah, kita bisa memahami sederhanya orang yang mendapatkan barokah. Sepanjang hidupnya akan menjadi pribadi yang selalu bertambah kebaikannya sekaligus mampu menabur kebaikan di mana pun berada. Keberadaannya pun tergolong pada kelompok khoirunnas anfa’uhum linnas.

Sebagai orang yang pernah ada di pondok pesantren, entah itu santri, alumni, atau seorang ustad sekalipun pasti mendengar cerita-cerita dari sang kiai tentang orang-orang hebat karena ketaatannya, keistiqamaannya, kesabarannya, dan pengabdiannya kepada pondok pesantren menjadi orang terpandang dan disegani semua orang karena ilmu dan kewibawaannya. Semuanya itu terjadi karena barokah.

Semenjak saya masih nyantri, ketika itu sang kiai sedang mengisi kajian kitab kuning di masjid. Di sela-sela keterangan beliau sering bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan barokah. Jika saya analisis ulang dengan menggunakan kacamata santri tatkala itu, saya beranggapan itu semua diceritakan agar santri bisa mengambil hikmah sekaligus memberikan penyadaran bahwa pondok pesantren tidak hanya sebagai tempat mencari ilmu. Melainkan juga sebagai ladang untuk mencari barokah.

Cerita-cerita tersebut tidak menutup kemungkinan juga terdapat di berbagai pondok pesantren lain. Beliau menuturkan, sering ditemukan santri ketika semenjak di pesantren cerdas luar biasa, bahkan tidak hanya berhenti di situ, semua pelajaran dapat ia serap, setiap hafalan dia orang pertama yang mampu menyelesaikan tepat pada waktunya.

Akan tetapi, santri tersebut jarang sekali meluangkan waktu untuk mencari barokah. Ia hanya merasa puas dengan keberadaannya saat itu tanpa menyadari ada yang lebih penting, yakni barokah. Alhasil ketika sudah pulang ke masyarakat, ia tidak mampu memaksimalkan ilmu yang didapatkan.

Beda dengan santri yang kedua. Ia lambat memahami pelajaran. Tetapi, ia pandai meluangkan waktu untuk mengabdikan diri ke pondok pesantren. Sehingga ia mampu memaksimalkan kesempatan yang ada. Walhasil, ia menjadi kepercayaan masyarakat. Bahkan menjadi tokoh masyarakat atau tokoh agama. Kedengarannya tampaknya tidak masuk akal dan mengarah pada sesuatu yang magic. Tapi, begitulah kenyataannya.

Cerita tersebut sebagai inspirasi sekaligus gambaran bagi santri yang sedang menimba ilmu. Bahwa sebagai orang yang memiliki status santri tidak cukup apabila hanya memusatkan pada pencarian ilmu. Tetapi juga harus disertai dengan pengabdian yang nyata kepada pondok pesantren sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Mencari barokah di pondok pesantren merupakan segala-galanya bagi santri. Namun, di sisi lain mereka juga harus paham bahwa ketika barokah tidak diimbangi dengan ilmu tidak akan maksimal juga. Sangat tidak dibenarkan jika santri hanya fokus pada satu sisi saja karena antara barokah dan ilmu bukan pilihan, melaikan sebuah keharusan.

Menjadi santri itu memiliki keuntungan besar. Mereka dapat kesempatan mencari ilmu sekaligus mencari barokah. Mencari ilmu dengan jalan mengaji dan memburu barokah dengan jalan mengabdi. Kedua-duanya merupakan aktivitas yang hanya bisa dilakukan santri dalam mencari ilmu dan menggapai barokah demi terbentuknya insan yang khoirunnas anfa’uhum linnas. Wallahu a’lam.

*)Alumnus Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin, Laden, Pamekasan. Mengabdi sebagai dosen IAIN Madura.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia