Rabu, 12 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Pamanggi
SUARA SANTRI

Tradisi Ikonik nan Ironis di Bulan Diskon

Oleh Masyithah Mardhatillah*

22 Juni 2018, 13: 07: 20 WIB | editor : Abdul Basri

Tradisi Ikonik nan Ironis di Bulan Diskon

Beberapa hari lalu desa kami dihebohkan meledaknya material petasan di jok sepeda motor seorang warga. Karena tengah melaju, ledakan merembet ke motor lain yang berpapasan. Kobaran api juga melalap sebagian kecil bangunan di sisi jalan. Satu nyawa melayang dan beberapa yang lain luka-luka.

TRAGEDI di penghujung Ramadan tersebut menyisakan duka mendalam. Tak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga masyarakat umum. Suasana bahagia menyambut kedatangan Idul Fitri seketika berubah menjadi ketakutan mencekam.

Lepas dari berbagai spekulasi penyebab kejadian, peristiwa tersebut menyiratkan perlunya perenungan ulang terhadap tradisi-tradisi Ramadan yang telanjur melekat dan nyaris ikonik dalam masyarakat kita. Ini menjadi penting, sebab selain menjadi ikon, beberapa tradisi tertentu juga ironis karena justru menghadirkan nilai yang berseberangan dengan keluhuran Ramadan.

Hal tersebut sedikitnya dapat dilihat dari beberapa ilustrasi kecil berikut; Pertama, dipasangnya target yang tidak proporsional pun tak realistis. Ramadan adalah ”bulan diskon” sehingga ritual ibadah di dalamnya dipercaya bernilai lebih dibanding bulan-bulan lain. Karenanya, dalam beberapa ibadah tertentu, lazim ditetapkan target yang tak jarang mekso dan tanpa disadari justru ”mengganggu” esensi Ramadan.

Salat Tarawih supercepat dengan gerakan banter dan tuma’ninah yang banyak terlewatkan, misalnya, berseberangan dengan arti kata Tarawih yang seakar dengan makna rehat atau istirahat. Tadarus dengan kecepatan tinggi juga demikian berbeda dengan kebiasaan Rasulullah me-nakrir Alquran di hadapan Jibril yang dilakukan begitu pelan dan teliti demi memastikan otentisitas kitab pamungkas tersebut.

Selain ritual yang kemudian menjadi nyaris tanpa esensi, target yang demikian juga cenderung membuat energi selama Ramadan habis di hari-hari pertama, seperti halnya lari sprint. Padahal, Ramadan tak ubahnya lari maraton yang mengharuskan terjaganya ketahanan dan stamina pelari di setiap tahapan. Utamanya di lap-lap akhir menjelang garis finish.

Kedua, digelarnya kemeriahan yang dalam beberapa hal salah sasaran. Selain kebiasaan menyalakan petasan yang tak hanya memekakkan telinga, tetapi juga mengancam jiwa, berbagai daerah masih tak lepas dari tongtong. Dalam tradisi ini, beberapa orang berkeliling kampung dengan iringan musik—umumnya tradisional—dan kadang kala dilengkapi dengan suara petasan.

Awalnya, tradisi ini dimaksudkan untuk membangunkan warga agar tak ketinggalan sahur. Akan tetapi berbagai ”inovasi” belakangan justru menjadikannya beralih fungsi. Waktu operasional sejak sekitar jam 12 malam, utamanya, membuat tradisi ini berubah menjadi pengganggu jam istirahat malam dan musuh bebuyutan ibu-ibu yang memiliki bayi.

Tak sampai di situ. Kemeriahan tersebut akan mencapai titik kulminasinya pada malam takbiran, malam sebelum hari raya. Sebagian warga biasanya datang berbondong ke pusat kota mengendarai mobil pikap dengan suara musik keras dari sound system besar yang terdengar sepanjang jalan. Ramadan dan Idul Fitri kemudian menjadi semacam ajang hura-hura yang terlihat legal secara adat maupun agama.

Ketiga, melonjaknya skala konsumsi. Sudah menjadi rahasia umum pada bulan Ramadan, permintaan barang di pasar bukannya menurun. Tetapi justru melonjak drastis. Ini lebih dari cukup mengindikasikan pola konsumsi masyarakat dengan ”jadwal makan” ala Ramadan bukannya semakin efisien, akan tetapi justru sebaliknya.

Ritual puasa yang disebut-sebut dapat menumbuhkan empati kepada mereka yang kurang beruntung juga nyaris menjadi wacana belaka ketika agenda buka puasa lebih bernuansa ”balas dendam” dan gaya-gayaan. Menu spesial, porsi jumbo, restoran mahal, gaya hidup borjuis, dan jadwal yang kebablasan menjadikan momen tersebut nyaris sebagai acara makan besar dan atau ”kumpul-kumpul” semata.

Lonjakan konsumsi akan terus berlanjut menjelang Idul Fitri. Ini dimulai dari belanja busana dan kebutuhan sandang lain. Suguhan dan konsumsi hari raya, perbaikan bagian-bagian rumah, pembaruan perabot, hingga tiket perjalanan dan jatah angpau atau parsel untuk keluarga maupun sahabat.

Di satu sisi, tentu tidak ada problem dengan momentum dan berbagai tradisi ”konsumtif” tersebut. Apalagi, hari-hari terakhir Ramadan hingga hari raya merupakan momentum yang banyak dipilih untuk menunaikan berbagai varian zakat dan sedekah. Hanya saja, tak jarang, konsentrasi akan hal-hal tersebut mengalahkan skala prioritas pada hal-hal lain yang lebih esensial.

***

Lepas dari perlunya perenungan ulang terhadap tiga hal tersebut, bagi sebagian orang, berbagai hal di atas justru menjadi momentum nostalgia yang begitu dirindukan. Apalagi, Ramadan dan Idul Fitri milik semua orang. Muslim maupun nonmuslim, lelaki dan perempuan, anak kecil hingga orang tua, mereka yang suka mokel ataupun yang sregep mengejar Lailatul Qadar. Semua terkena ”barakah” momentum ini.

Tak berlebihan kiranya jika tradisi-tradisi tersebut direnungkan ulang untuk dimodifikasi sedemikian rupa demi ikhtiar melestarikan budaya tanpa mengabaikan esensi-esensi religius di dalamnya. Penghujung Ramadan adalah momentum tepat untuk melakukan perenungan tersebut sembari berharap masih berkesempatan menjumpai di tahun-tahun mendatang. 

*Alumni PP Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia