Rabu, 12 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Kedai

Pilkada (Katanya)

Oleh Dafir Falah*

21 Juni 2018, 12: 15: 52 WIB | editor : Abdul Basri

Jurnalis Jawa Pos Radar Madura

Jurnalis Jawa Pos Radar Madura

Pilkada. Ajang pesta demokrasi. Ajang bergembira ria. Ajang unjuk eksistensi. Ajang mencari bos eksekutif. Ajang siapa paling kuat dan banyak duit.

BANGKALAN. Salah satu kabupaten yang siap menggelar itu. Pada 27 (Juni) 2018 – kran demokrasi sebenarnya dibuka. Dibuka sebuka-bukanya. Katanya begitu.

Padahal, pilkada hanya urusan siapa yang pintar menabung koneksi. Jejaring. Amal politik. Menebar senyum basa-basi. Murah hati. Dan tidak lupa: yang paling mujarab. Yakni yang banyak memberikan kertas [duit] bergambar Soekarno-Hatta warna merah. Dijamin menang. Itu ampuh.

Katakanlah – andai tiap kepala dapat lima kertas warnah merah itu. Siapapun kontestannya. Insya Allah terpilih. Gampang kan jadi bos ekeskutif!

Pilkada juga tidak lepas dari ini: Intrik. Tuding menuding. Menjelekkan satu sama lain. Saling gontok-gontokan. Saling main petak umpet. Saling cegal.

Bahkan, karena pilkada (mencari bos eksekutif). Ayat suci pun dijual gratis. Masjid jadi mimbar orasi kepentingan. Langgar jadi tempat menyusun strategi pemenangan. Menurut saya.

Tidak heran. Ketika saudara bisa jadi musuh. Kawan bisa jadi lawan. Yang semula akrab jadi retak. Miris.

Yang aneh lagi – soal kemampuan kontestan atau calon sebagai peserta pilkada. Saya melihat. Adu gagasan. Itu nomor sekian. Sebab itu, pengetahuan dan integritas – bisa dikemas sesuai kebutuhan dan keperluan. Yang penting gol dan menang.

Lihatlah. Yang terjadi sekarang. Kontestan mendadak baik. Mendadak dermawan. Mendadak sering ke masjid. Mendadak ke pasar (tradisional). Mendadak religius. Mendadak suka nolong. Peduli poolll.

Padahal sekarang rakyat (kita) tidak bodoh-bodoh amat. Camkan itu. Masih ada yang konsisten dan tidak mau terjebak. Tahu cara membedakan mana calon yang hobi berpura-pura dan jujur.

Meskipun – pada kelompok lain. Tidak sedikit juga saya menemukan tipe manusia yang pragmatis. Di jidatnya hanya urusan duit, duit dan duit. Tapi. Tidak salah juga. Itu pilihan mereka di era yang katanya kran demokrasi sudah dibuka itu.  

Menurut mereka (wong cilik). Kapan lagi njaluk duit calon? Kalau bukan sekarang. Nanti kalau jadi juga lupa. Mumpung ada kesempatan, celesss..

Sekarang mah kapan saja bisa ditemui. Bahkan. Pulangnya bisa diamplopin. Tapi nanti ketika terpilih dan benar-benar jadi [bos eksekutif). Tidak diusir untung. Paling kacungnya (ajudan maksudnya, red) bilang, ‘Bapak’ tidak ada. Cara-cara lama dipakai. Memuakkan.

Tapi, soal pilkada di Bangkalan. Saya tetap yakin seyakin yakinnya akan menjadi rujukan kabupaten/kota lain. Paling ideal. Kompetitif. Sehat. Tidak ada kecurangan. Tidak karena politik patron. Baguslah pokoknya. Kita doakan dan mari bersama-sama bilang amin.

Semoga saja bos eksekutif di Bangkalan nantinya meniru gaya Presiden Uruguay, Jose Alberto Mujica Cordano. Priode 2010-2015. Tidak memperkaya diri. Tidak gila hormat. Tidak picik. Tidak korupsi pula. Dan menolak rumah dinas.

Presiden dengan julukan ”the world’s ‘humblest’ president” merupakan presiden termiskin di dunia. Dia hidup sederhana. Jauh dari kemewahan dan fasilitas kenegaraan. Dia hanya mengambil 10 persen dari gajinya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara, 90 persennya dia gunakan untuk membantu rakyat miskin di negaranya.

Namun dia tidak pernah merasa miskin. Bagi dia, orang miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk menjaga gaya hidup mewahnya dan selalu menginginkan lebih. 

(mr/daf/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia