Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Pamanggi
SUARA SANTRI

Meluaskan Makna Tadarus

oleh Ahmad Sahidah*

Selasa, 19 Jun 2018 17:29 | editor : Abdul Basri

Meluaskan Makna Tadarus

TADARUS adalah sebagian amalan dari warga kampung saya, Parebaan, pada setiap Ramadan. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh kaum remaja, tetapi juga orang dewasa.

Seusai salat Tarawih, kami duduk melingkar secara bergantian mendaras kitab suci. Dengan pelantang, kami menyemarakkan malam dengan lantunan Alfurqan. Warga pun menyediakan kue sebagai kudapan. Di akhir bulan, Haji Khalil membagikan uang Rp 1.000 untuk setiap anak.

Di luar Ramadan, anak-anak mengaji di surau atau langgar. Masjid tak lagi menjadi tempat untuk bertadarus. Lalu, adakah pembacaan hanya berhenti pada pelafalan tanpa memahami lebih jauh makna yang terkandung dalam kitab ini? Tentu tidak.

Anak-anak yang dulu mengaji itu telah berkeluarga dan bekerja. Saya sendiri memilih menjadi dosen Alquran dan Hadis. Dengan latar belakang pendidikan Kajian Islam, saya menyelesaikan disertasi terkait pemikiran Toshihiko Izutsu mengenai relasi Tuhan, manusia, dan alam dalam Alquran di Universitas Sains Malaysia.

Dukungan pembimbing Profesor Zailan Moris telah membantu penyelesaian penulisan. Kesabaran dan kecermatan murid Seyyed Hossein Nasr tersebut untuk membahas dengan cermat pelbagai masalah yang berkaitan dengan karya ini turut mengayakan sudut pandang dan materi kajian. Namun demikian, tanggung jawab kandungan kajian sepenuhnya berada di tangan penulis. Bagaimanapun, tadarus tidak lagi membaca huruf, tetapi lebih jauh memahami pendekatan semantik (ilmu ma’ani) untuk menguak pesan.

Selain itu, saya menyusuri banyak perpustakaan untuk ”bertadarus”, misalnya Universitas Islam Antarabangsa Malaysia, Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Malaya dan ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) Universitas Nasional Singapore. Tentu, perpustakaan Hamzah Sendut Universitas Sains Malaysia yang banyak menyediakan bahan dan bahkan buku-buku lain yang menjadi minat saya. Seperti sastra, politik, sosial, dan ilmu humaniora memenuhi dahaga pengetahuan. Ketersediaan jurnal dalam edisi cetak dan daring (online) melengkapi keperluaan saya terhadap informasi terbaru mengenai wacana ilmiah.

Ternyata, mengkaji Izutsu tentang Alquran bukan melulu soal ilmu-ilmu Alquran. Tetapi juga rujukan lain terkait dengan dunia penulis asal Jepang tersebut. Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika membaca novel karangan Takashi Matsuoka bertajuk Cloud of Sparrows: An Epic Novel of Japan. Bukan saja pengarang novel ini pernah mengabdikan hidupnya di tempat peribadatan Zen, tetapi juga kemampuan beliau dalam melukiskan Jepang pada abad ke-18 dan pertikaiannya dengan dunia Barat. Jelas, novel ini merupakan karya sastra yang mencerminkan suasana kejiwaan dan pemikiran tokoh yang dibahas, Toshihiko Izutsu.

Lebih jauh, sejatinya Alquran bisa dipahami melalui pelbagai sudut pandang yang berbeda, seperti teologi, filsafat, sosiologi, tata bahasa, dan takwil (exegesis). Ketika Izutsu mengusulkan sebuah pendekatan semantik di dalam mengkaji Alquran, ini berarti bahwa ada hubungan erat antara metodologi semantik dengan pemahaman terhadap Alquran dan sumbangannya bagi pengembangan pemikiran Islam secara umum.

Namun demikian, tugas kita sekarang adalah menghadirkan kaidah yang mampu menjelaskan Alquran dari beberapa sudut pandangan sehingga diperoleh pesan yang bisa dimanfaatkan pada masa kini. Kesadaran terhadap upaya penyesuaian semangat Alquran dengan era kontemporer juga dibicarakan dengan baik oleh Muhammad al-GhazalÄ«, sarjana kajian Islam Mesir, dalam karya Kaifa Nata‘ammala ma‘al-Qur’ān.

Dengan pertanyaan retorik dia mengajukan sebuah soalan, dapatkah kita menggunakan kaidah ulama terdahulu memahami Alquran? Tanpa mengatakan tidak, dia menjawab bahwa kita memerlukan sebuah tafsir yang menyeluruh yang memungkinkan khitāb Qur’āni mendekati tema-tema seperti fiqih hukum formal, administrasi, pengenalan hukum-hukum jatuh bangun sebuah peradaban, dinamika dan kesadaran keagamaan serta berbagai pengaruhnya terhadap masyarakat, baik sosial maupun individual. Untuk itu, dia menegaskan hubungan antara Alquran dan ilmu-ilmu sosial.

Sejalan dengan ide di atas, kita juga perlu menimbang pendapat Charles Adam yang diungkapkan dengan jujur bahwa pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam kajian agama juga berbahaya karena ia bisa mereduksi pemahaman manusia terhadap ajaran Tuhan. Meskipun demikian harus diakui, sejatinya hal-ihwal agama itu terkait dengan nilai-nilai sosial, mekanisme integrasi sosial, dan sarana yang mengaitkan dengan sesuatu yang tidak dapat diketahui atau dikawal.

Akhirnya, tadarus tidak lagi dibatasi pada pembacaan tanpa pemahaman. Malah, kegiatan ini tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi juga di warung kopi. Dengan demikian, pesan kitab suci hadir dalam keseharian penganutnya dan lebih penting lagi ia menjadi pedoman hidup, bukan sekadar mantra yang diharapkan berkahnya. 

*)Alumnus Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep. Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia