Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Pamanggi
SUARA SANTRI

Keajaiban Silaturahmi

oleh Umar Fauzi Ballah*

Senin, 18 Jun 2018 12:12 | editor : Abdul Basri

Keajaiban Silaturahmi

SEORANG pemuda memilih nyantri saat menjalani pendidikan sebagai mahasiswa. Usia sudah tidak lazim dan disibukkan banyak hal. Selama mengaji, dia hanya menjadi pendengar yang baik.

Dia memang ikut pegang kitab kuning. Ikut pula menerjemahkan sebagaimana santri lainnya. Hanya saja ala kadarnya. Karena itu, dalam mengaji, dia betul-betul mengandalkan ingatan.

Beberapa ingatan itu di antaranya adalah, pertama, anjuran untuk selalu memperbarui niat. Itu pelajaran perdana yang diterima di pondok. Kedua, anjuran untuk rajin silaturahmi. Ketiga, cerita-cerita khazanah  pesantren.

Tiga pelajaran itu berelaborasi dalam laku kesehariannya. Seperti tentang memperbarui niat. Ia mempraktikkan sendiri bersama sang guru ketika diajak bepergian. Di tengah perjalanan, sang guru mengingatkan apa sudah niat. Tentu saja dia bingung. Sang guru mengatakan niatlah silaturahmi. Sang santri pun melafalkan niat tersebut lillahi ta’ala dalam hatinya.

Selalu memperbarui niat sejatinya adalah manifestasi dari ibadah mahda. Dalam ibadah tersebut, niat menjadi rukun. Jika tidak membaca niat, tidak sah ibadah yang dilakukan. Semua ibadah seharusnya termanifestasi dalam laku hidup sehari-hari.

Maka, mengawali semua perbuatan dalam kehidupan sehari-hari yang tampak bukan ibadah dengan niat. Tidak lain adalah pengamalan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, semua laku kita akan dinilai sebagai ibadah jika niatnya karena mengharap rida Allah SWT.

Lain niat, lain pula dengan keajaiban yang diterima dari pengamalan silaturahmi. Ia mengusir malas dalam diri untuk mengamalkan ajaran silaturahmi. Karena itu, ketika liburan, ia menikmati liburan didahului silaturahmi ke rumah teman-temannya sebelum pulang ke rumah sendiri. Dalam berbagai kesempatan dan kesempitan, dia memaknai liburan cukup sebagai tamasya silaturahmi.

Pun dalam kehidupan sehari-hari tampak betul hikmah yang diterima sang santri dari rajin silaturahmi. Begitu dia lulus kuliah dan kembali ke kampungnya, dia menemukan pekerjaan setelah silaturahmi di sebuah acara reuni. Alhasil, dia mendapat rekomendasi dari temannya untuk mengajar di sebuah SMA.

Setahun setelah mengajar SMA itu, ada kesempatan lebih baik baginya untuk memperbaiki karier. Lagi-lagi, dia diterima di sebuah perusahaan karena rekomendasi teman karibnya. Tentu saja rekomendasi bukan sekadar usulan. Tetapi, rekomendasi turun karena sama-sama mengetahui kualitas diri. Tiga tahun setelah itu, dia menduduki jabatan tertinggi di sebuah kota tanpa ia minta-minta. Dia hanya tahu satu hal bahwa kualitas diri dapat dibangun, salah satunya dengan rajin silaturahmi.

Sang santri ingat pada sebuah hadis Nabi Muhammad, ”Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi (muttafaqun ‘alaihi).” Hadis itu selalu diingatnya.

Dalam hadis itu, makna rezeki tidak disempitkan pada materi saja. Salah satu rezeki dari ruang-ruang pertemuan yang diciptakan adalah bertambahnya ilmu. Ilmu adalah rezeki dari Allah SWT yang jauh lebih bernilai dari sekadar materi. Dia menyadari hampir semua silaturahmi yang dilakukan berbuah ilmu dan pengalaman.

Sang santri percaya dan mengimani dua hal dalam hadis itu pasti didapat saat itu juga oleh orang yang menjalin silaturahmi. Dalam sebuah ceramah, seorang kiai berkata, ”minimal rezeki yang didapat adalah hidangan yang diberikan tuan rumah. Itu juga rezeki.”

Dengan silaturahmi, orang-orang akan semakin banyak sahabat dan di situlah saling mendoakan kebaikan terjadi. Umur panjang bukan berarti semakin lama hidup di dunia. Tetapi, kebaikan-kebaikan yang diciptakan selama hidup dalam proses silaturahmi membekas dalam ingatan semua sahabatnya.

Silaturahmi Milenial

Di era milenial, ruang silaturahmi terbuka lebar. Dengan media sosial, seseorang bisa dipertemukan dengan kawan lama. Dengan media sosial , hampir setiap hari bertambah kawan dan wawasan yang baik.

Hal itu tentu bisa didapat jika berkumpul dengan orang-orang saleh, yakni menerima pertemanan dan informasi yang baik-baik. Dalam bahasa Alquran, pertemanan dijalin dengan asas watawa saubil haq watawa saubis-shabr.

Di media sosial, seseorang yang tidak pernah kenal sebelumnya bisa intens membangun komunikasi positif. Tidak jarang dari pertemuan virtual itu kemudian bertemu dalam kopi darat (kopdar). Kopdar bisa jadi dilakukan dengan sengaja dalam forum. Bisa juga terjadi karena menjadi musafir. Tidak jarang di tengah perjalanan seseorang singgah di sebuah tempat dan terjadilah pertemuan dengan teman yang tinggal di daerah tersebut.

Begitulah renungan sang santri malam itu di sebuah warung kopi, tempat dia duduk sendirian di sebuah sudut. Ketika banyak orang melakukan aktivitas ngopi, misalnya, didahului dengan janjian bertemu, tidak demikian halnya dengan sang santri. Dia bisa melakukan aktivitas tersebut sendirian.

Dalam kesendirian itu, ia ingin mengalir pada arah takdir. Pada akhirnya, tidak jarang dia sebenarnya tidak benar-benar sendirian. Adakalanya, saat menikmati sendirian, ia dipertemukan dengan orang-orang baru yang diperkenalkan temannya dalam pertemuan yang direncanakan takdir.

Begitulah ia menyebut keajaiban silaturahmi yang sering dialaminya. 

*)Alumnus Ponpes Sabilillah, Lidah Wetan Surabaya. Komunitas Stingghil Sampang.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia