Rabu, 12 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Pamanggi
SUARA SANTRI

Memfitrahkan Diri

Oleh HM. Hafid Kri*

14 Juni 2018, 15: 52: 10 WIB | editor : Abdul Basri

Memfitrahkan Diri

DALAM pandangan John Locke (filsuf Inggris, 1623–1704), anak manusia ketika dilahirkan berupa kertas kosong atau ”tabula rasa”. Seiring perjalanan waktu, kertas kosong itu diisi dengan pengalaman-pengalaman, pendidikan yang diperoleh selama hidup. Pengalaman dan pendidikan dapat menentukan dan membentuk kepribadian seseorang.

Terlepas teori tersebut senantiasa berpengaruh atau tidak dalam dunia pendidikan, ternyata bantahan ketidaksepahaman oleh sementara ahli patut diapresiasi. Jika seorang anak dikatakan seperti kertas kosong, telah menjadikan proses pembelajaran anak didik lebih terhormat menjadi pendengar setia daripada banyak bertanya apalagi membantah guru. Padahal proses pembelajaran yang aktif dan dinamis menjadikan setiap pertemuan sebagai ajang berdiskusi. Sedangkan guru sebagai fasilitator sekaligus motivator.

Alquran dan Al-Hadis sebagai pedoman hidup umat Islam memiliki pandangan berbeda dari filsuf Inggris, John Locke. Kalau John Locke mengategorikan anak yang lahir sebagai kertas kosong, dalam hadis disebutkan sebagai fitrah.

Berdasarkan sebuah hadis yang masyhur riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, Malik, dan Ahmad bin Hambal menyebutkan: ”Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah dan kedua orang tualah yang menjadikan pemeluk Kristen, Yahudi atau Majusi.”

Dalam Ensiklopedi Islam, fitrah memiliki beberapa arti: Pertama, fitrah dengan arti asal kejadian bersinonim dengan kata ”ibda’” dan ”khalq”. Fitrah manusia atau asal kejadiannya diciptakan oleh Allah bebas dari noda dan dosa.

Kedua, fitrah dengan arti kesucian terdapat dalam hadis yang menyebutkan semua bayi terlahir dalam keadaan fitrah (keadaan suci). Dengan arti fitrah ini dalam perspektif Islam, setiap bayi yang lahir tidak dikenal membawa dan menanggung dosa warisan.

Ketiga, fitrah dengan arti agama yang benar (agama Allah/Islam). Arti ini dapat dirujuk dalam surah Ar-Rum; 30. ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Keempat, fitrah dengan arti sunah Nabi Muhammad SAW bahkan lebih umum mengartikan dengan sunah-sunah para nabi. Ini berdasarkan hadis Nabi bahwa ada lima hal termasuk fitrah. Yaitu berkhitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.

Fitrah dalam artian pertama yaitu dengan arti ”asal kejadian” ketika dihubungkan dengan surah Al-A’raf (7) : 172–173. ”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan-keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah telah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Allah berfirman): ”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: ”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar nanti di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. ”Atau agar kamu tidak mengatakan: ”Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan-perbuatan orang yang sesat dahulu?”

Manusia semenjak berada di alam arwah, alam sebelum alam dunia yang hadir ini telah mengakui Allah SWT sebagai Tuhan. ”Alastu birabbikum?” ”Qaaluu: balaa, syahidna.”

Dengan demikian, manusia dilahirkan bukan seperti kertas kosong melompong. Akan tetapi, dalam jiwa bersih itu ada fundamen rasa ketahui dan mengesakan Allah. Tauhid yang dimaknai komitmen manusia kepada Allah sebagai fokus keseluruhan rasa hormat dan rasa syukur yang tak terhingga.

Dengan begitu, berarti Allah telah menyiapkan bani Adam sebagai khalifah agar selalu bergantung kepada Allah dengan senantiasa melewati rel dan memperhatikan ketentuan-Nya. Bukan bergantung kepada suatu akidah produk orang-orang jahiliah modern yang cenderung destruktif dan menyalahi fitrah kemanusiaan sehingga mereka tersesat dan menyesatkan.

Sebuah hadis qudsi dalam Shahih Muslim dari riwayat Iyadh bin Hummar Nabi SAW bersabda: ”Berkata Allah: ’Aku telah menjadikan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) maka datanglah setan-setan yang membelokkan dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka”.

Menjadikan keimanan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya sumber nilai adalah perjuangan yang tidak pernah selesai. Godaan dan cobaan datang silih berganti dan luar biasa. Khususnya dalam era teknologi dan informasi saat ini.

Pendidikan secara operasional mengandung dua aspek, yaitu aspek menjaga atau memperbaiki dan aspek menumbuhkan atau membina. Orang tua yang mendominasi waktu bagi anak mengemban tanggung jawab pertama. Orang tua harus memberikan teladan yang baik dengan mengajarkan dan mencontohkan nilai luhur dalam tahapan membentuk karakter anak.

Orang tua dituntut menumbuhkembangkan nilai-nilai keimanan, syariat, dan akhlak anak. Anak-anak dapat melaksanakan salat dengan rajin dan baik, hanya orang tua yang tahu benar. Orang tua mutlak melaksanakan pengawasan secara efektif dan efisien terhadap anak-anak agar tidak merugi.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki tanggung jawab memperbaiki dan menumbuhkan nilai-nilai religius anak. Guru pemegang materi pendidikan agama otomatis secara langsung dapat mengimplementasikan hal tersebut. Guru pemegang materi umum hendaknya pandai-pandai memasukkan dan mengaitkan nilai-nilai religius dalam proses belajar mengajar.

Contoh dalam mengajar materi matematika. Satu plus satu sama dengan dua. Ketika anak-anak besok menjadi pedagang, janganlah satu plus satu tetap satu karena menjual barangnya. Atau satu plus satu menjadi tiga karena demi untung dalam pembelian tetapi merugikan orang lain. Jujurlah! Dan banyak contoh lain.

Rasulullah bersabda: ”Siapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan pengharapan akan diampunkan segala dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nilai-nilai puasa Ramadan sangat urgen dalam pendidikan umat manusia agar ke depan mereka dapat menempuh perjalanan hidup yang penuh dengan liku-liku.

Puasa Ramadan melejitkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Puasa mendidik kesabaran, kejujuran, sikap disiplin diri, dan menjadikannya segala amaliah keseharian kita sebagai ibadah kepada Allah SWT. Itulah arti kembali kepada fitrah asal kejadian. Yaitu, dekat dengan Allah SWT. Semoga!

*)Khadim Pesantren Al-Istikmal Cangkreng, Lenteng, Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia