Jumat, 26 Apr 2019
radarmadura
icon featured
Pamanggi
SUARA SANTRI

Puasa: Sebuah Momen Kebersamaan

oleh Matroni Musèrang*

22 Mei 2018, 00: 39: 30 WIB | editor : Abdul Basri

Puasa: Sebuah Momen Kebersamaan

aku sambut dengan harakah

aku lantunkan huruf-huruf semesta

cakrawala malam berhias gemintang

jiwa-jiwa gemetar

lantaran bulan ini hadir

untuk menyapa jiwa yang gersang

semoga kita mampu berenang

di bulan samudera senang

bersama benang yang dikenang

PUISI selalu mampu menyampaikan apa yang dikatakan imajinasi. Kata-katanya lembut dan santun. Seperti puasa yang sedang kita jalani. Ia hadir membawa kebaikan-kebaikan dan pengampunan sehingga jiwa-jiwa hamba terenyuh lantaran kesejukan puasa yang hadir di bulan kita. Bulan yang diperuntukkan bagi semua umat Islam. Namun, puasa tahun ini dibuka dengan kejadian memalukan di Surabaya.

Puasa kali ini berbeda dengan puasa tahun-tahun kemarin. Puasa kali ini disuguhkan dengan bom bunuh diri di Surabaya. Bagi umat Islam, bom tidak menjadikan puasa hilang ditelan propaganda dan cacian. Sebab, ia akan mengotori kertas puasa yang putih.

Karena itu, puasa merupakan momen kebersamaan. Kebersamaan dengan keluarga dan tetangga. Bahkan kebersamaan dengan Allah. Setiap selesai salat lima waktu selalu dihiasi lantunan bacaan Alquran. Setiap malam dan siang cakrawala ramai dengan huruf-huruf semesta.

Kita akan berpikir ketika hendak bepergian ke suatu tempat. Setelah aku sampai di sana, aku akan mudah mendapatkan kebaikan dan kemaslahatan. Begitu pun dengan puasa. Puasa sebenarnya sebuah tempat kita bertempat tinggal bersama di perkampungan Tuhan. Maka, wajar jika setan dipenjara.

Siapa yang mampu memenjarakan setan? Tentu nilai-nilai dan makna puasa kita. Nilai-nilai puasa, salah satunya, kita menyadari betul bahwa tubuh ini tidak ada apa-apanya. Tubuh hanya sebuah bungkus. Sejatinya adalah nilai-nilai.

Bungkus bisa saja diperindah dan dipercantik dengan usapan bedak dan kostum yang kini beredar di pasar, grup WA, dan FB yang menawarkan berbagai macam bungkus. Hakikatnya, puasa bukanlah bungkus yang bisa dibeli di pasar, mal, dan swalayan. Tetapi, apa yang ada di balik bungkus (immateri/metafisika) yaitu moral/etika.

Nilai puasa di balik kerepotan ibu-ibu di dapur dan ramainya pembicaraan tentang baju di teras rumah membutuhkan refleksivitas kritis dari seorang hamba yang berpuasa. Pernak-pernik puasa di tepian jalan dan media sosial seolah-olah kita tidak sempat berpikir tentang makna puasa. Sebab, yang menjadi pembicaraan ”nanti buka apa”, ”buka di mana”, pasar, pantai, dan kafe menjadi pelarian. Padahal ”ingin ini”, ”ingin itu”, pada hakikatnya lapar.

Apakah puasa hanya lapar, haus, capek, dan lelah? Tidak. Puasa merupakan sebuah refleksivitas sosial. Sebab, pada bulan puasa dibuka lebar pintu kebaikan. Akankah kita melewatkan pintu kebaikan ditutup dengan tirai penyesalan?

Puasa untuk meningkatkan kualitas sosial. Meskipun kita dikatakan Allah bahwa ”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (Q.S Al-Isra’;70). Apakah dengan serta merta kita sebagai anak Adam mulia di hadapan manusia dan Tuhan? Tidak semudah itu. Tuhan menciptakan syariat-syariat yang harus dilakukan hambanya. Salah satunya adalah puasa.

Artinya, membutuhkan perjuangan (jihad) untuk menjadi manusia yang dimuliakan Tuhan. Perjuangan di sini harus melewati jembatan syariat. Bukan lantas ngebom dianggap jihad. Itu salah besar, bahkan dosa besar.

Puasa sebagai bagian syariat tentu tidak mudah menjalankan. Dibutuhkan pemahaman mendalam. Bahwa puasa benar-benar diwajibkan agar tidak sekadar formalitas tahunan. Momen kebersamaan ini harus dimaknai spiritual. Bagaimanapun puasa pada dasarnya spiritual. Kita puasa untuk memenuhi perintah Tuhan. Momen seperti inilah yang harus selalu menjadi keseharian dalam berpuasa.

Keseharian selalu dipenuhi zikir dan pikir agar kita tidak masuk dalam sabda Nabi Muhammad, bahwa banyak orang yang berpuasa, tapi hanya mendapatkan haus dan lapar. Sabda ini mengandung makna yang dalam. Buat apa puasa, jika hati dan pikiran kita belum puasa? Hati dan pikiran juga harus berpuasa. Kalau puasa mulut dan perut tentu haus dan lapar.

Puasa pikir dan spiritual merupakan puasa yang memberikan gizi teo-ontologis. Pikiran tidak lepas berpikir tentang makna puasa. Sementara hati selalu dihiasi dengan bacaan-bacaan Ilahi (Alquran). Sehingga ketika puasa selesai, jiwa dan pikiran kita benar-benar meraih kemenangan hakiki.

Kita mengemban tugas Tuhan. Puasa yang ditugaskan kepada kita tentu harus dijaga dan dilestarikan agar tugas itu tidak mati ditelan zaman dan waktu yang pelan-pelan hilang lantaran ulah kita. Kebersamaan ini menjadi penting untuk menjaga moral sosial-religius.

Kita bisa terbang dengan sayap derajat sosial-religius. Sementara burung akan terbang dengan sayapnya. Maka, sayap sosial-religius yang akan mengantarkan kita pada kedalaman puasa yang kita jalani.

Momen puasa kali ini merupakan ruang bagi kita untuk membangun hubungan baik dengan manusia. Di bulan ini pula Alquran diturunkan. Betapa mulia bulan ini. Jangan-jangan lebih mulia bulan puasa daripada manusianya?

Untuk berdamai dengan alam, tentu kita harus berdamai dengan manusia. Untuk berdamai dengan manusia, tentu kita harus berdamai dengan Tuhan. Untuk berdamai dengan Tuhan, tentu kita harus berdamai dengan manusia dan alam. 

*Santri Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur yang dosen di STKIP PGRI Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia