Kamis, 13 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Pamanggi
SUARA SANTRI

Kembali ke Pondok saat Libur, Siapa Takut?

Oleh: Ahmad Muhli Junaidi*

19 Mei 2018, 14: 59: 22 WIB | editor : Abdul Basri

Kembali ke Pondok saat Libur, Siapa Takut?

LIBUR Ramadan agar santri berkonsentrasi berpuasa dan menjalin silaturahmi. Pesantren menawarkan program bagi santri agar segera kembali. Kembali ke pondok menambah sehat badan dan batin.

Hampir semua pesantren di Madura, bahkan di seluruh Indonesia, meliburkan santrinya akhir Syakban. Libur dalam rangka Ramadan agar seluruh santri dapat berkonsentrasi berpuasa dan menjalin silaturahmi di rumah masing-masing. Juga, agar mereka dapat istirahat selama lebih satu bulan dari ketegangan membuncah selama sebelas bulan di pondok. Bila mereka kembali ke pondok awal Syawal, pikiran, jiwa, dan hati mereka kembali segar. Siap menerima pembelajaran di pondok yang disiplin dan keras.

Agar tujuan liburan dari pesantren tercapai dengan baik, santri harus diproteksi. Proteksi itu, bila penulis merujuk pada terminologi sosiologi, dapat dilakukan oleh lembaga sosial (social institution) yang biasa disebut dengan istilah pranata sosial. Sebagaimana mengacu pada pendapat Harry M. Johnson, yaitu lembaga keluarga, lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, lembaga agama, lembaga politik, lembaga hukum, lembaga budaya, dan lembaga kesehatan.

Bila delapan lembaga ini berfungsi dengan baik, proteksi santri dan imunitasnya akan berjalan sempurna. Dan bentuk-bentuk penyimpangan perilaku sosial mereka akan tereduksi sehingga ekses-ekses negatif bisa diminimalkan dari dunia santri.

Keluarga Fondasi Utama

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Pengendali utama terdiri dari ayah dan ibu. Lembaga ini merupakan institusi awal ketika dilahirkan. Kita diajari mengenal sesuatu yang menjadi pijakan utama lebih lanjut dari cara mengenal baca huruf, hitung, hewan-hewan, berbagai jenis tumbuhan, sampai kepada pengenalan terhadap Tuhannya.

Sebagai fondasi utama pembentukan karakter seseorang, keluarga dijadikan tolok ukur keberhasilan seorang anak. Keluarga dijadikan stressing utama oleh Rasulullah SAW dalam pendidikan berperilaku. Sebagaimana ungkapan beliau; anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Anak akan menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi sangat tergantung pada didikan kedua orang tuanya.

Karakter utama pendidikan Rasulullah SAW dalam membina keluarga yang baik adalah unsur akidah diletakkan sebagai dasar utama dalam mengatasi segala problematika kehidupan. Dengan unsur akidah yang baik, anak tidak akan bertindak macam-macam, baik di waktu ada orang maupun tidak ada orang. Sebab kita merasa diawasi Tuhan.

Saat ini, para santri berada dalam naungan institusi keluarganya lagi. Secara teori, santri telah hafal dengan baik rukun iman, sifat-sifat Allah, aliran-aliran akidah dalam Islam, dan lain-lain. Tugas orang tua mengejawantahkan pengalaman kemampuan teoritis tersebut dalam wujud nyata. Yaitu pengalaman terkait dengan ibadah ubudiah, perilaku sosial di tengah masyarakat, baik perilaku dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Sebab akidah tak bisa lepas dari syariah itu sendiri.

Dorong Santri Segera Kembali

Pesantren selalu menawarkan program bagi santri yang berlibur untuk segera kembali ke pondok. Lebih-lebih di bulan Ramadan. Program tersebut merupakan manifestasi lembaga pendidikan yang mempersiapkan anggota masyarakat dalam mencari nafkah. Kemudian mengembangkan bakat pribadi seorang anak. Lalu, melestarikan kebudayaan bangsa. Selain itu, pesantren menanamkan keterampilan individu. Pesantren juga menjamin integritas sosial dan sumber inovasi sosial.

Pesantren yang comfortable mempunyai segala hal ini. Kembali ke pesantren selama libur Ramadan akan mengasah keterampilan-keterampilan di atas. Institusi pendidikan pondok pesantren mempunyai keterkaitan yang amat lekat dengan lembaga ekonomi dan lembaga agama. Kembali ke pondok adalah cara terbaik untuk menanamkan kemandirian.

Ciri ini merupakan kekuatan ekonomi terbaik. Santri yang terbiasa mandiri akan mempunyai kekuatan andal dalam mencari nafkah kelak. Jangka panjangnya, kemandirian akan membuat negara dan bangsa selalu disegani.

Kembali ke pondok selama Ramadan dengan sendirinya juga akan mengukuhkan lembaga agama sebagai solusi terbaik dalam menyingkap permasalahan. Pesantren sebagai lembaga agama tidak hanya berhasil menyiapkan peserta didik dengan kemampuaan agama yang sangat baik. Tetapi juga telah berhasil menyiapkan kemampuan lain dengan baik pula. Inilah roh pesantren.

Kemampuan-kemampuan dalam politik, hukum, budaya, dan kesehatan, lebih-lebih kesehatan batin, sangat melekat dalam pondok pesantren. Inilah yang disebut kemampuan integral yang ditanamkan pesantren sejak sekian abad silam.

Mungkin kembali ke pondok selama liburan tidak secara nyata mempunyai keahlian dalam ilmu politik sebagaimana mahasiswa jurusan FISIP. Namun jika santri dapat mengaji kitab karya ulama besar mazhab Syafi’ie Imam Al-Mawardi selama liburan, maka akan tahu bagaimana politik dalam Islam itu berfungsi.

Kembali ke pondok akan menanamkan kepekaan dalam masalah hukum, baik hukum positif bernegara, lebih-lebih hukum syariah. Kembali ke pondok juga akan selalu melestarikan budaya. Lebih-lebih budaya santri yang andhap ashor. Demikian pula, kembali ke pondok akan menambah sehat badan dan batin. Sebab kesehatan dhahir dan batin sangat diperhatikan di seluruh pondok di nusantara ini. Wallahu a’lam. 

*)Santri Annuqayah Daerah Nirmala era 1990-an. Saat ini tetap mengabdi di Annuqayah sebagai tenaga pendidik.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia