Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Madura sebagai Lumbung Khazanah Lokal (Tafsir Kosmologis)

ZAITUR RAHEM*

Minggu, 29 Apr 2018 18:58 | editor : Abdul Basri

Madura sebagai Lumbung Khazanah Lokal (Tafsir Kosmologis)

KOSMOLOGI dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai cabang keilmuan yang membidik tentang bumi. Ada juga yang memaknai dengan cabang ilmu astronomi yang menjelaskan tentang alam semesta. Kosmologi menjadi satu kajian yang pada abad pertengahan juga menjadi bidikan para ilmuwan muslim. Salah satu ilmuwan itu adalah Ibnu Zina. Ibnu Zina memasukkan cabang ilmu bumi kepada ulasan kitabnya yang berjudul, Al-Syifa (Amsal Bahtiar, 2015). Atas pertimbangan ilmiah, maka kosmologi dalam tulisan ini saya maknai dengan kajian keilmuan yang menjelaskan tentang alam.

’Kosmologi Madura’, berarti sudut pandang keilmuan yang melihat alam Madura dengan segala potensi-potensinya; menganalisis, mengkaji, lalu mengekspresikan dalam wujud aksi kehidupan. Madura ditempa oleh kekuatan alam. Jauh sebelum akulturasi dan asimilasi yang menjemput masyarakat Madura saat ini, kekuatan alam mendominasi miniatur kemaduraan. Natural (alam) menjadi lingkaran kultural (kebudayaan). Alam madura, terutama tanah yang melingkupi didominasi jenis lahan kering. Sehingga, tak heran jika terbangun stereotip manusia madura celleng seddha’ (hitam manis). Dengan kondisi lahan persawahan yang kering, muncul juga gambaran tentang manusia Madura, petthel atau gali (keras dan tahan banting). Gambaran sosok manusia Madura ini terus berkembang kepada penggambaran kejiwaan, manusia Madura itu tegas (idiotipe manusia Madura).

Dari sisi hasil bumi, masyarakat Madura dimanja dengan dedaunan dan biji-bijian. Seperti jagung, tumbuhan jenis kacang-kacangan, dan padi di sebagian lahan persawahan. Meski tergolong lahan kering, namun pada sebagian lahan ada kawasan yang memiliki kandungan air cukup. Sebagai sampel, di kabupaten Sumenep daerah perbukitan yang memiliki kandungan air besar adalah Kecamatan Guluk-Guluk, tepatnya di Desa Payudan Daleman, Tambuko, Karangsokon, dan Bragung. Selain itu, ada juga di dataran rendah, seperti Kecamatan Pragaan, Kecamatan Gapura, dan Kecamatan Kota Sumenep. Kekayaan hasil bumi ini menjadikan komunitas Madura merasa tenang dan tak pernah terganggu ancaman kelaparan.

Hidup di Madura, beban hidupnya sangat ringan. Pendapatan di bawah seratus ribu rupiah per hari sudah tergolong sangat besar. Petani, kuli di pedalaman Madura upah kerja hanya 30 ribu sabeddhuk (setengah hari). Kuli kerja ini meliputi, ngala’ raowan (membersihkan rerumputan di lahan sawah), nyongkol buja, agaluy lolo, manjak, nabur oretan padhi, angko’an calatthong, ngala’ polongan cabbi, dan metthel betoh. Pendapatan yang relatif rendah ini tak membuat masyarakat Madura kekurangan. Karena dalam praktik kehidupan kemasyarakatan, kebutuhan hidup bisa didapatkan dengan mudah dari hasil alam. Uang bukan jaminan seseorang itu senang. Terbukti, masyarakat di pedalaman Madura sangat terbatas yang memiliki tabungan berlimpah dalam bentuk uang di bank.

Waktu terus bergerak, peradaban terus menggiring masyarakat berjuluk tana sakera ini menjemput masa peralihannya. Setelah islamisasi diterima warga Madura sekitar abad ke-11 M. Hal ini dikaitkan dengan masa islamisasi yang juga menjangkau sejumlah kerajaan tanah jawa, termasuk kerajaan di kawasan Jawa Timur. Maka sejak saat itu, kebudayaan yang ada mulai bermetamorfosa menjadi sesuatu yang lebih beraura (nur). Masyarakat sangat kuat dan loyal menjaga ajaran kebudayaan serta agama yang diyakini. Agama mengajarkan tentang akhlak al karimah, sedangkan budaya menitahkan andhap asor -moralitas etika- Ajaran agama dan percikan budaya dalam kosmos Madura berjalan seiring. Sehingga, jejak kebudayaan sarat nilai agama dan kehidupan mudah ditemukan di kawasan Madura.

Khazanah kebudayaan dan perilaku masyarakat beragama di Madura ini bisa ditemukan dalam dua bentuk (domain); pertama jejak material. Bisa berupa tempat beraktivitas, melakukan ritual (ibadah), dan peninggalan-peninggalan adiluhung tetua (Bangaseppo, Madura) Madura. Jejak material sebagai artefak penting komunitas Madura ini di antaranya: Congkop (lembaga bergengsi pada masa awal islamisasi), langgar (tempat berkumpul, lembaga belajar mengajar, tempat suci), togur (gazebo, tempat istirahat, tempat santai, dan nongkrong), ebbu’ (tempat transit, letaknya) di pinggir jalan strategis desa. Terbuat dari  dahan pohon atau bambu, berbentuk segi empat panjang).

Kedua, ornamen jazadi/manusia Madura. Menemukan identitas khas orang Madura sangat mudah. Jejak-jejak khazanah keislaman tampak dari sikap masyarakat Madura dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Di antaranya, masyarakat Madura bertipologi dermawan. Kebiasaan masyarakat Madura, menjamu tamu dengan istimewa. Mereka akan memberikan teh dan nasi kepada tamu yang datang. Kesantunan dalam menjamu tamu ini percikan nilai moral yang mereka dapatkan dari agama mereka; bahwa menghormati tamu menjadi tanda dari kesempurnaan iman seseorang.

Makanan khas orang Madura adalah nasi jagung, lauk maronggi, dan sambal buja cabbi. Menu mentah makanan ini mudah didapatkan di alam sekitar. Bahkan, setiap kepala keluarga memang menanam bahan makanan di halaman rumah atau persawahan mereka. Masyarakat Madura kaya akan makanan. Sejumlah makanan bisa didapatkan dengan mudah di lahan-lahan persawahan mereka. Makanan yang biasa mudah didapatkan serupa singkong )tenggang/sabbrang, Madura(. Dan, masih banyak lagi sisi keilmuan yang bisa dilacak dari kawasan Madura. Wallahu a’lam.

*Dosen Instika Sumenep. Tulisan ini diolah dari artikel yang sudah dipresentasikan dalam 2nd Annual Conference for Muslim Scholars; Strengthening The Moderate Vision of Indonesian Islam, Kopertais IV Surabaya, Surabaya 21-22 April 2018.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia