Senin, 10 Dec 2018
radarmadura
 
icon featured
Esai
Mengenang Ibu Kita, Kartini

Surat Kecil untuk Perempuan

Oleh: Ina Herdiyana*

Minggu, 22 Apr 2018 15:54 | editor : Abdul Basri

Surat Kecil untuk Perempuan

”Tubuh bisa hancur ditelan tanah atau dibakar di atas kayu bakar, tapi pikiran tidak ada batas waktunya.” (Kartono dalam film Kartini, 2017)

Selamat pagi April

wajahmu wajah gempita

dengan jarit berselendang kebaya

kenangkanlah, hari ini

Kartini

bakti untuk nusa

bakti untuk bangsa

lalu, siapa selanjutnya

kita!

TANGGAL 21 April 2018. Sejarah mengajak kita menyibak masa. Masa ketika seorang perempuan pembawa pelita itu dilahirkan ke dunia. Mata indah itu bernama Kartini. Penggubah aksara. Penegak strata. Penggerak emansipasi. Pengubah hegemoni. Harum namanya. Kenangkanlah ia seperti huruf-huruf terus tumbuh pada urat-urat nadi zaman.

Perjuangan dan pemikiran Kartini menitikberatkan pada kesempatan atau hak kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang setara dengan kaum laki-laki. Saat itu perempuan terkungkung kekuasaan. Tidak bisa menyuarakan pendapat. Tunduk pada aturan yang mengikat. Bahkan, banyak di antara mereka menjadi korban patriarki, poligami.

Atas perjuangan Kartini, kita menjadi perempuan terdidik. Belajar sebagimana yang diperoleh laki-laki. Bekerja sebagaimana pekerjaan laki-laki. Tidak jarang di antara perempuan masa kini menjadi pemimpin suatu perusahaan, atau suatu daerah, atau wali kota.

Itu semua adalah suatu bukti emansipasi berada di genggaman kita. Buah manis perjuangan ibu kita, Kartini, telah kita nikmati bersama. Jadikanlah ia fondasi untuk membangun impian-impian gemilang. Genggam erat amanahnya. Kepalkan tangan, satukan niat. Berjuanglah mulai dari diri sendiri.

Sebab, pada zaman milenial ini, untuk melawan ketidakadilan percuma dengan aksi atau buah bibir yang hanya merusak saraf pendengaran. Melawan dapat kita tunjukkan melalui kekuatan aksara. Mari membaca atas kejadian-kejadian di balik kajadian. Mari jadikan ilmu sebagai benteng diri.

Emansipasi bukan satu-satunya payung kebebasan. Kebebasan tak selamanya membawa kita ke angkasa. Terkadang angin suka menghantam tubuh renta kita pada jurang yang tak terukur kedalamannya. Lalu, kita tersungkur. Lalu terluka. Lalu gulita. Penyesalan pun tiba.

Emansipasi adalah kesadaran. Jadikan ia sebagai rasa eman dan spasi. Eman ialah kita harus bisa melindungi diri sendiri, baik melalui tutur kata, sopan santun, tingkah laku, maupun kepedulian terhadap sesama. Jika kreativitas kita ditunjukkan dengan rasa eman, pesona hidup itu akan berjalan beriringan.

Pada zaman milenial ini, perempuan harus menciptakan spasi. Membangun jarak dengan ruang kebebasan yang tanpa batas. Silakan berekspresi, berpendapat, bergaul, berdandan, dan lain sebagainya.  Namun, janganlah kita terlena pada euforia kebebasan.

Kita harus pandai memilah dan memilih. Kita harus rajin membaca yang tersirat, bukan hanya yang tersurat. Seperti parebasan Madura, kennengnge kennengnganna, lakone kalakowanna.

Sepandai-pandai kita membentengi diri dengan ilmu, ada satu hal yang tidak kita dapatkan dari buku yang kita baca. Tetapi, ia tumbuh dan melekat di dalam jiwa. Kita yang mampu menemukan dan merasakannya.

Apabila tidak bisa menjaganya, gugurlah segala kemampuan kita sebagai perempuan. Apa itu? Bakti. Bakti adalah azimat perempuan. Kita harus berbakti kepada siapa pun. Orang tua, suami, dan orang-orang di sekitar. Bakti yang akan membawa kita pada jalan penuh arti, tabah, panjang, dan hening kehidupan.

Selamat Hari Kartini…

Selamat berbakti… 

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia