Senin, 10 Dec 2018
radarmadura
 
icon featured
Esai
Catatan di Balik Peluncuran Buku Komala

Ikhtiar Menghidupkan Budaya Literasi Anak

Oleh Eka Findi Setiawan*

Minggu, 08 Apr 2018 08:05 | editor : Abdul Basri

BERSEJARAH: Sastrawan Syaf Anton Wr. mengisi launching dan bincang-bincang buku Komala di GNI Sumenep, Selasa (3/4).

BERSEJARAH: Sastrawan Syaf Anton Wr. mengisi launching dan bincang-bincang buku Komala di GNI Sumenep, Selasa (3/4). (IMAM S. ARIZAL/Radar Madura/JawaPos.com)

SETELAH Tora; Satengkes Carpan Madura yang diinisiasi Jawa Pos Radar Madura diluncurkan (serta beberapa terbitan Rumah Literasi Sumenep), satu lagi buku karya penulis Madura hadir mewarnai dunia literasi di tanah garam. Masih mengambil latar kemaduraan (Sumenep tepatnya), buku Komala diterbitkan.

Buku ini berisi antologi cerita rakyat Sumenep yang ditulis ulang dengan bahasa anak. Bahasa anak? Ya, buku ini adalah kumpulan goresan anak-anak SDN Pangarangan III Sumenep.

Buku yang diterbitkan secara mandiri Selasa (3/4) diluncurkan secara resmi di Gedung Nasional Indonesia, Sumenep. Budayawan KH D. Zawawi Imron turut hadir memeriahkan peluncuran ini sebagai bentuk apresiasi. Sastrawan Syaf Anton Wr bertindak menjadi pembedah. Ratusan guru, wali siswa, dan penggerak literasi di Sumenep ikut menjadi saksi momen berharga ini.

Menurut penggagas, Andilala, yang juga guru kelas IV, ide awal penulisan buku ini adalah murid di kelas yang diampunya mengetahui khazanah kekayaan ragam cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat. Siswa diminta mencari sumber informasi, baik dari literatur, dongeng ataupun sastra lisan yang dipahami orang tua atau kerabat mereka tentang kejadian, tokoh maupun asal usul penamaan sebuah tempat di Sumenep.

Setelah cerita rakyat itu didengar, tentu saja beserta pesan moral di baliknya, peserta didik diminta menuliskan ulang dengan bahasa ala anak. Ini bagian dari ikhtiar mengabadikan ragam cerita baik yang beredar di tengah khalayak. Generasi sekarang, juga mendatang, diharapkan masih bisa memahami sastra lisan ini melalui karya yang dituliskan. Terdapat 12 cerita rakyat yang disuguhkan dalam buku ini.

Cerita tentang penamaan sebuah dusun di Kalianget yang tersohor sebagai Lisun menjadi pembuka buku ini. Agatha Neysha Anindiar bercerita tentang pemuda keturunan Cina, Lie Soen. Dahulu memulai usaha perkebunan dan perdagangan kelapa di Kalianget yang notebene merupakan sentra produksi garam. Keuletannya dalam berbisnis dan serta keguyubannya dengan warga setempat menjadikan Lie Soen diterima sebagai pendatang dan berlatar etnis minoritas.

Asal usul penamaan Somber Bantong (masih oleh Agatha Neysha Anindiar), Asal Usul Pulau Gili Raja (Zohratus Syifa), Asal Usul Sapeken (Nayla Tsabita F.D.), Gua Enoman (Zumaira Royan) menjadi kisah berikutnya yang diceritakan mengalir khas anak-anak. Ada pula yang mengangkat Kesaktian Jokotole (Raihan Maulana F.) dan keluhuran ilmu Kiai Barambang (Fathir Rahman A.).

Sang guru, Andilala, juga menyumbang beberapa tulisan dalam buku ini (To Cenneng, Kaleter, Kaleter dan Dua Belas Bidadari, serta Asal Mula Somber Kacceng, Tragedi Beraji). Tak ketinggalan, pembina bahasa dan sastra Indonesia di sekolah rujukan ini, Enda Muharromah urun tulisan mengangkat Othok-Othok Petthe.

Ikhtiar menghidupkan dunia literasi, khususnya usia kanak-kanak, patut diapresiasi. Keseluruhan cerita dalam buku ini menunjukkan tradisi menulis (dan membaca) di era gawai dan teknologi informasi belum (akan) punah. Semacam oase di tengah kekhawatiran yang membuncah terhadap tradisi literasi tatkala mayoritas anak kiwari seakan lebih lengket dengan aneka permainan dan fitur lainnya di gawai yang diasupkan orang tua.

Ada hal menarik lainnya dari buku ini. Di beberapa tulisan, pengambilan angle (sudut pandang) cerita, juga gaya bahasa yang ditampilkan membuat saya terkagum. Diksi, juga alur bertutur, tidak tampak sebagai buah tangan siswa usia 10 tahunan. Kemampuan memetik hikmah di balik sebuah cerita tentu juga membutuhkan pengendapan tersendiri. Dan harus saya katakan, anak-anak ini mampu menyajikan dengan baik. Pembaca seakan diajak masuk dalam penggambaran cerita yang hidup di masa silam itu.

Sekali lagi, buku ini sungguh menyegarkan. Rasa bangga dan bahagia membuncah menikmati suguhan jari jemari kecil ini. Dari ujung timur Pulau Garam (sebagai salah satu barometer sastra Madura), penerbitan buku antologi cerita rakyat ini memberi pesan penting bagi Madura, pun Indonesia.

Bahwa masa depan negeri ini masih akan cerah dengan penumbuhan budaya literasi yang kuat sejak masa kanak. Kerja kebudayaan berdimensi jangka panjang yang berat ini harus dikeroyok bersama semua pihak: orang tua, sekolah, pemerintah, swasta, dan khalayak ramai.

Menulislah terus, anak-anak zaman. Dan berbahagialah. Sebagaimana dipesankan Ali bin Abi Thalib, ”Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang zaman. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” 

*)PNS di Setkab Sumenep, turut menjadi saksi mata peluncuran Komala.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia