Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Kebangkitan Sastra Madura dan Peran Pemerintah

Oleh: Fathorrosi*

Minggu, 01 Apr 2018 19:46 | editor : Abdul Basri

POTENSIAL: Para kontributor buku Tora; Satengkes Carpan Madura foto bersama GM JPRM Moh. Tojjib dan narasumber katerbi’an tor pangajiyan di STKIP PGRI Sumenep, Rabu (21/3).

POTENSIAL: Para kontributor buku Tora; Satengkes Carpan Madura foto bersama GM JPRM Moh. Tojjib dan narasumber katerbi’an tor pangajiyan di STKIP PGRI Sumenep, Rabu (21/3). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/Radar Madura/JawaPos.com)

PERTEMUAN aktivis kepenulisan sastra bahasa Maduradi STKIP PGRI Sumenep(21/3) dalam Peluncuran & Bedah Buku Tora; Satengkes Carpan Madura menjadi tolok ukurbahwa sastra dalam bahasa Madura bangkit dari mati surinya. Ini barangkali tidak lepasdari peran Jawa Pos Radar Madura (JPRM)yang sejak 2015 menyediakan rubrik khusus untuk sastra bahasa Madura.

Banyak pihak yang mengapresiasi kehadiran buku tersebut. Termasuk wakil ketua DPRD Jawa Timur H Ahmad Iskandar. Dia menilai kehadiran buku itu sebagai tanda kebangkitan sastra Madura dari tidur panjangnya.

Peluncuran buku yang dipandu Syaf Anton Wr itu dihadiri D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahman, B. H. Riyanto selaku pemilik lukisan yang dijadikan sampul buku. Termasuk, penulis buku tersebut yang rata-rata masih berjiwa muda. Mereka masih punya jalan panjang untuk terus mengukir kebangkitan sastra Madura secara khusus dan Madura secara umum.

Seperti perkataan D. Zawawi Imron dalam JPRM, Rabu (21/03), bahwa peluncuran buku tersebut merupakan starting point dari kebangkitan sastra Madura. Dia berharap suatu saat nanti sastra Madura tidak hanya berupa cerpen. Tapi, yang lebih panjang. Bisa novel maupun roman.

Jika dilihat dari wadah dan pengayoman pemerintah, bukan hanya apresiasi yang diucapkan. Peran dan pengayoman pemerintah juga diharapkan agar lebih dipertegas. Karena banyak penilaian terhadap pemerintah dengan kurangnya pengayoman mereka terhadap kemajuan sastra Madura. Padahal jika ditelisik, banyak sastrawan yang lahir dari bumi Madura. Namun mereka merasa kurang dipedulikan.

Akibat kurangnya pengayoman pemerintah, kebangkitan sastra Indonesia saja yang lebih maju. Tidak dengan sastra Madura selaku sastra daerahnya. Jadi, jangan salahkan para sastrawan dan penerus jika sastra bahasa Madura mulai punah, terbelenggu, dan mengalami mati suri, jika pemerintahnya masih kurang pengayoman dan terlihat acuh.

Semoga dengan wadah yang diberikan JPRM, kebangkitan sastra bahasa Madura bisa lebih maju dan tidak hanya berhenti hingga saat ini. Sastra Madura terus bersumbangsih, terus mengembangkan, dan menggali para sastrawan Madura, demi kemajuan sastra Madura.

Tak kalah penting, diharapkan pengayoman pemerintah untuk lebih dalam, penuh kesadaran bahwa kebangkitan sastra Madura juga merupakan tonggak kemajuan peradaban Madura dalam hal kebudayaan dan kesenian. Amin. Wallahu a’lam bis-sawab. 

*Ketua Perpustakaan PPA. Lubangsa Selatan,  lulusan Mts. Tarbiyatul Muta’allimin Jadung Dungkek.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia