Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Resensi

Hidayah Sepi Arungi Renungan Malam

Minggu, 25 Mar 2018 22:15 | editor : Abdul Basri

Hidayah Sepi Arungi Renungan Malam

RENUNGAN Malam tak luput memotivasi kehidupan diri sendiri, tapi juga dibangun evaluasi mungkin selama ini terjadi dalam pekerjaan. Seolah-olah dari pagi hingga malam membebani tugas untuk mencoba tantangan tersendiri terhadap setiap yang telah dikerjakan manusia. Jangan mengira keluhan sebagai penentu suatu masalah. Tetapi, bisa diberikan solusi terbaik supaya nanti bisa diperbaiki diri di esok hari. Maka dari itu renungan terus terjaga dan selalu melakukan ibadah yang maksimal.

Buku puisi ini menambah inspirasi untuk menghibur di malam begitu berkah. Dunia yang makin kita jauhi dan liang kubur yang makin kita dekati. Maka Menggaris Sepi bagaikan renungan malam diisi dengan menguji emosi terhadap wajah manusia untuk terus beramal kebaikan.

Tidak hanya sepi pada malam hari, tetapi tetap mengistikamah dalam membuahkan kebaikan. Melalui kumpulan puisi ini disampaikan untuk mencerahkan pedoman hati dan meneguhkan iman yang telah diraih pada masa yang akan datang. Puisi ini dipersembahkan untuk Ibu yang telah dicintai dan diamalkan setiap kebaikan yang dimilikinya. Etika juga merujuk batin dan peragaan suatu ajaran yang telah diberikan akan bermanfaat. Ada beberapa arti dari bait-bait puisi ini senantiasa mendapatkan ujian bagi setiap orang.

Kau terlalu sibuk berbaris/ puluhan pasukan kau siapkan/ Nampan dan permadani klimis/ Demi kedatangan Raja Salman (hlm 94).

Dibuka dengan puisi berjudul Kau Terlalu Sibuk mengisahkan tentang tiap orang punya kesibukan yang berbeda-beda. Secara harfiah kesibukan masing-masing memiliki beban tugas yang harus diselesaikan. Begitu pun di sekolah, menuntut ilmu tak cukup, tetapi melalui tugas harian akan menguji wawasan para peserta didik.

Bekerja untuk menafkahi keluarga juga perlu. Tidak mungkin sehari kerja sehari tidak, terus-menerus akan menghasilkan lembar uang secukupnya untuk memenuhi kebutuhan. Sesibuk apa pun tetap dikerjakan tanpa menunda-nunda. Jangan menumpuk bila dilakukan penundaan maka menghambat hidupmu.

Dengan temaram lampu malam/ kulengkapi pahamku/ kuhabiskan sisi usiaku (hlm 75).

Kuhabiskan tatkala merenungi malam penuh kesepian mendalam. Lengkapi hari yang telah dijalani sehari lalu dituntaskan lagi hingga esok. Semata-mata kerja tidak ada kata libur kecuali bila hendak meninggal dunia.

Target hidup mengubah cobaan yang makin disempurnakan tanpa menindaskan waktu digunakan berfoya-foya. Kekayaan bukan bagian kesombongan tetapi kekayaan membagikan sedekah. Sepi tidak meramaikan suasana tetapi juga mengosongkan pikiran sebaik mungkin. Jangan menanam dendam, ambillah kebaikan.

Wahai kunang-kunang/ tunjukkan cahaya mana yang lebih benderang/ perihal menyanjungmu, aku perlu gelap malam (hlm 117).

Pada Suatu Malam memanfaatkan cahaya bersinar melalui ajaran nabi. Sebelum malam disucikan diri melalui air wudu dan melaksanakan salat Qiyamul Lail menjadi pelengkap ibadah sunah dini hari. Tujuannya tetap maksimal mengawali hari selalu siap untuk menggerak perubahan.

Jangan sampai bangun kesiangan karena begadang. Sebab, malam adalah waktu istirahat bagi manusia. Kecuali memadati deadline, tidak masalah. Intinya, malam memperbanyak doa dan melaksanakan tuntutan nabi.

Jika di sana ada air mata/ Ada tangis ada luka ada jerit/ Di sini sakit di dalam tak dirasa/ Di dekat kita topeng terpasang rapi/ Esoknya ditemui terpasung gengsi (hlm 111).

Terakhir puisi Jangan Lupakan merupakan kejadian yang luar biasa di balik kisah dan kehidupan sehari-hari. Mencintai orang tua selepas anak bekerja menuai harapan anak lebih berbakti daripada ditinggal tanpa sekadar tujuan. Sukses hidupmu dari sekarang.

M. IVAN AULIA ROKHMAN

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia